Berita

Pulang dari Beijing, Mahasiswi Asal Sibolga Dikarantina

FaseBerita.ID – Seorang mahasiswi asal Sibolga dikarantina rumah oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Medan Wilayah Kerja Sibolga. Karantina dilakukan sebagai langkah antisipasi terkait mewabahnya virus corona di Negara Tiongkok.

Warga yang dikarantina rumah itu berinisial T (34), mahasiswi yang berkuliah di Beijing. “T kembali ke tanah air karena ada keluarga yang meninggal dunia,” kata Koordinator KKP Wilayah Kerja Sibolga Edison Gultom.

Mendapat info kepulangan mahasiswi dari China itu, pihak KKP langsung berkoordinasi dengan Dinas KesehatanSibolga guna mengecek kondisi kesehatan T.

Disebutkan, warga tersebut akan dikarantina-rumahkan selama 14 hari. Dan itu sudah diatur dalam Undang-undang Karantina dan Pengawasan Penyebaran virus corona bagi warga yang baru pulang dari China. “Jangan keluar rumah selama 14 hari. Kalaupun ke luar rumah harus pakai masker,” ucapnya.

Tak hanya itu, petugas Dinkes Sibolga juga telah diturunkan dan rutin mengecek kesehatan T selama masa karantina. “Dia ini belum suspek, namun harus kita kontrol dan kita pantau. Kalau memang ada kelainan agar cepat langsung kirim ke rumah sakit, jadi setiap dua hari sekali itu terus dipantau selama 14 hari,” ungkapnya.

Pihaknya juga akan memperketat keamanan dari pelabuhan guna mencegah masuknya virus corona ke Indonesia.

Sementara itu Kadis Kesehatan Sibolga Firmansyah Hulu juga membenarkan adanya warga yang sedang menjalani karantina tersebut. “Karantina sebenarnya dilakukan sejak 4 Februari 2020 lalu dan sampai saat ini kondisi yang bersangkutan dalam keadaan baik,” kata Kadis Kesehatan Firmansyah Hulu, Rabu (12/2).

Menurut Firmansyah, batas pengawasan yang dilakukan Dinas Kesehatan kepada T dan keluarganya sampai tanggal 15 Februari 2020 dan selebihnya sudah bebas dari karantina. “Informasi awalnya kami dapat dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Medan di Sibolga yang menyebutkan ada warga Sibolga baru tiba dari luar negeri tanggal 4 Februari 2020. WNI itu terbang dari Tiongkok tanggal 1 Februari menuju Bangkok, dan dari Bangkok terbang ke Kuala Namu tanggal 2 Februari 2020. Setelah kita mendapat informasi itu, tim kesehatan langsung melakukan pemeriksaan suhu badan dan kondisi kesehatannya,” terang Firman.

Walaupun kondisi kesehatannya (T) baik, kata Firmansyah, proses pengawasan atau karantina wajib dilakukan kepada T dan juga keluarganya sesuai aturan yang berlaku.

“Setiap dua hari sekali selalu kita pantau kondisi kesehatannya dan juga keluarganya, termasuk tadi pagi baru kita periksa. Selama karantina, T dilarang ke luar rumah dan wajib memakai masker sesuai prosedur yang berlaku demi menjaga kesehatan yang bersangkutan dan keluarga,” jelas Firmansyah.

Kadis juga meminta agar jangan ada penyampaian informasi yang salah kepada masyarakat tentang karantina dan virus corona.

“Kami juga meminta kepada rekan-rekan media untuk memberikan informasi yang benar dan sejuk kepada masyarakat. Karena yang bersangkutan sudah terlebih dahulu melewati pengawasan ketat dari tim kesehatan Bandara Kuala Namu, makanya diizinkan pulang ke Sibolga. Dan sesuai aturan, pengawasan wajib dilakukan kepada yang bersangkutan dan keluarganya,” tandasnya.

83 Orang Karantina Rumah

Sebelumnya 83 warga, terdiri dari 45 warga negara asing (WNA) dan 38 warga negara Indonesia (WNI), dikarantina rumah di beberapa daerah di Sumatera Utara, selama 14 hari ke depan. Ke-83 orang tersebut dikarantina rumah sekaligus dipantau oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut bersama Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), karena baru pulang dari negara terjangkit virus corona (nCoV).

“Kendati dikarantina, ke-83 orang ini kondisi kesehatannya baik. Hanya saja, dianggap perlu diamati karena baru pulang dari negara terjangkit virus. Kenapa karantinanya di rumah, bukan di rumah sakit? Ya karena mereka tidak sakit,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Sumut, dr Alwi Mujahit Hasibuan, kepada wartawan, Selasa (11/2).

Sebelum diizinkan masuk ke Sumut, sambung Alwi, ke-83 orang itu telah membuat perjanjian untuk diam di rumah selama 14 hari. Bila terjadi apa-apa, maka secepat mungkin harus segera melapor ke Dinas Kesehatan. “Tapi kita juga akan terus ikuti perkembangannya. Jadi sewaktu-waktu akan dilakukan kunjungan berkala dan sifatnya juga mendadak,” tegasnya.

