Berita

Pelajar Penerima KIP di SMAN 1 Kolang Ngaku Cuma Terima Bantuan Sekali

TAPTENG, FaseBerita.ID – Program Indonesia Pintar (PIP) melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) adalah pemberian bantuan tunai pendidikan kepada anak usia sekolah 6 sampai 21 tahun, yang berasal dari keluarga miskin, pemilik Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), peserta Program Keluarga Harapan (PKH), yatim piatu, penyandang disabilitas, korban bencana alam/musibah. Setiap penerima bantuan akan mendapat uang tunai sesuai dengan jenjang pendidikannya.

Untuk tingkat SD, masing-masing-masing-masing siswa akan mendapat dana sebesar Rp450.000 per tahun.

Kemudian untuk tingkat SMP Rp750.000 per tahun dan tingkat SMA Rp1.000.000 per tahun.

Artinya, setiap siswa akan meperoleh bantuan sebanyak 3 kali, sampai penerima bantuan menyelesaikan studinya di jenjang pendidikan tersebut.

Namun, beda dengan siswa penerima bantuan yang digagas oleh Presiden Joko Widodo tersebut di SMAN 1 Kolang, Tapteng. Banyak siswa yang mengaku hanya menerima sekali bantuan selama mengikuti pendidikan di sekolah tersebut.

Seperti yang dialami seorang siswa, yang tak ingin namanya disebutkan, yang kini telah duduk di bangku kelas XII.

Dia mengaku hanya menerima sekali bantuan, yakni saat dirinya masih duduk di bangku kelas X. “Hanya sekali saja, waktu kelas I. Kelas II dan kelas III, gak pernah lagi,” katanya.

Sementara menurutnya, bantuan tersebut sangat dia butuhkan. Sejak ditinggal mati ayahnya, hanya ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya banting tulang menjadi buruh tani di desanya di daerah Kolang. “Bapak sudah lama meninggal, hanya ibu yang ada. Ibu kerja sebagai petani,” ujarnya.

Ironisnya lagi, siswa ini mengaku tidak pernah memegang buku tabungan bantuan tersebut. Bantuan yang diterimanya pada saat masih duduk dibangku kelas X, diterima dari salah seorang guru. “Pak guru yang ngasih uangnya sama aku. Kalau bukunya, gak tahu aku ke mana, gak pernah diberikan,” pungkasnya.

Guna memastikan informasi yang diperoleh dari siswa tersebut, wartawan Koran ini mencoba menemui Kepala SMAN 1 Kolang, namun tidak berhasil. Menurut salah seorang guru di meja piket, Kepala Sekolah sedang tidak berada di sekolah.

Begitu juga dengan Wakil Kepala Sekolah dan bagian Tata Usaha, sedang ada urusan di luar sekolah. Padahal, jam saat itu masih menunjukkan pukul 11.30 WIB atau masih jam belajar mengajar.

“Kepala sekolah ke dinas, ada urusannya. Wakil kepala sekolah pun lagi keluar. Bagian Tata Usaha juga gak lagi keluar. Semuanya pas lagi keluar,” kata guru wanita yang duduk di meja piket.

Amatan, kondisi belajar mengajar saat itu sedang tidak kondusif karena banyaknya kelas yang tidak mempunyai guru. Kondisi tersebut membuat siswa banyak yang keluyuran dan beraktivitas di luar kelas. (ts)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker