Berita

Oknum PNS di Taput Diduga Terlantarkan Istri dan Anak, Terancam Dilapor Polisi Pidana KDRT

TARUTUNG, FaseBerita.ID – Seorang wanita dengan 2 anaknya menuntut pertanggungjawaban dari suaminya SHS, yang merupakan pejabat di Pemkab Taput. Menurut wanita bernama Elsa Lorenza (24) ini, SHS sudah 2 tahun tidak pernah memberi nafkah secara lahir dan bathin.

Bahkan, saat ditemui di rumahnya di Tarutung, wanita yang tinggal di Jalan Cempaka 2, Perumnas Helvetia Medan, bersama dengan kedua orangtuanya pernah diusir mentah-mentah oleh SHS.

Kepada wartawan, Elsa mengaku menikah dengan SHS sejak tahun 2015, dan dari hubungan itu mereka dikaruniai 2 anak. “Dia Kabag Umum Pemkab Taput, namanya SHS. Dia suami saya, saya istrinya. Kami nikah tanggal 30 September 2015. Anak kami sudah 2, sepasang. Anak pertama usia 4 tahun, yang kedua 2 tahun,” kata Elsa mulai bercerita sembari menunjukkan bukti berupa foto pernikahannya dengan SHS dan surat nikah, Kamis (21/11/2019).

Sekilas, ibu muda ini bercerita awal mula dirinya kenal dengan SHS di sebuah restaurant di Medan pada tahun 2014. Saat itu, SHS mengaku bernama Alex Sani dan masih lajang. Hubungan asmara keduanya berlanjut hingga dia hamil di luar nikah. Tahun 2015, keduanya akhirnya dinikahkan, hingga anak pertama lahir 7 Desember 2015 di Klinik Utama Mariani Medan. Pada surat lahir anaknya, SHS masih bernama Alex Sani.

“Awalnya, saya gak tahu dia itu siapa. Bahkan nama aslinya pun saya tidak tahu. Dulu dia mengaku namanya Alex Sani. Kenalnya itu di restoran di Medan pada tahun 2014. Dari itu, kita kenalan, berlanjut dan saya hamil. Karena terlanjur hamil, pada tahun 2015, kita nikah,” ungkapnya.

Tak hanya itu, pada saat nikah, SHS punya KTP dangan nama Alex Sani, lahir di Surabaya 25 Mei 1979, dengan alamat tinggal jalan Masjid Gang Rasmi, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Sunggal Medan. “Saya ada buktinya semua, surat nikah kami. KTPnya ada, KTP Medan atas nama Alex Sani. Setelah menikah, kami tinggal di rumah kontrakan di Jalan Gaperta selama 3 tahun,” tukasnya.

Seminggu setelah anak pertama mereka lahir, Elsa baru tahu kalau SHS telah membohonginya dan keluarganya. Dia mendapat informasi, kalau suaminya bukan bernama Alex Sani, melainkan SHS. Tak hanya itu, SHS ternyata sudah memiliki istri dengan 2 orang anak yang tinggal di Tarutung, Taput. “Ketahuan dia namanya waktu anak saya usianya 1 minggu. Ketahuannya dari teman. Setelah saya konfirmasi sama dia, awalnya tidak mengakui. Kemudian, setelah saya cari tahu, ketemu, dia kemudian mengaku sendiri. Dia juga mengaku bekerja sebagai PNS di Tarutung dan sudah punya istri dan anak. Anaknya juga sepasang,” pungkasnya.

Setelah ketahuan, keduanya sempat cekcok, namun berujung damai hingga Elsa mengandung akan kedua. Sebelum anak keduanya lahir pada tahun 2017, mereka kembali cekcok, hingga SHS pergi meninggalkan Elsa dalam keadaan mengandung anak kedua dan tak pernah ada kabar berita.

