Berita

Massa PMII Orasi di Kantor Satpol PP Madina: Kalau Tak Mampu, Lebih Baik Mundur

MADINA, FaseBerita.ID – Puluhan massa yang mengatasnamakan dirinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Mandailing Natal (Madina) melakukan orasi di kantor Satpol PP setempat, Senin (30/9) sekira pukul 10.00 WIB.

Orasi ini dilakukan karena mereka menilai operasi razia yang digelar Satpol PP hanya menghamburkan anggaran saja.

Sebab, mereka menilai setiap kegiatan operasi razia yang dilakukan oleh instusi penegak perda tersebut tidak memberikan efek jera atau tidak melakukan penertiban.

Hal itu disampaikan puluhan massa aksi saat melakukan unjuk rasa di kantor Satpol PP Madina, Senin (30/9) pagi.

Koordinator aksi sekaligus Ketua PMII cabang Madina, Hilmansyah berkali-kali meneriaki bahwa tempat-tempat prostitusi masih marak di Kabupaten Madina.

Bahkan ia mempertanyakan mengapa tempat atau hotel yang diduga sudah terindifikasi sebagai penyedia prostitusi masih tetap dibiarkan beroperasi.

“Kita akui rekan Satpol PP sering melakukan razia pekat terhadap tempat hiburan malam dan hotel. Tapi kita menilai kegiatan itu hanya menghaburkan anggaran saja. Kenapa? Karena efek jera terbukti tidak ada. Buktinya, lokasi hiburan atau hotel yang dirazia itu tetap beroperasi sampai sekarang,” tegas Hilmansyah di hadapan Kepala Satpol PP dan Polisi yang melakukan pengamanan.

Hilmansyah juga meminta agar Kasatpol PP segera mundur dari jabatannya apabila tidak mampu mengemban tugas sebagai insitusi yang bertugas melakukan penegakan perda di daerah itu.

“Kami rasa pihak Satpol PP lah yang paling bertanggung jawab mengantisipasi sekaligus melakukan penertiban tempat-tempat hiburan malam dan hotel. Kalau Anda (Kasatpol PP, red) tidak mampu menertibkan, lebih baik segera mundur dari jabatannya,” ujarnya seraya menyebut Satpol PP diduga ‘main mata’ dengan pihak-pihak tertentu yang mengelola usaha tersebut.

Mahasiswa Stain Madina ini menyesalkan masih maraknya penyedia tempat atau hotel yang diduga terindifikasi menyediakan prostitusi di daerah itu. Juga terhadap tempat aktivitas hiburan malam yang beroperasi melanggar perda, tetapi tidak ada penertiban.

Menyikapi aksi tersebut, Kasatpol PP Madina Lismulyadi mengatakan, pihaknya dalam menjalankan tugas harus menyesuaikan Standar Operasional Prosedur (SOP).

Menurutnya, pihaknya hanya bertugas melakukan pembubaran dan pendekatan persuasif terhadap aktivitas yang melanggar perda.

“Sesuai program kita dengan pemerintah, kegiatan kita di antaranya ada razia pekat dan razia kasih sayang. Dalam SOP Satpol PP, kita hanya melaksanakan pembubaran dan melakukan pendekatan persuasif. Juga dalam pelaksanaan perda, apabila sudah melebih jam 12 malam, kita wajib melakukan pembubaran kepada pengunjung dengan persuasif, begitu juga kepada pemilik tempat,” jelas Lismulyadi.

Kasatpol yang baru beberapa bulan menjabat ini menyebutkan, pihaknya tidak bisa serta merta melakukan penutupan terhadap tempat atau hotel yang melanggar perda. Pihaknya nanti akan mengkordinasikan dengan pemerintah.

“Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa semua. Hal ini akan menjadi evaluasi bagi kami. Nah, adapun beberapa catatan yang perlu diinformasikan bahwa kami tidak bisa serta merta menutup begitu saja,” ujarnya.

“Begitupun, masalah ini akan kita kordinasikan terhadap pemerintah bagaimana supaya membentuk tim. Apabila izin tidak ada, kita akan menutupnya. Hanya saja, adik-adik mohon bersabar. Karena semua itu ada prosesnya. Masalah ini akan kita koordinasikan dengan pimpinan,” tambahnya.

usai mendengar penjelasan dari Kasatpol PP, massa kemudian membubarkan diri. (Mag-01)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button