Berita

Positive Parenting: Ayah dan Ibu harus Memahami Perkembangan Otak Anak

SIDIMPUAN, FaseBerita.ID – Sekolah Islam Terpadu Bunayya, Yayasan Pendidikan Binaul Ummah Padangsidimpuan kembali mengadakan seminar parenting (pola asuh) yang ke- 14, Minggu (3/11/2019) di Gedung Nasional Adam Malik, Kota Padangsidimpuan.

Kali ini narasumbernya berasal dari Depok, Jawa Barat dan membawakan materi kerjasama orangtua dalam mendidik anak serta memahami perkembangan otak anak.

Lebih dari 350 orangtua memadati gedung nasional itu. Banyak di antara mereka juga turut membawa buah hatinya.
Selain orangtua murid SIT Bunayya dan umum, banyak juga orangtua yang datang dari luar daerah di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) yang juga merupakan orangtua murid sekolah di bawah Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).

Parenting kali ini membawa tajuk; Terapkan pola asuh yang dilakukan secara Suportif, Konstruktif dan Menyenangkan. Dipimpin H Dedy Martoni sebagai pemateri.

Dedy Martoni merupakan pembina Yayasan Cakrawala Insan Al-Quran, juga Sekretaris Jenderal International Quran Recitation Association (IQRA), organisasi para qori secara internasional. Juga menjadi pembina JSIT Pusat.

Dedy Martoni membuka materinya dengan perilaku anak zaman sekarang atau karib dibilang Anak Zaman Now.

Dengan ketergantungan menggunakan gadget, serta bahaya yang akan timbul bila tidak dalam pengawasan yang tentunya akan merugikan anak dan orangtua.

Di zaman digital era media sosial ini, katanya, anak-anak yang ketergantungan kepada itu akan cenderung emosional, depresi dan tidak mampu bersosialisasi di dunia nyata.

Dari gawai dengan fasilitas permainan (game), banyak unsur kekerasan yang tidak bagus bagi perkembangan otak anak.

“Dari penelitian yang dilakukan tim yang didalamnya ada saya, juga bersama Neno Warisman saat itu. Tahun 2018. 67 persen anak SD mengaku pernah melihat film dewasa. Itu dari alat ini (smartphone),” terangnya.

Untuk kaum Ayah, Dedy Martoni menerangkan, pola asuh juga harus diawali dari ayah.

Mengapa harus ayah? Karena, penyimpangan anak-anak dipengaruhi oleh ayahnya. Maka seorang ayah harus memiliki wibawa di hadapan anak-anak. Para ibu, ia pesankan agar tak pernah melawan suami. Terlebih di hadapan anak-anak.

“Kalau punya anak perempuan, pingit terus. Lawan arus, jangan ikut-ikutan yang tren dan tak baik,” katanya.

Dari ini kemudian ia mengatakan, dalam mengasuh anak, suami sangat dibebankan tanggungjawab. Jika ayahnya telah meninggal, maka pamannya. Bila tidak ada, maka kakeknya dan seterusnya.

Sebagaimana Rasulullah tatkala kecil yang telah menjadi yatim. Maka yang merawatnya adalah kakek Rasulullah, Abdul Muthalib, dan ketika Abdul Muthalib wafat, Abu Thalib paman Rasulullah yang meneruskan pengasuhan.

“Saat dia masih kecil. Bacakan Alquran, Sucikan niatnya, ajarkan kitab-kitab suci, ajarkan hal-hal baru. Sekarang untuk istri, seorang istri pemimpin bagi urusan rumah tangga serta anak dari suaminya. Karakter istri yang ideal, menjaga kebersihan, menjaga anak, merasa cukup dengan pemberian suami,” ungkapnya.

Lalu terkait asuhan anak, Dedy Martoni menerangkan, usia 0-7 tahun, itu zona merah. Di mana harus sering diajak bermain, dan yang harus dihindari memarahi dan banyak melarang anak. Sebab hal itu bisa merusak jaringan otak anak yang masih berkembang. Maka dituntut menjadi orangtua yang sabar merawat anak seumuran itu.

“Pahamilah bahwa posisi anak yang masih kecil saat itu yang berkembang otak kanannya,” katanya dan jika kelakuan anak membuat kekacauan dalam rumah dengan tingkah mereka, disarankan agar menahan emosi dengan banyak beristigfar.

Anak-anak bukan pilihan orangtunya, tetapi menjadi anak-anaknya karena takdir Allah. Itu yang perlu dipahami orangtua. Maka dalam mendidik anak harus sabar dan memahami anak.

Sebab di antara mereka ada yang dominan otak kiri dan dominan kanan. Perkembangan jaringan otak, distimulasi dengan kasih sayang.

“Usia 7-10 tahun peran ayah bunda, dengan mengajarkan ibadah, ajarkan sholat. Memberikan kisah-kisah rasul. Memberikan pengertian tentang tauhid. Diceritakan ketika hendak tidur,” katanya, pada usia ini perkembangan otak anak cenderung pada gelombang Theta, di mana mereka lebih senang mendengar cerita.

“7-12 tahun, ajarkan membaca Quran. Jika tidak sholat, jangan dipukul, tapi pertama diberikan nasehat. Berikan pengertian. Sesungguhnya tidak ada yang bisa diharapkan dari kalian sesudah ibu bapamu wafat, kecuali keshalihan,” ungkapnya lalu mengatakan pentingnya membentuk anak menjadi anak yang sholih, maka pola asuh sangat penting untuk dipelajari orangtua.

Banyak lagi yang diterangkan Dedy Martoni berkaitan dengan pola asuh dan kerjasama ayah dan bunda dalam mengasuh anak.

Di akhir materinya, beberapa peserta juga memberikan pertanyaan yang berkaitan cara menangani anak untuk bertanggungjawab, atau menghindari mereka ketergantungan pada smartphone.

Pada intinya ia menekankan, agar orangtua dalam mendidik anak, jangan sampai menimbulkan anggapan bagi anak-anak bahwa mereka tidak sayang.

Sebelumnya, Ketua YP Binaul Ummah Padangsidimpuan Khoiruddin Rambe SSos membuka kegiatan ini dan menjelaskan tentang pentingnya parenting dalam menyiapkan generasi islami.

Di akhir kegiatan, Khoiruddin Rambe dan pengurus lainnya menyerahkan berbagai hadiah kepada peserta. (san)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close