Berita

Peluang Pariwisata Berbasis Gedung Sejarah Kota Siantar

Bedah Buku dan Jelajah Drone Heritage

SIANTAR, FaseBerita.ID-Buku Potret Siantar Tempo Dulu terbit untuk cetakan pertama September 2020 oleh Simetri Institute. Penulisnya adalah kalangan akademisi dari Unimed Medan Erond L Damanik, Daniel HP Simanjuntak dan Daud. Dua minggu setelah tiba Siantar, tepanya di Rayantara Literasi sudah habis dipesan oleh peminat dan pencinta sejarah Kota Siantar.

Dalam paparannya pada diskusi terbatas bedah buku dan jelajah drone di Hotel Grand Palm Jl MH Sitorus Pematangsiantar, Minggu (15/11), Erond Damanik menyampaikan  ekpansi perkebunan sejak tahun 1800-an oleh kolonial Belanda yang terbuka pintu dari pelabuhan Belawan Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai terus berlangsung hingga menuju wilayah Pulo Holang, Kerajaan Siantar. Dalam catatan berikutnya menjadi embrio Kota Pematangsiantar pasca pengasingan Raja Siantar Sang Naualuh Damanik ke Bengkalis.

Buku menyajikan data sekitar 50-an gedung sejarah peninggalan kolonial Belanda bersumber foto KITLV Belanda serta data lapangan, kini hanya sedikit yang tersisa , sebagian gedung sejarah bernuansa Art Deco tersebut sudah rusak, tanpa perawatan, terbiarkan. Bahkan kupak-kapik, hilang hancur digantikan bangunan modern yang baru. Hanya beberapa yang masih terpelihara termasuk Gereja GPIB, Taman Asuhan, Rumah Bupati Radjamin Purba, RS Tentara, Taman Hewan, Stasiun Kereta Api, dan Museum Simalungun.

“Salah satu solusi alternatif berdasarkan kajian penelitian ini, bila tidak ingin kehilangan identitas kota,  Siantar membutuhkan paradigma baru yaitu city tour, pariwisata berbasis gedung sejarah,” tegasnya

Pemko Siantar harus mendampingi gedung peninggalan sejarah, bila tidak ingin seluruhnya hilang satu per satu merunut waktu. Sebuah kewajiban Pemda berlandaskan UU No 11 tahun 2010 Cagar Budaya dan UU No 5 tahun 2017 Pemajuan Kebudayaan.

“Tak pelak, denyut pembangunan jalan tol Kuala Namo – Siantar – Parapat Kawasan Danau Toba akan terus bergema , hingga peran UNESCO yang sudah mengesahkan Danau Toba sebagai Geopark Taman Bumi tingkat dunia, peluang yang harus ditangkap,” tambah Erond.

Sementara Abram Sinaga, sebagai pembanding dari sisi perencanaan kota melihat urgensi penyelamatan, gedung juang di Jalan Merdeka (sebelah lapangan parkir Pariwisata) dalam keadaan rusak berat dan kosong.

Bangunan tersebut  dahulu adalah Simaloengoen International Club, cafe tempat bersantai pejabat kerah putih perkebunan. Jika gedung ini direnovasi, rawat dan tata kelola dengan baik dapat mendatangkan wisatawan dengan data tarik artistik Art Deco seperti halnya Braga Bandung. Ia bahkan sedang membuat miniatur SIC sebagai maket dari kajian novel nya yang terbaru.

Sementara Defri Simatupang dari Balai Arkeologi Sumut menyatakan regulasi penting, hal yang sangat mendesak adalah dibentuknya Tim Ahli Cagar Budaya Kota Pematangsiantar dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dengan anggota yang memiliki kompetensi , juga mampu melakukan advokasi terhadap pembiaran heritage kota Siantar.

Dalam diskusi yang dimoderatori Sultan Saragih ini juga membuka ruang pendapat dari Rupina Aruan dari GPIB , Cynthia Zukfah perwakilan  Radio Cendarwasih, Bamim dari Taman Hewan, Uga dari Dikjar Kota Siantar, Parjalang Traveller bersama dengan Sanggar Budaya Rayantara, Gema Puan Maharani, KBA GKPS Yogyakarta dan Patunggung Simalungun sepakat sinergi untuk menindaklanjuti rumusan baru city tour tersebut pada awal tahun 2021.(esa)

iklan usi



Back to top button