Berita

Polisi Didesak Segera Pecahkan Kasus Pemukulan oleh Oknum Jaksa

Oleh Oknum Jaksa kepada Terdakwa Bebas Murni

FaseBerita.ID – Dalam surat berisi pernyataan sikap KontraS Sumatera Utara mendesak kepolisian secepatnya memecahkan kasus dugaan pemukulan oleh oknum jaksa yang dialami Ali Soman (31), seorang terdakwa bebas murni.

KontraS sudah mendengar langsung pengakuan dari Ali Soman, terkait pemukulan dengan senjata jenis pistol yang telah dilaporkan dengan Nomor STPL: 74/II/2020/SU/PSP di Polres Kota Padangsidimpuan ini.

Dalam hal ini, visum et repertum luka robek pada pelipis kanan, di dahi kiri, lecet dan lebam di bagian bawah mata kiri serta luka lecet pada tangan dan kaki telah dipegang oleh polisi.

Kata Koordinator Badan Pekerja KontraS Sumatera Utara, Amin Multazam, pengungkapan kasus dugaan pemukulan menjadi penting mengingat Kejaksaan Negeri Tapsel maupun Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara membantah peristiwa pemukulan yang dialami Ali Soman.

Baca sebelumnya: Oknum Jaksa Kejari Tapsel Pukuli Terdakwa Pakai Pistol

Melalui pernyataan di beberapa media, mereka menyebut bahwa Ali Soman terjatuh di kamar mandi. Oleh sebab itu, proses hukum di kepolisian menjadi kunci dalam mengungkap kasus ini.

“Kepolisian Polres Padangsidimpuan dituntut bekerja secara professional dan transparan. KontraS sangat menyesalkan bantahan kejaksaan melalui media masa, khususnya pernyataan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara yang hanya mendengar sepihak tanpa mengumpulkan fakta-fakta langsung di lapangan. Dari investigasi yang sudah kami lakukan, terdapat banyak kejanggalan atas kasus yang dialami Ali Soman, bahkan sejak mulai ditangkap tanggal 18 September 2019 melalui surat penangkapan Polres Tapanuli Selatan Nomor: SP.Kap /78/IX/2019/Narkoba dengan tuduhan memiliki narkotika golongan I (tanaman jenis ganja),” katanya.

Sejak awal kasus ini terkesan dipaksakan. Vonis majelis hakim yang menyatakan Soman tidak terbukti bersalah dan membebaskan Soman dari semua dakwaan Penuntut Umum adalah buktinya. Sebagai informasi, Jaksa Penuntut Umum menuntut Ali Soman berdasarkan Surat Tuntutan No. Register Perkara: PDM-63/SIPIROK/Enz.2/12/2019 tertanggal 25 Februari 2020, dengan tuntutan pidana penjara selama 1 (satu) tahun penjara.

Dari keterangan Ali Soman kepada KontraS, oknum jaksa yang sama juga pernah melakukan pemukulan dan ancaman terhadap dirinya. Sekitar Desember 2019, dalam agenda pemeriksaan saksi verbalisan. Ali Soman di hadapan majelis hakim tidak mengakui barang bukti ganja yang diajukan JPU adalah miliknya. Dua hari pasca persidangan, Ali Soman didatangi oleh oknum jaksa tersebut.

Sebelum memukuli Ali Soman, oknum jaksa menyatakan kekesalannya terhadap Ali Soman yang dianggapnya melawan karena membantah barang bukti. Padahal menurut si jaksa dia (Ali Soman) sudah ditolong.

“Kami menduga kuat, peristiwa yang dialami Ali Soman berkaitan dengan kasus Pemidanaan yang dipaksakan terhadap dirinya. Bersama Ali Soman dan tim kuasa hukumnya, kami akan mengadukan persoalan ini ke Komisi Kejaksaan dan Jaksa Agung Muda bidang pengawasan. Untuk itu, KontraS mendesak Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan yang salah satu fungsinya melakukan pengusutan, pemeriksaan serta mengusulkan penindakan terhadap pegawai Kejaksaan yang terbukti melakukan perbuatan tercela atau terbukti melakukan tindak pidana dapat menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Tidak hanya dalam konteks dugaan pemukulan pasca vonis, namun juga saat menangani kasus yang menjerarat Ali Soman Harahap,” bebernya.

“Fakta lain yang kami temui saat melakukan investigasi adalah tentang berbagai intimidasi yang dialami oleh Ali Soman setelah membuat laporan pengaduan di kepolisian Polres Padangsidimpuan,” kata Amin.

Memang, dua hari pasca pengaduan, Ali Soman berulang kali didatangi oleh orang tidak dikenal. Pada intinya orang tersebut membujuk Ali Soman untuk mencabut laporan. Selain itu intimidasi dilakukan dengan menjelaskan potensi Ali Soman yang dapat ditangkap kembali dan terancam puluhan tahun penjara.

Ketidaknyamanan tersebut membuat Ali Soman meninggalkan rumah dan kini hidup menumpang di rumah seorang kerabatnya. Teror dan intimidasi tidak hanya dialami oleh Ali Soman. Orang tua bahkan penasehat hukum juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda.

KontraS juga mendesak LPSK dan Komnas HAM dapat bergerak cepat untuk memberikan perlindungan serta jaminan kepastian keamanan kepada Ali Soman dan keluarga. Apalagi kuasa hukum Ali Soman sudah melaporkan kejadian ini kepada lembaga-lembaga tersebut.

“Apa yang dialami Ali Soman dalam hemat kami adalah preseden buruk dalam penegakan hukum. Satu bukti dari ratusan bukti lain tentang bagaimana carut marutnya sistem penegakan hukum kita mulai dari tingkat kepolisian hingga kejaksaan. Bahwa disaat Ali Soman yang harusnya mendapat proses rehabilitasi dan ganti rugi atas proses hukum yang tidak tepat, justru ia harus kembali berjuang mencari keadilan dengan kondisi yang penuh ancaman dan ketidakpastian,” pungkas Amin Multazam. (san)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close