Disinggung mengenai identitas ke-83 orang yang menjalani karantina rumah ini, Alwi enggan membeberkannya. Ia mengatakan, hal ini dilakukan untuk kepentingan masyarakat secara luas atas isu virus corona. “Kasihan masyarakat menjadi stres karena isu virus corona ini,” tandasnya.

Di Medan, 16 Orang Diawasi

Sementara itu, 16 orang diawasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Medan terkait antisipasi virus corona. Di antaranya, tiga tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok yang baru tiba di Medan beberapa hari. Turut diawasi 13 WNI, karena mereka juga baru pulang dari China.

“Pengawasan terhadap 3 TKA asal Tiongkok dan 13 WNI tersebut berdasarkan data dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Medan. Namun, ke-16 orang itu bukan datang dari Wuhan. Tetapi dari daerah lain di China. Setelah kita mendapat data 16 orang yang baru berkunjung dari China tersebut, kita menurunkan petugas surveilans untuk melakukan pengamatan penyakit-penyakit yang terkait dengan virus korona,” ujar Kepala Dinkes Medan dr Edwin Effendi, di kantornya, Selasa (11/2).

Menurut Edwin, pengawasan khusus terkait kondisi kesehatan selama 14 hari. Jadi bukan karantina rumah. “Perlakuan pengawasan yang dilakukan terhadap mereka sama. Tidak ada yang dibedakan dalam hal pelayanan pengamatan kesehatannya. Kita harapkan mereka dapat kooperatif, karena hal ini tak lain untuk kepentingan mereka juga,” ungkapnya.

Walaupun sifatnya observasi rumah, menurut Edwin, jika ada keluhan-keluhan kesehatan seperti demam, batuk, flu, pilek, atau sesak nafas, diminta segera melaporkan kepada petugas kesehatan untuk dilakukan penanganan.

“Mereka datang ke Medan tidak sekaligus. Ada yang baru datang beberapa hari belakangan, dan ada juga beberapa hari sebelumnya. Misalnya, datang 3 orang, lalu 6 orang dan seterusnya,” tutur mantan Dirut RSUD dr Pirngadi Medan ini.

Edwin mengaku, 3 TKA Tiongkok dan 13 WNI tersebut tersebar hampir di seluruh kecamatan atau wilayah yang ada di Medan. Seperti kawasan Medan Utara, Medan Timur, dan sebagainya. “Semua rata-rata usia dewasa. Mereka ada yang datang dari bandara, dan ada juga dari pelabuhan masuknya. Kalau jelas positif terinfeksi virus korona, maka langsung diisolasi ke rumah sakit. Namun, sejauh ini kondisinya dalam keadaan sehat dan terkendali,” papar Edwin.

Ia menambahkan, untuk 13 WNI yang pergi ke Tiongkok tujuannya berbeda-beda. Ada yang mahasiswa, berwisata, dan lain sebagainya. “(Dari 13 WNI) ada yang satu keluarga, tetapi hanya 2 orang terdiri ibu dan ayah,” tandas Edwin.

5 TKA Diisolasi di Karo

Sebelumnya 5 TKA Tiongkok yang baru saja pulang dari negaranya pada 3 Februari 2020, melaporkan diri untuk menjalani isolasi mandiri sejak 4 Februari 2020. Kelimanya menjalani isolasi di barak pekerja PT AHE, di Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo.

Kepala Dinkes Sumut, dr Alwi Mujahit Hasibuan mengatakan, pihak Dinkes Karo terus melakukan pemantauan terhadap kelimanya. Kini, para TKA Tiongkok tersebut masih dalam proses isolasi selama 14 hari.

“Selama 14 hari, mereka tidak boleh ke mana-mana (diisolasi) atau dikarantina di dalam rumah. Kelima TKA asal China yang di Karo itu merupakan orang dalam kategori pemantauan, bukan dengan suspect. Apabila suspect, maka langsung diisolasi sejak dari bandara atau pelabuhan,” ujar Alwi saat memberikan keterangan pers di kantornya, Senin (10/2) sore.

Disebutkan Alwi, baik di bandara maupun pelabuhan, setiap kedatangan dari luar negeri maka harus melalui proses pemeriksaan kesehatan. Selain itu, juga pendataan pihak Imigrasi dengan mengisi Kartu Kewaspadaan.

Artinya, semua orang dari luar negeri yang datang ke Sumut harus melalui proses tersebut, termasuk juga TKA asal China yang ada di Karo.

“Jadi, dari KKP dikoordinasikan ke Dinkes kabupaten/kota setempat untuk dipantau kondisi kesehatannya dan dipastikan diisolasi selama 14 hari. Apabila selama 14 hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kondisi kesehatan kurang baik maka harus melaporkan kepada petugas kesehatan setempat,” sebut dia.

Alwi menyatakan, WNA yang datang ke Sumut pasti dipilah-pilah, tidak disamakan semuanya. “Mana yang aman, mana yang dalam pemantauan, dan mana yang suspect. Semua WNA tidak disamakan, mereka dipilah-pilah,” cetusnya. (smg/rb/int)

Unefa

Pascasarjana


Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker