Berita

Pernikahan Batal Mempelai Pria Dibui

Berawal dari Uang Mahar yang Tak Dibayar

FaseBerita.ID – Gara-gara orang tua mempelai pria ingkar janji membayar mahar yang sudah disepakati, ‘sawah’ yang sudah terlanjur digarap pun dituntut.

Alhasil, mempelai pria harus mempertanggung jawabkannya dengan mendekam di balik jeruji besi. Setelah orangtua mempelai wanita melaporkan mempelai pria ke pihak yang berwajib.

Mempelai pria itu berinisial AZ (20), warga Desa Gunung Payung Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapteng.

Sementara mempelai wanita sebut saja Melati (15), masih dikategorikan anak di bawah umur, warga Kelurahan Huta Tonga-tonga, Kecamatan Sibolga Utara.

Dari hasil pemeriksaan polisi, kejadian bermula saat Melati mendatangi kos AZ di daerah Tukka sekitar Februari lalu. Saat itu, Melati mengaku sedang berselisih dengan orangtuanya dan tidak ingin pulang. Setelah mendengar keluhan kekasihnya tersebut, AZ pun membawa Melati ke rumah orangtuanya.

“Kejadiannya, Senin (4/2/2019), tersangka membawa Melati ke rumah orangtuanya. Tiba di rumah, orangtuanya malah marah kepada tersangka (AZ).

Kemudian, tersangka menerangkan bahwa ibu Melati satu marga dengan ibu tersangka, sehingga Melati diijinkan tinggal,” kata Kapolres Sibolga AKBP Edwin Hariandja dalam keterangan persnya melalui Kasubbag Humas Iptu Ramadhansyah Sormin, Selasa (11/6/2019).
Keesokan harinya lanjut Sormin, AZ membawa Melati ke rumah keluarganya di Pinangsori. Beberapa hari kemudian, Melati menghubungi AZ melalui telepon genggamnya, meminta agar AZ menjemputnya dan membawanya kembali ke rumah orangtuanya. “Sabtu (9/2/2019) sekira pukul 8.00 WIB, Melati dijemput dan dibawa kembali ke rumah orangtua tersangka,” ungkapnya.

Melihat kedatangan Melati, lag-lagi orangtua tersangka marah. Saat itu, orangtua tersangka mencoba meminta nomor telepon orangtua Melati yang dapat dihubungi. Karena HP Melati rusak, tersangka dan Melati kemudian pergi ke Pinangsori menemui teman Melati, untuk meminta nomor HP orangtuanya,” terang Sormin.

Di tengah jalan, pasangan kekasih tersebut ketemu dengan paman tersangka, yang kemudian mengajak keduanya ke rumahnya. “Kebetulan, rumah teman Melati dekat dengan rumah paman tersangka ini. Sorenya, mereka baru pulang ke rumah orangtua tersangka,” katanya.

Tak sampai di situ, keesokan harinya, Minggu (10/2/2019) sekira pukul 9.00 WIB, orangtua tersangka bersama dengan orangtua Melati dan temannya mengadakan pertemuan di rumah Paman tersangka. Dalam pertemuan tersebut, orangtua Melati membuat pilihan kepada pihak keluarga AZ, menikahi Melati atau dilaporkan ke polisi.

Saat itu, tersangka mengaku belum sanggup untuk menikahi Melati. “Namun, orangtua Melati bersikeras agar anaknya dinikahi. Karena tersangka tidak sanggup, orangtua Melati akhirnya menitipkan Melati di rumah paman tersangka,” terang Sormin.

Beberapa hari kemudian, paman tersangka mendatangi orangtua Melati untuk membicarakan kembali hubungan AZ dan Melati.

Saat itu, orangtua Melati meminta mahar sebesar Rp60.000.000. Awalnya, sempat terjadi tawar menawar mahar sebelum akhirnya disepakati mahar Melati sebesar Rp10.000.000 ditambah seekor hewan peliharaan. “Janji nya, Selasa (19/2/2019) pihak keluara tersangka akan mengantarkan 1 ekor hewan pelihara. Sementara mahar Rp10 juta akan diserahkan tanggal 24 April,” ungkapnya.

Setelah terjadi kesepakatan, orangtua AZ kemudian menggelar syukuran di kampung tersebut sekaligus pertanda keduanya disahkan menjadi suami istri. Beberapa hari kemudian, orangtua Melati mendatangi rumah tersangka, menuntut mahar yang sudah dijanjikan.

Karena orangtua Melati tidak sanggup menepati janjinya, orangtua Melati akhirnya melaporkan mempelai pria ke pihak yang berwajib karena telah menggarap ‘sawah’ Melati, yang masih di bawah umur. “Tersangka dan Melati belum menikah secara sah di Gereja. Dari hasil visum et repertum, kegadisan Melati sudah terenggut,” pungkasnya.

Kini, tersangka ditahan di RTP Polres Sibolga dan untuk proses selanjutnya, pihak Polres Sibolga akan melimpahkan kasus tersebut ke Polres Tapteng. Sebab, TKP berada diwilayah hukum Polres Tapteng.

Tersangka dalam hal ini, dijerat dengan pasal 76 D UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan pasal 332 dari KUHPidana. Dengan ancaman hukuman 9 tahun. (ts)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close