Berita

Polda Sumut Didesak Tangkap Pelaku Pembunuh Wartawan di Labuhanbatu

MADINA, FaseBerita.ID – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Mandailing Natal (Madina) mengecam pelaku pembunuhan wartawan yang terjadi Labuhanbatu.

Ketua PWI Kabupaten Madina Mhd Ridwan Lubis didampingi Sekretaris Abdul Kholik kepada wartawan, Jumat (1/10/2019) di Panyabungan mengatakan, siapapun pelaku dan aktor di balik kasus pembunuhan wartawan tersebut harus dihukum setimpal. Karena bagaimanapun kekerasan terhadap Pers harus dihapuskan.

“Pers bekerja dilindungi undang-undang, dan apabila ada kesalahan dalam melaksanakan tugas profesi di lapangan, yang merasa dirugikan bisa menempuh banyak cara. Tapi kalau dilakukan dengan cara kekerasan apalagi pembunuhan, ini sebuah kejahatan yang luar biasa,” katanya.

“Karena itu, kami meminta Kapolda Sumut bapak Irjen Pol Agus Andrianto memberikan perhatian khusus untuk kasus pembunuhan wartawan yang terjadi Desa Wonosari Kecamatan Panai Hilir Labuhanbatu. Kami harap pelaku segera ditangkap dan diadili serta dihukum setimpal,” kata Ridwan.

Ia menjelaskan, Pers punya kewenangan untuk mencari, mengelola, dan menyebarluaskan informasi. Apapun permasalahannya, Pers dilindungi undang-undang dalam menjalankan tugasnya.

“UU nomor 40 tahun 1999 telah menjamin kebebasan Pers dalam melaksanakan tugasnya. Kita tidak bantah, setiap insan Pers diikat dengan kode etik. Nah, misalnya ada oknum wartawan yang melanggar, kemudian ada yang merasa dirugikan, bisa menempuh banyak cara. Misalnya melakukan hak bantah, semacam somasi dan sebagainya,” terangnya.

“Kita menyayangkan, oknum wartawan tersebut ditemukan tewas di areal sebuah perusahaan. Selain menindak dan menghukum pelaku pembunuhan, kita juga berharap Kepolisian mengusut pelaku yang menyuruh, hingga permasalahan bisa terungkap secara terang benderang,” ujar Ridwan.

Ia mengatakan, kasus tersebut bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak khususnya perusahaan investasi dimanapun berada khususnya di Kabupaten Madina.

“Kita ingin peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak. Perusahaan tolong jangan menggunakan cara-cara brutal dan melakukan kekerasan terhadap Pers. Bila ada oknum wartawan katakanlah yang bekerja di luar tugas jurnalistik, silahkan tempuh dengan cara dan aturan yang ada, bukan dengan melakukan kekerasan,” tutupnya.

Penuh Luka Bacok

Untuk diketahui, wartawan yang bertugas di Kabupaten Labuhanbatu, masing-masing Maraden Sianipar dan Martua P Siregar, ditemukan tewas dalam parit belakang gudang kontainer milik PT SAB/KSU Amelia yang berada di Dusun VI Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu.

Informasi dihimpun, jasad Maraden Sianipar (55) warga Jalan Gajah Mada, Rantauprapat, ditemukan pihak kepolisian pada Rabu (30/10/2019) sore, dalam parit.

Pada tubuhnya terdapat sejumlah luka, di antaranya di bagian kepala, mulut dan tangan kiri yang putus.
Sementara, jasad Martua P Siregar alias Sanjai, warga Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, ditemukan berselang sehari kemudian atau Kamis (31/10/2019) pagi sekira pukul 10.00 WIB.

Lokasi penemuan mayat Martua tidak jauh dari jasad Maraden Sianipar, hanya berjarak sekitar 200 meter yang masih di kawasan belakang gudang kontainer milik perusahaan tersebut.

Kondisi jasad Martua P Siregar pun tidak jauh berbeda dengan Maraden Sianipar. Tubuhnya penuh luka bacokan, yakni di bagian perut, kepala, punggung dan bagian tubuh lainnya.

Informasi diperoleh, sebelum kejadian, pada Selasa (29/10/2019) sekira pukul 17.00 WIB, Maraden Sianipar meminjam sepedamotor milik Pak Burhan Nasution untuk berangkat ke ladangnya yang melewati kebun kelapa sawit milik PT SAB/KSU Amalia.

Selanjutnya, Pak burhan melihat Maraden Sianipar mengendarai sepedamotor miliknya, berboncengan dengan Martua P Siregar alias Pak Sanjai.

Kemudian, karena korban tak kunjung pulang, akhirnya Pak Burhan mendatangi Polsek Panai Hilir untuk melaporkan hal tersebut pada Rabu (30/10/2019) sekira pukul 14.00 WIB.

Mendapat laporan warga, personel Polsek Panai Hilir berangkat menuju ke PT SAB/KSU Amelia untuk menelusuri keberadaan korban.

Setelah dilakukan pencarian, di bekakang gudang kontainer dalam parit, ditemukan mayat Maraden Sianipar dan langsung dibawa ke Puskesmas Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir untuk dilakukan pemeriksaan awal.

Dari berbagai sumber, kedua korban adalah wartawan mingguan yang kritis menyoroti permasalahan sengketa areal perkebunan milik PT SAB/KSU Amelia yang saat ini sudah dieksekusi Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara.

“Iya, korban Sanjai memang giat menyoroti dan mengkritisi soal lahan itu,” ungkap Ketua LSM Lembaga Pemantau Independen Asset Negara (LIPAN), Syamsul Sitepu, kepada wartawan.

Syamsul yang juga rekan korban, mengakui jika di areal PT SAB/KSU Amelia tersebut sering terjadi keributan mengarah kekerasan antara warga yang mengklaim areal milik mereka dengan orang tidak dikenal yang menjaga areal tersebut.

Kapolsek Panai Hilir AKP Budiarto saat dikonfirmasi wartawan, membenarkan adanya penemuan mayat tersebut.

“Korban pertama Maraden Sianipar ditemukan pada Rabu (30/10/2019) sore. Kemudian Martua P Siregar ditemukan pada Kamis (31/10) pagi. Sepedamotor juga telah ditemukan tidak jauh dari kedua mayat tersebut. Kedua korban diduga dibunuh, karena terdapat luka bacokan di sejumlah tubuhnya. Saat ini Pihak Polsek Panai Hilir bersama Polres Labuhanbatu tengah melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut,” tandas Budiarto.
(Mag-01/bud)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close