Berita

Pelayanan Rumah Sakit Swasta di Aek Loba Dikeluhkan Anggota DPRD Asahan

ASAHAN, FaseBerita.ID – Keluarga korban kecelakaan lalulintas di Aek Loba Pekan Kecamatan Aek Kuasan Kabupaten Asahan mengaku kecewa dengan buruknya pelayanan kesehatan yang diberikan oleh salah satu rumah sakit di daerah tersebut.

Terlebih pihaknya harus membayar perawatan dengan biaya mahal yakni sebesar Rp 2,2 juta untuk 15 jahitan dan perawatan selama 1 jam.

Kekesalan tersebut dibagikan oleh M Reza Andhika yang juga merupakan anggota DPRD Asahan dari Partai Gerindra dan termasuk dalam anggota legislatif termuda di Bumi Rambate Rata Raya. Unggahan tersebut dibagikannya pada akun facebooknya pada Jumat (2/10/2020) malam dan telah 107 kali dibagikan.

Kejadian bermula setelah rekan sekaligus keluarganya mengalami kecelakaan lalu lintas pada Jumat (2/10) sekitar pukul 20.00 WIB di desa Sengon Sari, Aek Loba, Asahan. Korban saat itu langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Aek Loba Kecamatan Aek Kuasan karena mengalami sejumlah luka.

“Mendengar informasi tersebut saya langsung lihat keadaan pasien yang juga teman saya, Namun yang menjadi kekecewaan saya malam ini adalah saat pihak rumah sakit menyarankan di rujuk ke Kisaran,” ujarnya.

Ia pun menghubungi ambulan di luar yang disediakan rumah sakit. Namun saat akan membawa pasien keluar rumah sakit dan membayar biaya perawatan disinilah kekecewaan pihak keluarga.

“Namun ketika pembayaran saya dan pihak keluarga bingung melihat harga yang saya rasa tidak masuk di akal. Ada 15 jahitan katanya diberikan ke pasien, lalu ada obat-bat dan penanganan perawatan selama 1 jam ditagih biaya Rp 2.200.000 besarannya,” tulis Reza dalam unggahannya.

Situasi semakin panas saat ternyata pasien yang dirujuk tidak diberikan infus saat dalam perjalanan dari Aek Loba menuju Kisaran dengan perjalanannya kurang lebih satu jam. Reza mengau dibentak oleh salah seorang dokter di sana.

Tambah kekecewaan lagi seorang dokter muda dan saya rasa berpendidikan juga terdidik, bentak saya hanya karena saya mau pasien dirujuk dengan infus tetap terpasang. Namun pihak RSU Lina tidak mengizinkan karena ada syarat harus bawa perawat kalau mau infus tetap terpasang.

Perhitungan saya dan keluarga tepat ternyata tidak membawa perawat dan tidak pakai ambulance mereka saja sudah begitu bagaimana kalau kita pakai fasilitas rs tersebut, tidak ketulungan saya rasa harga nya. Infus sudah terbayar namun tidak kita bawak di karenakan aturan yang mereka buat katanya!.

Sampai saat ini tidak ada etikat baik pihak RSU LINA AEK LOBA terhadap saya dan pihak keluarga atas kejadian itu. Itu membuktikan mereka tidak memanusiawikan seorang pasien yang juga manusia. Infus di bayar tapi tidak izinkan di bawak,padahal setau saya infus juga untuk penambah tenaga. Tapi yah sudahlah itulah mirisnya negeri ini,dan saya mengalami nya sendiri,” tulisnya.

Terpisah, Humas RSU Lina, Adelina saat dihubungi mengaku bahwa tim medis yang menangani pasien kecelakaan atas nama Muhammad Rizki telah menjalankan tugasnya sesuai aturan yang berlaku.

Adelina menilai, pangkal permasalahan bermula ketika salah satu anggota Asahan ingin membawa pasien ke salah satu rumah sakit di Kisaran dengan menggunakan ambulans pribadi, namun tanpa ada pengawasan dari tim medis rumah sakit mereka.

“Dia (Reza) yang buat masalah. Dia ngotot bawa pasien tapi minta infus tetap terpasang. Kami tolak karena kami hanya jalankan peraturan, Undang-undang Kesehatan, infus bisa tetap terpasang asal ada pengawasan dari perawat. Tapi dia tetap terus bertekak dengan dokter kami,” jelas Adelina yang dihubungi wartawan via telepon seluler.

Adelina pun tidak terima bila RSU Lina dinilai ada menaikkan tarif biaya perawatan dan obat-obatan dalam menangani pasien.
“Kalau masalah harga itu sudah murah, sudah kami kurang-kurangi. Tanya aja rumah sakit lain,” terangnya.(per/fi)





Back to top button