Berita

Peternak Babi Disarankan Lakukan Pencegahan Mewabahnya Virus Hog Cholera

HUMBAHAS, FaseBerita.ID – Dalam kurun waktu sebulan, 209 ekor ternak babi di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) mati. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah. Belum diketahui pasti penyebabnya, karena masih menunggu hasil penelitian sampel dari lab. Namun ciri yang terlihat, mirip penyakit yang ditimbulkan oleh serangan virus Hog Cholera.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Humbahas Luhut Marbun melalui Kepala Bidang Kesehatan hewan, ikan dan masyarakat veteriner, Martongam Lumbantoruan  mengimbau kepada masyarakat agar lebih waspada dalam mencegah meluasnya penyakit tadi, dengan mengutamakan tindakan pencegahan berupa biosecurity, seperti vaksinasi dan desinfektanisasi. Karena, menurut Dia, apabila ternak sudah terpapar penyakit tersebut, maka sangat kecil kemungkinannya dapat disembuhkan.

Disebutkan, sampai tanggal 21 Oktober, tercatat 209 ekor ternak babi yang mati, diantaranya 182 ekor di Kecamatan Dolok Sanggul, 11 di Kecamatan Lintongnihuta dan 8 ekor di Kecamatan Baktiraja. Selainnya di Kecamatan Paranginan, Pollung dan Onan Ganjang.

“Dan sampai sekarang jumlah itu terus bertambah. Karena masih ada laporan yang masuk namun belum kita input,” ujar Martongam didampingi Kasi Kesehatan Hewan dan Ikan, Drh Ronal F Sembiring di ruang kerjanya, Kamis (24/10/2019).

Dinas Peternakan dan Perikanan Humbahas terus melakukan pememantauan perkembangan situasi serta melaporkannya ke ISHIKNAS Kementerian Pertanianan secara periodik. Dan rencananya, Direktur Kesehatan hewan Kementerian Pertanian akan turun langsung ke Humbahas, Jumat (25/10) guna meninjau langsung situasi dilapangan.

Sementara untuk Kecamatan Parlilitan, Pakkat dan Tarabintang sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan akan adanya ternak babi yang terkena penyakit tersebut.

“Jadi, untuk  Papatar (Parlilitan, Pakkat, Tarabintang) sampai saat ini masih aman,” kata Dia.

Oleh karena itu, Martongam mengimbau, agar masyarakat peternak berkaki empat tersebut lebih waspada serta sedini mungkin membentengi ternak dengan melakukan vaksinasi dan desinfektanisasi kandang dan sekitarnya guna menekan perkembangan penyakit dimaksud.

Selain itu, peternak juga disarankan untuk melakukan tindakan biosecurity lainnya dengan melakukan beberapa langkah-langkah berikut; untuk sementara, warga diharapkan tidak membeli ternak babi dari luar, baik untuk dikonsumsi maupun untuk dipelihara. Membatasi orang masuk ke area kandang ternak babi.

Hindari kontak dengan ternak babi yang sudah terkena penyakit. Jangan memberi pakan sisa ternak babi.

Membedakan pakaian, alas kaki (sepatu/sandal) ke luar atau ke dalam kandang untuk menghindari kontaminasi penyakit yang mungkin terbawa dari luar.

Ternak yang mati harus dikubur. Jangan dibuang sembarangan karena dapat mempercepat perkembangan penyakit tersebut. Untuk informasi lebih lanjut, warga dapat menghubungi petugas Dinas peternakan di lapangan atau melalui sambungan selluler Kepala Bidang Keswanik dan Kesmavet, Martongam Lumban Toruan SPt MM di nomor 01260849686.

“Perlu kami informasikan, sampai saat ini belum ada penelitian yang menyatakan bahwa penyakit ini dapat tertular kepada manusia. Dan juga tidak dapat menular melalui udara. Harus ada vektor (media pembawa),” ujar Martongam. (sht/osi)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button