Berita

Nelayan Tradisonal Sibolga-Tapteng Bakal Gelar Demo Tandingan

SIBOLGA, FaseBerita.ID – Aksi demonstrasi seribuan warga yang mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Nelayan Bersatu Sibolga-Tapteng beberapa hari lalu, menuntut agar Pemerintah Daerah Sibolga dan Tapteng menggunakan kewenangannya untuk melegalkan kapal pukat trawl beroperasi kembali. Namun hal itu tak sepaham dengan nelayan tradisional yang berencana menggelar aksi demo tandingan besar-besaran. Mereka menuntut penolakan beroperasinya kembali kapal pukat trawl dan sejenisnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Kelompok Nelayan Tolong Menolong (KNTM) Sibolga-Tapteng, Immat Lubis dalam keterangan persnya, Sabtu (19/10/2019) lalu.

“Pasti, kita akan melakukan aksi. Kita menolak usulan para pendemo yang kami duga didalangi oleh cukong-cukong illegal fishing, yang ingin merusak habitat laut. Kita tolak selamanya pukat trawl beroperasi kembali. Permen KP 71/2016 harga mati,” seru Immat dengan lantang.

Sekilas, pria vokal ini menjelaskan bahwa tuntutan para pendemo yang mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Nelayan Bersama Sibolga-Tapteng tidak berdasar. Karena sesuai Permen KP 71/2016, Pemerintah Daerah tidak memiliki wilayah kelautan. “Coba perhatikan, tidak ada lagi Dinas Keluutan di Pemko Sibolga dan Pemkab Tapteng.

Yang ada, dinas perikanan. Jadi, Pemko Sibolga dan Pemkab Tapteng itu, sudah tidak punya laut lagi. Yang punya laut itu adalah KKP. Sesuai dengan Permen 71/2016 pasal 34, monitoring dan evaluasi terhadap jalur penangkapan ikan dan penempatan Alat Penangkap Ikan (API) dan Alat Bantu Penangkap Ikan (ABPI) pada jalur di WPPNRI dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap dan dinas provinsi yang bertanggungjawab di bidang perikanan, sesuai dengan kewenangannya,” terang Immat.

Selain itu, Immat juga mengaku mendukung Danlanal Sibolga untuk menindak pelaku illegal fishing. Meski katanya, para cukong illegal fishing berusaha sekuat tenaga melengserkan Danlanal. “Kami di depan mendukung Danlanal. Berantas semua pukat trawl, kapal bom dan sejenisnya. Jangan ada kompromi dengan mereka para perusak habitat laut. Karena, laut kita ini adalah warisan kita untuk anak cucu kita,” ketusnya.

“Kalau sampai trawl beroperasi, tangkapan nelayan kecil akan berkurang dan tidak cukup lagi untuk kebutuhan hidup. Pukat trawl dan sejenisnya ini sangat meresahkan kami nelayan kecil. Jadi saya ingatkan sekali lagi, jangan pancing amarah nelayan kecil,” tukasnya. (ts)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button