Berita

Masyarakat Totap Majawa Berharap Perhatian Pemerintah

14 Tahun Kami Selalu Was-was, Setiap Hujan Pasti Banjir

MASYARAKAT Totap Majawa Blok X, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, merasa pemerintah kurang memperhatikan daerah mereka. Pasalnya, hampir 14 tahun pembangunan jarang dirasakan masyarakat.

MATIUS GEA, Siantar

Salahseorang warga bernama Monadi (35) menyampaikan keluh kesah mereka, Rabu (12/11/2019). Monadi mengatakan, masyarakat sangat kecewa terhadap pemerintah. Sebab. Meski banjir sering melanda, pemerintah tidak begitu perhatian terhadap masyarakat di sana.

Bahkan, bencana banjir tersebut sudah memakan korban jiwa, pemerintah pun tak juga ada solusi.

“Sudah sejak 14 tahun kami merasakan bencana banjir. Sepanjang tahun kami was-was,” katanya.

Apalagi, tahun-tahun sebelumnya, banjir sudah merendam puluhan rumah warga. Bahkan sampai ada korban jiwa.

Namun, sejak perkebunan teh beralih menjadi perkebunan sawit, sejak itu pula sering terjadi banjir.

Ia mengatakan luapan air itu terjadi karena tanggul PTPN IV jebol. Banjir besar itu terjadi pada sore hari hingga setinggi pinggang orang dewasa.

“Katanya tanggul PTPN IV jebol hingga meluap ke pondok,” ungkapnya.

Monadi mengatakan banjir semalam itu menyapu Desa Totap Majawa Blok X Kecamatan Tanah Jawa dan sekitarnya.

Terpisah, Sulastri (25) warga setempat juga menyampaikan hal serupa. Ia mengatakan mereka mulai trauma bila langit mulai mendung.

“Kalau sudah mendung, ketakutan lah kami, bang. Kami sekarang tak punya apa-apa lagi. Semua sudah dibawa banjir, bahkan nyawa pun sudah mulai terancam,” ungkapnya.

Sedihnya, kata Sulastri, meski bencana sudah melanda daerah itu, namun sejauh ini belum ada perhatian dari Pemkab Simalungun.

“Kami nggak diperhatikan. Kami alami banjir bertahun tahun tak kunjung juga ada solusi. Tak hanya itu, jalan di sini pun sudah rusak parah,” ujar wanita itu sedih.

Amatan wartawan, sejumlah warga tampak sibuk membersihkan rumah masing-masing. Seperti menyedot air yang tergenang di dalam rumah. Beberapa warga berupaya mengangkut batang pohon kelapa sawit yang terbawa arus sungai ke halaman rumah mereka. (*/des)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button