Berita

Petani Korban Penjarahan Lapor ke Bupati dan Kapolres Asahan

FaseBerita.ID – Warga korban persekusi di lokasi kebun sawit milik warga Dusun X dan Dusun XI Desa Sei Kopas Kecamatan BP Mandoge Kabupaten Asahan, kembali melaporkan suasana persekusi yang dilakukan sesama warga petani, ke Bupati Asahan.

Laporan yang tertuang dalam surat itu diserahkan ke Kantor Bupati Asahan.

P Sinaga didampingi Gusti Ramadhani, selaku kuasa hukum petani sawit dusun X dan dusun XI di Kisaran, Kamis (5/9/2019).

Sebelumnya sepuluhan korban bersama kuasa hukum telah mendatangi Polres Asahan dan berhasil bertemu dengan Kapolres Asahan AKBP Faisal F Napitupulu dan melahirkan sejumlah keputusan diantaranya, petani disarankan Kapolres untuk mengadukan situasi yang dialami petani ke Pemkab Asahan. Sebab masalah ini terjadi antara petani dengan petani.

Dijelaskan Tanrgun Sinaga, surat yang disampaikan korban kepada Bupati Asahan tentang kejadian persekusi dengan penjarahan buah sawit, dan intimisasi. Penyerobotan lahan dan ancaman dengan kata-kata itu sudah pernah ada mediasi yang difasilitasi oleh Forum Kordinasi Pimpinan Kecamatan (FORKOPIMCAM) Bandar Pasir Mandoge yang dilaksanakan pada 14 Juni 2019 di Kantor Camat.

Pada rapat mediasi itu juga hadir pelaku JT alias ME dan JBH. Mereka ini ikut hadir atas nama Kelompok Tani Jaya, hadir juga Camat BP Mandoge, Kapolsek BP Mandoge, Danramil 14 BP Mandoge, Plt Kasi Pemerintahan, Ketua dan Pengurus Kelonpok Tani Enam Saroha (Tarjun Sinaga dan Pengurus Lainnya), Ketua dan Pengurus Kelompok Tani Jaya, dan Ketua dan Pengurus Kelompok Tani beritial Ina Tani.

Hasil rapat Forkopimcam BP Mandoge dan Kelompok Tani adalah pada butir 3 berbunyi Anggota Kelompok Tani agar tetap menjaga kekondusifan di lokasi, hindari konflik antar sesama kelompok.

Sementara Gusti Ramadhani SH, Kuasa Hukum para petani, mengatakan penjarahan buah sawit, intimidasi dan penyerobotan lahan kembali dilakukan. Diduga pelaku JT dan kelompoknya berjumlah 30 Orang. Kejadian pada 22 Agustus 2019.

“Berselang beberapa hari kembali terjadi penjarahan buah sawit, mendirikan pondok, serta memasang patok kembali dilakukan JT dan kelompoknya di kebun milik Tarjun Sinaga di Dusun XI Desa Sei Kopas Kecamatan Bandar Pasir Mandoge,” katanya.

Tak berhenti di situ saja, pelaku kembali menjarah buah dan merusak tanaman milik Nurmi Sinaga pada tanggal 29 Agustus 2019.

Setelah korban mengadu Kepolres Asahan, penjarahan buah sawit masih saja terjadi di kebun milik Parata Munurung. Kejadian pada 4 September 2019.

“Perbuatan JT sudah berulang-ulang. JT dan kelompoknya sudah seperti kebal hukum,” kata Gusti didampingi Indra Mingka, Ketua LKLH Sumut.

Indra Mingka yang merupakan aktivis lingkungan mendesak Kepada Kapolres Asahan dan Bupati Asahan menjadikan persoalan ini prioritas agar dapat menghentikan kejahatan JT dan kelompoknya.
“Jika berlarut-larut bisa saja memakan korban jiwa,” kata Indra.

Ditambahkan Gusti, bukti kepemilikan atas lahan dan tanaman sawit diatasnya ada Surat Keterangan Tanah (SKT) atas nama Tarjun Sinaga, Surat Keterangan Tanah (SKT) No. 593/09/SK/2007, tanggal 19 Februari 2007.

Parata Manurung Surat Keterangan Tanah (SKT) Nomor: 593/11/SK/2011, tanggal 23 Februari 2011 dan Surat Keterangan Tanah (SKT) Nomor.593/45/SK/2010, tanggal 8 Mei 2010, Nurmi Surat dengan Keterangan Tanah (SKT) Nomor 593/71/SK/2006, tanggal 18–12 -2006 dan kebun sawit milik Pitta Omas Br Simbolon (Meninggal Dunia) saat ini dipegang ahli waris Risbun Sinaga dengan Surat Keterangan Tanah (SKT) Nomor. 593/53/SK/2011.

Camat BP Mandoge Poniman saat dikonfitmasi awak media mengatakan, pihak kecamatan belum menerima tembusan surat resmi dari Petani Dusun X dan Dusun XI.

“Mungkin mereka langsung ke Kantor Bupati. Nanti saya hubungi kembali jika surat saya terima,” kata Poniman. (cr-1)

iklan usi



Back to top button