Berita

Pemilu Paling Melelahkan

FaseBerita.ID – Pemilu serentak tahun 2019 disebut sebagai pemilu yang paling melelahkan bagi petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Sejak TPS dibuka pukul 17.00 WIB, banyak KPPS masih berkutat mengisi berita acara hingga pagi keesokan harinya.

Desrianto Saragih, Ketua KPPS TPS I Nagori Simbou Baru Kecamatan Raya, mengaku baru pertama kali menjadi anggota KPPS dan langsung diangkat jadi ketua. Bersama enam rekannya yang sudah berpengalaman menjadi KPPS pada pemilu sebelumnya, mereka mulai bertugas sejak Pukul 06.00 WIB, untuk mempersiapkan pemungutan suara dengan memulai membuka kotak suara bersegel, mengeluarkan surat suara dan memeriksa kelengkapan. Itu dilakukan sebelum pemungutan suara dilaksanakan.

“Saya memang pertama kali, tetapi rekan-rekan sudah banyak yang berpengalaman. Kita bisa menyelesaikan penghitungan sampai tengah malam. Bahkan rekan di TPS lain, hingga pagi baru tuntas,” kata Desrianto Saragih.

Dijelaskan Desri, proses pemungutan suara kali ini melelahkan semua petugas dibandingkan pemilu sebelumnya. Surat suara berjumlah 5, yakni untuk Pilpres, DPD, DPR RI, DPRD Sumut dan DPRD Kabupaten. Penghitungan masing-masing surat suara diiringi dengan pengisian formulir penghitungan surat suara.

“Kita kelelahan saat mengisi banyak formulir, sementara sudah malam hari. Tubuh sudah lelah dan mengantuk, hingga berkurang konsentrasi untuk pengisian data. Hingga kadang ada yang salah, hingga perlu pengulangan atau perbaikan,” kata Desrianto Saragih.

Sementara Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) Nagori Simbou Baru Diwan Batubara mengatakan, masing-masing KPPS sudah mengikuti bimbingan teknis. Namun diakuinya, pemilu kali ini banyak KPPS yang kewalahan dalam pengisian berita acara yang disiapkan dalam setiap laporan hasil penghitungan suara.

“Kita periksa, banyak kesalahan. Pengisiannya perlu perbaikan. KPPS kemudian melakukan perbaikan, sebab jika kotak suara dibawa ke kecamatan ternyata salah dalam pengisian data, bisa menjadi temuan,” katanya.

Dijelaskan Diwan, di Simbau Baru ada tiga TPS, dari sebelumnya hanya dua TPS. Karena ada penambahan TPS, banyak KPPS wajah baru.

Sementara Komisioner KPU Kota Siantar Gina Ginting mengatakan, masalah di TPS di Siantar hanyalah masalah administrasi seperti kekurangan surat suara tetapi itupun langsung dapat segera diatasi.

“Hanya satu masalah yang membuat Pemilu di Kota Siantar tercemar, ya itu masalah Ketua KPPS yang tidak hadir di TPS 15 dan 25 Siantar Utara, Kelurahan Melayu itu pun kita KPU langsung turun ke lapangan dan menyelesaikan masalah tersebut sampai semuanya terkendali aman,” ujar Gina Ginting.

“Kami mengapresiasi kinerja KPPS yang telah bekerja keras,” terangnya.

Gina Ginting mengakui bahwa formulir yang harus diisi oleh petugas KPPS yang menyita waktu dan pikiran.

“Ada cara yang kita upayakan tetapi belum efektif yakni dengan foto copy berita acara. Tapi ya karena penghitungan suara selesainya malam hari sehingga tidak ada lagi tempat foto copy yang buka. Kita akan cari solusinya agar di pemilihan-pemilihan berikutnya bisa terlaksana dengan efesien,” ujar Gina. (mag04/pra/esa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button