“Setelah pisah, saya balik ke rumah orangtua saya di Perumnas Helvetia. Karena, sampai sekarang saya dan anak-anak tinggal di rumah orangtua. Orangtua saya yang menanggung hidup kami. Karena dia sudah tidak menafkahi saya dan anak-anak saya lagi sejak tahun 2017, sejak anak saya nomor 2 masih di kandungan. Pokoknya sudah tidak ada lagi dinafkahi lahir batin,” ungkapnya.

Dua tahun berlalu, tiba-tiba SHS datang ke rumah orangtua Elsa. Kesempatan itu digunakannya untuk menuntut pertanggungjawaban dari SHS. Saat itu, SHS berjanji akan datang 2 hari lagi dan memberikan tanggungjawabnya kepada Elsa dan 2 buah hati mereka. “Ternyata, dia bohong sama kami. Sampai sekarang dia tidak pernah lagi datang. Malah, nomor saya diblokirnya dari Hpnya. Pertemanan saya dihapus dari facebook. Sejak itu, sudah tidak ada kabar lagi dari dia,” pungkasnya.

Tidak terima dengan perbuatan SHS, Elsa dan anaknya bersama dengan kedua orangtuanya kemudian mendatangi rumah SHS di Tarutung Oktober 2019. Namun sayang, saat Elsa meminta pertanggungjawaban terhadap hidupnya dan kedua anaknya, SHS malah mengusir mereka dan tidak mengakui hubungan mereka.

“Jadi, sampai sekarang dia gak ada ngubungi kami lagi. Makanya kemarin, kami datang ke Tarutung, ke rumahnya sama orangtua saya, bulan Oktober 2019. Tapi, dia tidak terima dan mengusir saya dengan orangtua saya. Bahkan dia tidak mengakui anak saya itu anak dia. Waktu kami datang kerumahnya sempat ketemu sama istri pertamanya. Tapi saya gak dikasih ngomong sama istrinya. Malah istrinya disuruh masuk, sama anak-anaknya,” ketusnya sambil menunjukkan video rekaman kedatangan mereka ke rumah SHS.

Tidak ingin membuat keributan, Elsa dan kedua orangtuanya kembali ke penginapan. Beberapa jam kemudian, SHS bersama beberapa orang temannya datang mengajaknya berdamai dengan menawarkan sejumlah uang. “Dia datang, dia minta perdamaianlah. Kita cerita disitu, kita ngomong. Karena tidak sesuai dengan apa yang mau dia berikan kepada anak saya, ujungnya tidak ada klarifikasinya. Dia bilang Rp30 juta, untuk anak saya sekolah. Setelah itu, hubungan kami putus katanya,” pungkasnya.

Elsa mengaku akan melaporkan perbuatan SHS ke Polisi. Bahkan, dia menantang SHS untuk melakukan tes DNA untuk memastikan kalau anak yang dia bawa menemuinya di rumanya adalah anak kandung SHS.

“Saya hanya pengen dia itu mengakui bahwa ini adalah anaknya. Bertanggungjawablah sama anaknya. Saya siap dilakukan tes DNA. Dari dulu, saya sudah bilang, kalau kamu tidak percaya ini anak kamu, silahkan kita tes DNA. Tapi, yang tidak mau itu dia. Kenapa setelah anaknya 2, baru sekarang dia tidak mengakui. Kenapa gak dari dulu aja. Kemarin saya sudah melaporkan ke kepala inspektoratnya langsung. Setelah saya kerumahnya, besok paginya saya langsung ke Inspektorat Taput. Sampai sekarang belum ada tanggapan. Rencana, saya ada melaporkan ke polda, atas dasar KDRT, menelantarkan istri dan anak. Saya mau melaporkan itu. Saya mau minta pengakuan dan pertanggungjawabannya,” ketus Elsa.

Sementara, belum ada keterangan yang diperoleh dari SHS. Saat dihubungi via telepon selularnya, tidak berhasil. Dan pesan singkat yang dikirim melalui layanan Whatsapp, tidak dibalas. (ts)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close