Berita

Peringatan Hari Bahasa Internasional: Komunitas Teman Tunarungu Aksi Belajar Bahasa Isyarat

SIANTAR, FaseBerita.ID – Komunitas Teman Tunarungu Pematangsiantar-Simalungun mengadakan aksi jalan santai dan belajar bahasa isyarat, Minggu (27/10/2019). Kegiatan yang diprakarsai Aisyah Agnes Nainggolan itu untuk memeringati Hari Bahasa Isyarat Internasional (sign language international day), yang jatuh 23 September.

Rute jalan santai dimulai dari Lapangan H Adam Malik, masuk ke Jalan Diponegoro, dan menuju Jalan Sutomo, dan kembali dengan mengelilingi Lapangan H Adam Malik. Sambil berjalan santai, teman-teman tunarungu membagikan selebaran berbahasa isyarat (huruf A – Z). Sedangkan masyarakat yang ingin belajar langsung bahasa isyarat, dapat berinteraksi dengan teman tunarungu.

Menurut Aisyah Agnes Nainggolan, kegiatan ini bertujuan mendukung hak bahasa isyarat untuk semuanya, agar teman tunarungu dan teman dengar dapat berkomunikasi, masyarakat mengenal keberadaan teman tunarungu, dan mereka diterima di masyarakat dan mendapatkan hak bekerja.

“Misalnya kami melamar kerja di perusahaan, orang harus tahu dan percaya sama kami. Kalaupun kami lamban memahami komunikasi, kami berharap teman dengar memahami bahasa isyarat atau menuliskan bahasa tersebut. Kami berharap teman dengar sabar dan maklum kepada kami,” terang Aisyah.

Kegiatan jalan santai dihadiri Christina Oktavia Hasibuan, psikolog sekaligus Ketua Yayasan Kita Serupa. Kehadiran Christina, untuk memberikan dukungan dan kepercayaan kepada teman tunarungu guna memerjuangkan dan mendapatkan hak-haknya. Kita Serupa sendiri adalah yayasan sosial nirlaba yang fokus kepada anak/orang dengan kebutuhan khusus.

“Berkomunikasi dengan mereka gampang-gampang susah. Tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Saya dan Kak Agnes sering berkomunikasi via WA, atau video call. Nila menemenukan kata-kata yang jarang dipakai sehari-hari, saya menuliskannya di kertas saat sedang video call,” terang Christina.

Masih kata Christina, sebenarnya banyak teman tunarungu memiliki keterampilan. Mereka ada yang bisa menjahit, reparasi alat elektronik, bengkel, tata rias wajah dan rambut, merangkai bunga, fotografer, dan lainnya. Hanya saja, mereka sering menerima penolakan saat melamar pekerjaan. Alasannya, tidak jauh dari topik komunikasi/bahasa.

“Padahal mereka sangat qualified dengan keterampilan yang dimiliki untuk posisi yang sedang dilamar,” ujarnya.

Ke depannya, lanjut Christina,  teman tunarungu akan sesering mungkin melakukan sosialisasi bahasa isyarat. Bahkan bila memungkinkan, diadakan pelatihan berbahasa isyarat bagi masyarakat. (rel)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker