Berita

Pelaku Penikaman Menko Polhukam Wiranto, Asal Medan

BANTEN, FasBerita.ID – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto ditikam dua kali menggunakan gunting di pintu gerbang Lapangan Alun-alun Menes Desa Purwaraja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Kamis (10/10/2019) sekira pukul 11.55 WIB. Wiranto ditusuk saat ingin meninggalkan Pandeglang di hellypad Lapangan Alun-alun.

Pelaku penikaman, pasangan suami istri (pasutri). Suaminya yang merupakan eksekutor, Syahril Alamsyah alias Abu Rara. Pria kelahiran Medan, 24 Agustus 1988 itu tercatat sebagai warga Jalan Alfakah VI, Lingkungan V, Tanjungmulia Hilir, Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara. Sedangkan istrinya, Fitri Andriana Binti Sunarto, kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 5 Mei 1998.

Informasi dihimpun, Syahrial Alamsyah alias Abu Rara (31) selama menetap di Medan memiliki kemahiran mengoperasikam komputer. Dalam kèsehariannya, pria yang akrab disapa Alam ini jarang bergaul, namun rajin beribadah ke musalla, tidak jauh dari rumahnya.

“Saya tahu kali. Dia sering kami panggil Alam. Sebelum rumahnya digusur kena pembebasan jalan tol Medan-Binjai, dia (Alam) sehari-hari pandainya main komputer. Tapi, dia jarang bergaul keluar rumah,” kata Ani, warga sekitar.

Diketahui, pria yang telah memiliki dua anak perempuan ini, ia telah bercerai dari istrinya yang diduga akibat ia tidak memiliki pekerjaan menetap. Untuk aktivitas kesehariannya, Alam mengikuti jamaah pengajian.

“Dulu, sebelum dia (Alam) cerai dengan istrinya, sempat buka mesin judi dingdong. Pernah pun digerebek polisi. Setelah itu, kami lihat dia (Alam) memilih untuk menekuni main laptop dan komputer di rumah,” beber warga.

Setelah kabar perceraiannya, Alam tinggal bersama dua anaknya. Warga sekitar hanya mengetahui Alam rajin beribadah. Setelah adanya proyek jalan tol pada tahun 2017, Alam tidak lagi tinggal di rumah itu setelah mendapat kompensasi ganti rugi.

“Setelah ganti rugi, kami tidak tahu ke mana si Alam pindah. Baru tahu dia (Alam) ternyata pelaku penikaman Wiranto. Yang jelas, selama ini si Alam orangnya pendiam dan tertutup, kami benar – benar tidak menyangka,” celoteh warga.

Warga lainnya, mengatakan, Alam yang juga sering disapa Fal menghabiskan masa kecilnya di kawasan Jalan Alfakah, hingga akhirnya sekitar setahun lalu ia merantau ke Banten.

“Dulu dia kerja dan punya kantor sendiri bagian administrasi ijazah di Medan. Usaha isi ulang air mineral juga pernah. Dia aktif ikut pengajian baru-baru ini,” kata HT, warga Tanjungmulia Hilir, kemarin.

Sepengetahuan warga di Tanjungmulia Hilir, Fal alias Abu Rara memang orang yang hampir dikenal mulai Jalan Alfakah I hingga Jalan Alfakah VI.

“Orangnya pendiam dan nggak neko-neko. Kalau orang Alfaka, pasti taulah sama Bang Fal ini,” ujarnya lagi.

Dari cerita warga, Fal alias Abu Rara sudah menikah dua kali. Dengan istri pertama, ia sudah bercerai sekitar lima tahun lebih dan hidup menduda.

“Kemudian dia menikah lagi dengan istri kedua, tapi nggak lama bercerai lagi. Dia jadi duda agak lama juga, lalu merantau ke Jawa,” katanya.

Ia menambahkan, Fal alias Abu Rara tinggal di Jalan Alfaka VI, di rumah orangtuanya. Saat ini rumah mereka terkena pembebasan lahan Tol Binjai-Medan.

“Rumahnya sudah dirubuhkan untuk pembangunan jalan tol. Bang Fal waktu itu masih di Medan. Setelah itu, barulah dia merantau,” jelasnya.

Di Banten, Abu Rara dan istrinya, Fitri tinggal di rumah kontrakan di Kampung Sawah Desa Menes, Pandeglang. Ketua RT Kampung Sawah, dekat Alun-alun Menes, Kabupaten Pandeglang, Mulyadi, mengatakan, keduanya tinggal di sebuah kontrakan petak yang disewa sejak Februari 2019.

“Mulai ngontrak kira-kira Februari, sudah sekitar 7 bulanlah. Pertama masuk, yang laki-laki bernama Syahril Alamsyah sama anaknya, perempuan umur sekitar 13 tahun,” kata Mulyadi.

Kepada Mulyadi, Syahril mengaku berbisnis online berbagai macam barang, mulai madu, pakaian anak-anak, pulsa, dan travel.

Saat pertama masuk ke kontrakan di Kampung Sawah, kata Mulyadi, Syahril tidak membawa istri. Namun tiga bulan lalu, sekitar Agustus, dia meminta izin akan menikah di Bogor.

“Dia minta izin menikah di Bogor. Pas balik lagi ke sini, sudah bawa istri, bercadar, sekitar usia 19-20 tahunan,” kata Mulyadi.

Mulyadi mengaku, tidak menaruh curiga apapun terhadap keluarga Syahril. Sebagai Ketua RT, dia hanya menjalankan tugasnya, seperti menanyakan identitas dan pekerjaan sehari-hari.

“Makanya saya kaget pas tahu mereka pelakunya, nggak nyangka,” kata dia.

Pura-pura Salaman

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, mengungkapkan peristiwa penikaman terhadap Wiranto, terjadi saat dirinya menyalami warga. Dedi mengatakan awalnya kedua terduga pelaku pura-pura mau bersalaman dengan Wiranto.

Situasi saat Wiranto ditikam pelaku.

“Ketika pak Wiranto menuju mobil, seperti biasa (masyarakat) meminta salaman, pejabat menyalami juga,” ujar Dedi di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Kamis (10/10).

Saat itu, Wiranto sedang berjalan ke arah mobil setelah menghadiri acara. Pelaku yang memakai gunting lalu menyerang Wiranto di bagian perut.

Kapolsek Menes, Kompol Dariyanto yang melakukan pengamanan juga terkena tusukan di punggung. Selain itu, ajudan Wiranto, Fuad, juga tertusuk di dada sebelah kiri atas. Sedangkan Wiranto tertusuk di tubuh bagian depan.

“Bagian pengamanan sudah melakukan pengamanan. Tapi dalam waktu yang sangat singkat, seorang yang diduga pelaku menusukkan benda tajam kepada beliau dan saat itu Kapolsek ada di tempat,” tutur Dedi.

Akibat serangan tersebut, Wiranto dan korban lainnya dibawa ke Rumah Sakit Pandeglang. Sementara dua pelaku langsung diciduk dan masih menjalani pemeriksaan.

Informasi lainnya, penyerangan terhadap Wiranto terjadi setelah dia menghadiri acara di Universitas Mathla’ul Anwar di Kampung Cikaliung, Desa Sidanghayu, Pandeglang, Banten. Wiranto hendak pulang ke Jakarta usai menghadiri peresmian Gedung Kuliah Bersama di Universitas Mathla’ul Anwar. Dia diserang saat berada di sekitar Alun-alun Menes, Pandeglang. Ketika itu dia baru keluar dari mobil, kemudian diserang seseorang dari arah samping mobil. (berbagai sumber)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button