Berita

Oknum Guru Ditahan Pasca Dilaporkan Cabuli 20 Murid SD

TAPTENG, FaseBerita.ID – Polres Tapteng menetapkan JH, oknum guru di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Badiri, Tapanuli Tengah menjadi tersangka, pasca dilaporkan orangtua murid pada Sabtu (28/9/2019) lalu.

Kapolres Tapteng AKBP Sukamat melalui Kasat Reskrim Polres Tapteng AKP Dodi Nainggolan mengatakan, penyidikan terhadap kasus tersebut terus dilakukan. Sebanyak lima saksi terkait kasus ini sudah diperiksa. “Besok kita akan panggil dan periksa lagi 10 saksi, termasuk saksi korban,” ujar Dodi kepada wartawan, Senin (30/9/2019).

Dia menyebut, JH sudah ditetapkan sebagai tersangka dan telah dilakukan penahanan. “Ia sudah tersangka, sudah kami tahan mulai Sabtu lalu,” kata Dodi.

Menurut Dodi, hasil pemeriksaan sementara tersangka belum mengakui perbuatannya adalah tindakan pencabulan. Dalam sejumlah pengakuan, tersangka menyebut memegang tangan muridnya untuk diajari menulis. “Tapi sudah mengarah (pencabulan,red), karena untuk anak kelas 6 SD, nggak mungkin gak bisa menulis dan dalam BAP tersangka bilang duduk dekat korban, ini terancam hukuman kebiri, kita akan terus proses sampai selesai,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, JH diduga mencabuli sejumlah murid perempuan. Disebut-sebut, 20 murid perempuan telah menjadi korban aksi pelecehan seksual yang dilakukannya.

Aksi JH mulai terkuak saat orangtua murid merasa heran anak-anaknya tidak mau masuk sekolah. Setelah diselidiki, ketakutan murid perempuan ini masuk sekolah dikarenakan trauma oleh aksi JH yang sering memperlakukan mereka dengan tidak senonoh, yakni menciumi dan memegang bagian tubuh sensitif para korban. Hal itu juga sesuai pengakuan para murid kepada orangtuanya.

Tidak terima dengan ulah oknum guru bidang studi matematika tersebut, para orangtua siswa dengan didampingi Ketua Umum LSM Peduli Pengembangan Pembangunan Pantai Barat Sumut (P4BSU), Jamil Zeb Tumori SH MAP melaporkan dugaan tindak pidana pelecehan tersebut ke Polres Tapanuli Tengah, Sabtu (28/9) sekira pukul 11.00 WIB.

Jamil Zeb Tumori yang dikonfirmasi di Mapolres Tapteng menyebutkan, aksi cabul yang diduga dilakukan oknum guru matematika itu terjadi saat proses belajar mengajar sedang berlangsung. Namun tidak menutup kemungkinan bisa saja terjadi di luar area sekolah. JH melakukan pelecehan terhadap siswa kelas II dan kelas IV.

Pria yang juga merupakan unsur Pimpinan DPRD Kota Sibolga ini menuturkan, kelakuan bejat yang dilakukan JH telah membuat para pelajar trauma dan takut untuk pergi ke sekolah. Oleh karena itu, ia meminta Polres Tapanuli Tengah secepatnya mengungkap kasus tersebut.

Bila Terbukti Bisa Disuntik Kimia

KETUA Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait sangat menyesalkan dan prihatin terjadinya kembali dugaan kekerasan seksual di lingkungan sekolah, terutama sekolah dasar di Kabupaten Tapanuli tengah.

“Sesuai UU RI No 17 Tahun 2016 tentang penerapan PERPU No 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, junto UU RI No 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No 23 Tahun 2002, JH bisa terancam pidana penjara minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun. Bahkan JH dapat diancam dengan pidana kurungan seumur hidup dan atau tambahan hukuman berupa kebiri (kastrasi) melalui suntik kimia dan pemasangan berupa “chip” untuk monitorong terduga pelaku,” jelas Arist dalam siaran persnya, Senin (30/9/2019).

Oleh sebab itu, katanya, tidaklah berlebihan jika tersangka JH mendapat hukuman setimpal dengan perbuatannya.

“Untuk penerapan ketentuan ini dan pemulihan dan reintegrasi psikologi korban, Komnas PA sebagai institusi yang diberikan mandat, tugas dan fungsi memberikan pembelaan (advokasi) dan perlindungan anak di Indonesia dan Relawan Sahabat Anak Indonesia wilayah kerja Sumut, dalam waktu dekat akan mengunjungi Polres Tapanuli Tengah untuk memberi dukungan dalam penerapan UU RI No 17 Tahun 2017 dan UU RI No 35 Tahun 2014 sekaligus bertemu para korban dan keluarganya untuk diberikan pendampingan reintegrasi psikologis berupa “trrauma healing “dan atau “terapy phsikososial,” jelasnya.

Lanjut dia, Untuk mempermudah pelasanaan reintegrasi psikososial korban dan keluarnya tersebut, Komnas PA juga akan segera berkordinasi dan menggandeng LSM P4PSU Tapteng yang telah mendampingi para korban dan keluarganya. Dia juga mengingatkan bahwa dugaan kejahatan seksual yang dilakukan JH terhadap murid-muridnya merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) setara dengan tindak pidana korupsi, narkoba dan terorisme.

“Saya sangat percaya dengan komitmen dan kinerja Kapolres Tapteng dengan jajaran untuk segera menetapkan dan menjerat JH dengan ketentuan Undang-undang tetsebut dan menolak kata “damai” antara keluarga tersangka dan keluarga korban.”

Menurut dia, predator kejahatan seksual harus dihentikan, baik di rumah, di sekolah maupun di ruang terbuka bagi anak-anak. Dan kepada seluruh pemangku kepentingan perlindungan anak serta aparatur penegak hukum, polisi, jaksa maupun hakim di Tapteng, sudah sepatutnya atas peristiwa memalukan ini mendorong masyarakat, pemangku kepentingan perlindugan anak atas dukungan pemerintah daerah segera mencanangkan bahwa Tapteng darurat kekerasan terhadap anak.

“Dengan situasi ini, akan mendorong masyarakat berpartisipasi dan terlibat membangun kembali sistem kekerabatan melalui gerakan perlindungan anak berbasis kampung atau masyarakat yang terorganisir, sistimatis dan berkesinambungan untuk memutus mata rantai kekerasan terhapap anak,” ungkap Arist Merdeka.

Sementara itu, Ketua P4PSU Jamil Zeb Tumori menyampaikan bahwa kondisi para korban saat ini dalam keadaan trauma, takut dan stres. Untuk itu, diperlukan pendampingan guna memulihkan trauma korban. “Selain itu, kita meminta dukungan Komnas Perlindungan Anak untuk ikut mengawal proses hukum kasus kejahatan seksual ini sampai tuntas dan berkeadilan bagi korban,” jelas Jamil. (mis/dh)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker