Berita

Pria Itu Ditemukan Tak Bernyawa, 600 Meter dari Lokasi Kejadian

TAPTENG, FaseBerita.ID – Jaliman Situmeang (65) warga Dusun V Unteholing, Desa Sipakpahi, Kecamatan Kolang, Tapteng, yang sebelumnya dinyatakan hanyut, akhirnya ditemukan, Selasa (29/10/2019) siang. Korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa sekitar 600 meter dari lokasi pertama korban hanyut.

“Benar, korban sudah kita temukan. Lokasinya sekitar 600 meter dari tempat korban pertama kali dinyatakan hanyut,” ujar Kapolsek Kolang Iptu Mhd Taher Lubis, kemarin.

Proses pencarian, kata Taher, selain Polsek Kolang juga melibatkan sejumlah pihak seperti Basarnas, Camat Kolang, Babinsa Koramil Kolang, TNI AL dan puluhan masyarakat.

“Setelah tiga hari pencarian. Alhamdulillah, korban akhirnya berhasil kita temukan. Dan sekarang akan kita bawa untuk dilakukan visum dan kemudian kita serahkan kepada pihak keluarga,” ungkapnya.

Disebutkan, pencarian di hari ketiga itu melibatkan personil Polsek Kolang, anggota Basarnas, prajurit AL, Babinsa Koramil Kolang beserta masyarakat. Pencarian dimulai pukul 10.00 WIB di sekitar Aek Simamak, tempat korban dilaporkan hanyut. “Kemudian sekira pukul 13.00 WIB dengan jarak 600 meter dari lokasi hanyutnya, korban ditemukan dalam air dengan kondisi sudah meninggal. Selanjutnya jenazah diangkat ke atas perahu.”

Sebelumnya kondisi cuaca yang terus hujan, ditambah medan yang curam dan terjal menyulitkan proses pencarian. Sejak Senin (28/10) lalu, wartawan berkesempatan mengikuti langsung proses pencarian bersama tim yang terdiri dari pihak SAR, polisi, TNI dan masyarakat. Tim bergerak dari Polsek Kolang menuju lokasi menggunakan kendaraan dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jarak yang ditempuh menuju lokasi perkampungan sekitar 12 kilometer, ditambah lagi jarak ke lokasi korban hanyut terbawa arus sungai sekitar lima kilometer.

Setibanya di perkampungan, Camat Kolang S Situmeang memimpin ritual doa dan berharap agar korban dapat ditemukan. Dan selanjutnya tim pun bergerak dengan jumlah 35 orang yang ikut mencari korban.

Kondisi medan menuju lokasi korban yang dilaporkan hanyut membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk berjalan kaki. Selain terjal, jalan setapak yang dilalui juga dilengkapi jurang di kanan dan kirinya. Jika tidak berhati-hati, bisa terpeleset dan masuk ke dalamnya.

Saat berada di tengah perjalanan, rombongan bertemu dengan Tonsi Situmeang (35) salah seorang keluarga korban. Dia menceritakan, sebelum kejadian tersebut, Jaliman pergi ke dalam hutan bersama dua warga lain, yaitu Guntur Hutabarat (50) dan Purnomo Situmeang (25). Niat mereka, untuk mengambil kayu ‘alim’, dan biasanya kayu tersebut dapat dijual kembali untuk biaya kehidupan keluarga sehari-hari.

“Pekerjaan itu sudah biasa dilakukan, kadang bisa satu minggu, bahkan lebih di dalam hutan baru pulang,” ungkap Tonsi.

Kata Tonsi, cerita dari korban yang selamat, mereka sebenarnya belum berniat pulang. Apalagi, kayu yang dicari belum sesuai dengan yang ditargetkan. “Rupanya ada satu kawan mereka yang dipatok ular, makanya mereka pulang lebih cepat dan harus diobati,” ujar Tonsi yang menyebut korban dan kawan-kawannya berangkat ke dalam hutan pada Jumat (25/10/2019) lalu.

Sewaktu pulang, ketiganya harus melewati sungai. Saat itu kondisi hujan lebat ditambah air sungai juga sedang dalam keadaan tinggi dan deras.

“Tidak ada pilihan dan harus menyeberang, saat itulah ketiganya hanyut dan dua berhasil selamat,” ucapnya dan mencari kayu ‘alim’ bisa disebut mata pencarian warga setempat. (tam)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button