Berita

Proyek Pemko Bikin Warga Kesal, Pedagang Merugi

SIANTAR, FaseBerita.ID – Pembangunan proyek akhir tahun yang kini tengah dilakukan Pemko Siantar menuai kritikan dari kalangan masyarakat khususnya pedagang.

Selain di sepanjang jalan terlihat semrawut, pedagang mengaku merugi karena tidak bisa jualan akibat materail bahan bangunan proyek.

Amatan wartawan, akibat proyek tersebut banyak masyarakat yang mengalami kerugian terkhusus pedagang di sekitar pekerjaan proyek.

Salah seorang warga yang membuka warung makan di sekitar proyek mengaku kesal terhadap pemko akibat mengerjakan proyek di akhir tahun.

Sebab, akibat proyek itu, ia mengalami kerugian. Salahsatu penyebabnya adalah jalan di depan usahanya di bongkar.

“Kami kesal dengan pengerjaan proyek ini. Lihat sendiri lah bagaimana orang mau masuk ke dalam. Tak ada jalan. Bekas galian juga masih dibiarkan bertumpuk. Tidak langsung diangkat. Bikin macet dan bau. Kalau terik, sepanjang jalan berdebu,” ujarnya dengan nada sedikit emosi.

Saat ditanya apakah ada sosialisasi dari pemko sebelum dilakukan pembongkaran parit kepada masyarakat, pria itu mengaku tidak ada.

“Saya pribadi tidak ada mendapatkan pemberitahuan dan tiba-tiba saja langsung ada proyek. Kita masyarakat apalah. Para pejabat itulah yang tau apa tujuannya dibuat pembangunan di akhir tahun seperti ini,” ketusnya.

Proyek Kejar Tayang

Ketua LPPM STIE Sultan Agung Robert Tua Siregar PhD juga angkat bicara soal proyek ini. Ia menilai, proyek ini bersifat kejar tayang.

“Artinya pelaksanaan dimulai secara general pada pertengahan November. Hal ini disebabkan oleh administrasi prosesnya tidak mengikuti durasi waktu dari pengesahaan APBD daerah. Dimana menurut amatan saya, prosesnya setelah APBD-P, sehingga proses administrasi lelang yang dimulai Oktober mengakibatkan pengerjaan fisiknya pada pertengahan November. Sehingga apa yang terjadi secara kualitas tidak lagi optimal,” ujarnya.

“Hal ini bisa kita lihat secara nyata pada pengerjaan fisik drainase saat ini yang ada di kota Pematangsiantar. Jika pihak OPD konsisten melakukannya mengacu pada APBD bukan APBD-P, maka hal ini tidak mungkin terjadi seperti saat ini,” tambah Robert.

Ia menambahkan, hal ini bisa berdampak kepada kondisi kenyamanan lalulintas dan kondisi yang sangat caudate terhadap situasi kota ini.

“Ke depan kita berharap pengerjaan khususnya fisik dilakukan secara terencana. Paling tidak mulai Maret sudah bisa dimulai. Dengan demikian masa pengerjaan bisa lebih terencana dan baik,” ujarnya.

Robert juga menegaskan kalau Presiden RI Joko Widodo sudah menegaskan agar pekerjaan proyek pembangunan di daerah jangan lagi dikerjakan di akhir tahun. Karena akan berdampak kepada kualitas pembangunan.

“Dalam pekerjaan ini seolah-olah Pemko Siantar tidak melaksanakan imbauan presiden. Karena seperti yang kita lihat Pemko masih melakukan pekerjaan proyek di akhir tahun,” ujarnya.

Saat disinggung apakah dengan proyek kejar tayang Pemko terkesan untuk menghindari Silva? Menurutnya, hal itu bisa saja benar.

“Pada prinsipnya mereka tidak mengerjakan setelah APBD disahkan. Jika mereka melaksanakan sesuai penetapan APBD, seharusnya Maret setelah examinasi dari kantor Gubernur selesai, mereka sudah bisa memulai prosesnya dan Mei selesai penetapan,” tegasnya. (Mag-04)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button