Berita

Pembukaan Konferensi Pemimpin Gereja Lutheran Asia

Pdt Dr SAE Nababan: Mana Duluan, Keadilan atau Perdamaian?

SIANTAR, FaseBeritaID – Ibadah pembukaan Lutheran World Federation (LWF) Asia Church Leadership Conference digelar di Gereja HKI Immanuel Jalan Melanthon Siregar Pematangsiantar, Kamis (3/10/2019).

Di dalam kotbahnya yang diambil dari Mikha 6:8, ‘Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?’.

SAE Nababan mengatakan, tema dari Konferensi Pemimpin Gereja Lutheran Asia ini diambil dari visi LWF 2019-2024: Dibebaskan oleh anugerah Tuhan, sebuah persekutuan di dalam Tuhan, hidup dan bekerja bersama demi dunia yang adil, damai dan harmonis.

“Tema ini dipilih untuk memperkuat hubungan antar pemeluk agama sebagai strategi untuk hidup bersama di antara para pemeluk agama yang berbeda di Asia,” tegasnya.

Lanjutnya, seruan di dalam teks Alkitab ini berbunyi: Lakukanlah Keadilan! “Memang, perdamaian dan keadilan keduanya saling berjalinan, tetapi mana yang lebih dahulu?,” tanya SAE Nababan dalam khotbahnya.

Pdt SAE Nababan mengatakan bahwa kondisi itu mengingatkan dirinya pada satu debat panas 30 tahun yang lalu dalam suatu pertemuan yang disponsori oleh Dewan Gereja Dunia yang membicarakan: perdamaian, keadilan, dan keutuhan ciptaan. Sebagian besar peserta dari Utara/Barat mempertahankan bahwa orang Kristen terpanggil lebih dahulu menghadirkan perdamaian dan barulah setelah itu keadilan. Sebaliknya, peserta yang dari Selatan/Timur mendesak bahwa tidak ada perdamaian tanpa keadilan sehingga urutan yang benar sebaiknya: keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

“Kami dukung pendapat itu dengan pengalaman-pengalaman di Asia bahwa jika perdamaian yang lebih dahulu maka boleh jadi itu suatu penipuan, suatu perdamaian yang hanya di permukaan atau buatan dan dangkal, yang ditimpakan oleh rejim yang otoriter dan berkuasa untuk menutupi ketidakadilan, penindasan, dan pelanggaran hak-hak azasi manusia, dan untuk mengabadikan status quo, seperti di Korea Selatan, Filipina, Myanmar dan Indonesia saat itu,” jelasnya.

Menurut SAE Nababan pada akhirnya semua peserta sepakat bahwa urutannya adalah: Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC). Dan bahkan hingga sekarang kita mengetahui bahwa di level dunia, tanpa keadilan korporatokrasi – kombinasi perusahaan multi nasional, mega banks, dan pemerintahan militer masih terus dengan liar mengeksploitasi sumber alam di manapun di dunia ini tanpa mempertimbangkan nasib masyarakat di sekitarnya dan lingkungan, menciptakan gap yang semakin lebar antara yang kaya dan yang miskin, dan juga mengabaikan dampak-dampak lokal.

“Selama gap antara yang kaya dan yang miskin, baik secara global maupun lokal, melebar maka tidak akan ada perdamaian,” tandasnya.

Dalam kebaktian pembukaan tersebut juga ditampilkan beberapa lagu pujian persembahan dari pemuda, kaum ibu dan dihadiri ratusan jemaat dari berbagai denominasi gereja se-Asia.

Di akhir ibadah digelar perjamuan kudus yang dipimpin Pdt SAE Nababan dan Ephorus HKI Pdt M Pahala Hutabarat MM. (rah)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker