Berita

Pendeta Korban Pembacokan Dirawat di Rumah Sakit

FaseBerita.ID – Pria yang mengalami gangguan jiwa yang diamankan personel Satpol PP Kota Siantar, pelaku pembacokan pendeta yang beralamat di Kelurahan Tanjung Pinggir, masih diamankan.

Sementara Pdt Rokbi Simanjuntak selaku pengelola Rehabilitasi Idaman, masih dirawat di RSU Djasamen Saragih Pematangsiantar.

Saat diwawancarai, Kamis (28/3), Pendeta Rokbi Simanjuntak mengatakan, terpaksa menjalani perawatan karena mengalami luka di bagian kepala setelah dibacok salah satu warga yang mengalami gangguan jiwa pada Selasa (26/3) kemarin.

Pihak Satpoll PP Kota Pematangsiantar dianggap kurang profesional dalam melaksanakan tugasnya. Sebab pada saat membawa orang yang mengalami gangguan jiwa ke tempat rehabilitas, tidak terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan.

Pria yang sudah berusia sekitar 55 tahun itu kemarin diantar oleh pihak Satpoll PP dan dari Dinas Sosial. Tapi tidak terlebih dulu memeriksa, sebelum diserahkan.

Ternyata si pria tersebut membawa parang yang diselipkan di punggungnya. Dengan parang itulah dipakai untuk menyerang Pdt Rokbi Simanjuntak.

Pdt Rokbi menceritakan, bagaimana kejadian itu menimpanya. Ketika itu, pihak Satpoll PP bersama Dinas Sosial membawa 4 orang yang diduga mengalami ganggan jiwa pada Selasa (26/3) sekira pukul 11.00 WIB.

“Saat itu, mereka membawa ada 8 orang ke Yayasan Rehabilitasi Idaman. Mengingat dana kami sangat terbatas, maka saya hanya bisa menerima 3 orang saja. Tapi mereka terus memaksa untuk ditambah 1 lagi. Lalu saya setujui,” ujarnya.

Sekitar 20 menit setelah petugas Satpoll PP dan Dinsos pergi, pihak rehabiliasi meminta ke empat pria kurang waras tersebut untuk masuk ke ruangan I Pocet untuk dilakukan pemeriksaan badan.

Selanjutnya saat disuruh mandi untuk membersihkan badan, salah satunya melawan dengan mengeluarkan sebilah parang panjang dari balik baju pinggang kanan kemudian membacokkan ke bagian pelipis kiri dan kepala Pdt Rokbi Simanjuntak.

“Saya pun berusaha menyelamatkan diri. Tapi pria kurang waras itu malah semakin memberontak sehingga kami bergulat di tanah. Untuk teman-teman dan istri saya berhasil menyelamatkan saya,” katanya.

Beberapa menit kemudian, personel Polsek Martoba dan selanjutnya membawa pria tersebut dan diamankan di sel tahanan Polsek Martoba.

“Satpol PP dan Dinas Sosial kurang profesional. Sebab menyerahkan orang tanpa memeriksa terlebih dahulu. Harusnya diperiksa dulu, ada tidak membawa benda tajam. Kalau sudah bersih, baru diserahkan,” ujarnya.

“Untunglah sama saya berontaknya. Bagaimana bila sama penghuni lainnya, bisa mengancam banyak nyawa,” kata pendeta itu lagi.

Pdt Rokbi Simanjuntak menerangkan, ada 36 orang yang mereka rawat di yayasan Rehabilitasi Idaman. Untuk biaya makan dan seluruh biaya operasional di Yayasan itu, Pdt Rokbi Simanjuntak terpaksa menggunakan penghasilannya. Sebagian ada dari keluarga yang ada anggota keluarganya dirawat di rehabilitasi.

Dan biaya perawatan itu tidak dipatok oleh pihak pihak yayasan, tapi tergantung kesanggupan pihak keluarganya.  Sementara dari pemerintah hanya sekedar bantuan saja.

“Kalau dari pemerintah kadang diberi minyak makan, gula dan sedikit uang dua kali dalam satu tahun. Tapi sebenarnya untuk kebutuhan biaya untuk mengurus orang kurang waras itu cukup besar,” ujarnya.

Terpisah, Kapolsek Siantar Martoba AKP D Sirait mengatkan bahwa pihaknya masih mengamankan pria tersebut.

“Kita tidak tau siapa keluarganya. Pria itu juga tidak bisa dikeluarkan. Takutnya, bisa membahayakan orang lain lagi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Satpoll PP Kota Pematangsiantar Robert Samosir saat dikonfirmasi tentang pernyataan Pdt Rokbi Simanjuntak yang menyebut Satpoll PP kurang profesional, Robert menanggapi santai.

“Terserah dia mengatakan apa. Yang antar kan bukan hanya Satpoll PP tapi ada juga dari Dinas Sosial,” katanya. (mag03/pra)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button