Berita

Peringatan Hari Ibu: Perempuan Disabilitas Bisa Mandiri

FaseBerita.ID – Staf Khusus Presiden Jokowi, Angkie Yudistia menceritakan perjuangannya untuk menciptakan peluang usaha dan menjadi perempuan disabilitas mandiri. Pengalamannya sebagai penyandang disabilitas memotivasi Angkie untuk tampil berbeda.

“Seperti teman semua tahu bahwa aku sebagai seorang disabilitas, mungkin tidak terlihat, tapi aku harus pakai alat bantu dengar,” ujar Agnkie dalam peringatan Hari Ibu bertema ‘Perempuan Hebat untuk Indonesia Maju’ di Ritz Carlton Jakarta, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (22/12).

Angkie kemudian menceritakan awal mula dirinya tidak bisa mendengar. Awalnya Angkie mengaku kesulitan dengan kondisi tersebut.

“Ketika aku itu memang lahirnya sama seperti lainnya, hingga pada usia 10 tahun aku demam tinggi, yang mengakibatkan saraf yang tidak bisa mendengar. Karena tahu banget sebagai perempuan yang berkebutuhan kusus ini sulit banget untuk bisa hidup mandiri,” ujarnya.

Menurut Angkie, ada beberapa tantangan yang dihadapinya untuk tampil mandiri. Lingkungan yang tidak mendukungnya sering ditemui Angkie serta minimnya kepercayaan yang diberikan pada dirinya.

“Karena pertama lingkungan yang kurang mendukung, kedua kepercayaan. Tidak semua percaya tentang kemampuan disabilitas. Ketiga adalah kesempatan itu tidak semua orang bisa memberikan kesempatan teman disabilitas. Disabilitas itu macam-macam. Ada yang tidak bisa mendengar, melihat, sensorik, motorik,” ungkapnya.

Angkie menyebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2015 jumlah disabilitas di Indonesia mencapai 21 juta jiwa. Menurut Angkie kalau bukan dirinya siapa lagi yang akan melakukan perubahan.

“Jumlah disabilitas di Indonesia bedasarkan data BPS 2015 adalah 21 juta jiwa. Artinya cukup siapa lagi kalau bukan kita untuk melakukan sesuatu,” jelas Angkie.

“Karena pengalaman itu akhirnya satu aja. Bagaimana membuat teman-teman disabilitas usia produktif itu bisa mandiri secara ekonomi. Tidak harus bergantung pada orang lain. Tidak harus merasa dikasihani, tidak. Tapi kita semua sama rata,” lanjutnya.

Sementara itu, salah seorang pengusaha perempuan, Dumasi MM Samosir, juga menceritakan pengalamannya menjadi seorang ibu dan wanita karir. Dukungan dari keluarga sangat berguna menurut Dumasi.

“Ajaran dari kedua orang saya harus bisa taking care out kids. Itu janji saya waktu saya mulai bekerja. Saya bekerja tapi harus memikirkan keluarga juga. Itu yang saya lakukan, saya didukung oleh dua mama yang luar biasa. Mama mertua saya dan mama kandung saya,” kata Dumasi.

Selian itu, Dumasi juga belajar dari pengalaman mertua dan kedua orangtuanya. Dumasi mengatakan peran ayah yang mengajak dia ke dunia usaha sangat mempengaruhi karirnya.

“Saya liat ajaran dari mama mertua. Beliau sudah ditingggal Papa mertua saya ketika suami dan ipar saya masih kecil. Dimikian pula saya, memang kami berasal dari keluarga cukup ada. Tapi Papa saya meskipun dia pengusaha dia selalu bawa saya ikut proyek. Saya diajarkan untuk tidur sama kakak yang membantu memasak para tukang. Jadi di situ saya terbina menjadi seperti ini, seperti Ibu Mega bilang sesuatu yang berbeda dengan wanita umumnya,” tuturnya.

Pada peringatan hari ibu yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu turut hadir Ketua BPIP Hariyono, Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Seokarnoputri, Menko Polhukam Mahfud Md, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, Aktivis Perempuan, Yenny Wahid serta tamu undangan dari berbagai oragnisasi perempuan. (dc/int)

Unefa

Pascasarjana


Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close