Berita

Mantan Bupati Tapteng Divonis Bebas

FaseBerita.ID – Mantan Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Sukran Jamilan Tanjung divonis bebas dalam sidang kasus penipuan yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (5/3). Majelis hakim yang diketuai Erintuah Damanik menilai, Sukran tidak terbukti menipu sebagaimana didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). “Dia divonis bebas karena fakta persidangan tidak ada yang mengaitkan antara kerabatnya (Amirsyah Tanjung) dengan saksi korban. Itulah pertimbangan kita,” ujar Erintuah Damanik kepada wartawan.

Dijelaskan Erintuah, dalam persidangan juga diketahui saksi korban tidak pernah bertemu dengan terdakwa Sukran. Sukran juga tidak ada menerangkan atau menjelaskan sesuatu tentang adanya proyek. “Justru dalam persidangan dia (saksi korban) menyangkal semua itu. Dia tidak ada menjanjikan,” tegas Erintuah.

Erintuah berpendapat, bisa saja Amirsyah Tanjung yang menjanjikan proyek dan menjual nama Bupati Tapteng, Sukran Jamilan Tanjung. “Bisa saja ‘kan? Karena dia seorang bupati, dijanjikanlah pasti ada proyek. Kan bisa saja seperti itu,” kata Erintuah.

Untuk terdakwa Amirsyah Tanjung, Erintuah menjatuhkan hukuman dua tahun penjara. Sebelumnya, jaksa menuntut keduanya dengan hukuman masing-masing tiga tahun penjara. “Untuk Amirsyah Tanjung kita vonis dua tahun penjara. Karena dia memang terbukti ada menerima uang,” pungkasnya.

Amirsyah Tanjung terbukti melanggar Pasal 378 Jo Pasal 55 (1) ke 1 KUHPidana. Ia dinilai bersalah melakukan tindak pidana penipuan sebesar Rp450 juta terhadap korbannya Josua Marudut Tua Habeahan, dengan menjanjikan proyek rehabilitasi Puskesmas di Sibolga pada Januari 2016.

Sebelum proyek dikerjakan, terdakwa terlebih dahulu meminta transferan uang kepada korban sebesar Rp450 juta. Namun ternyata proyek yang dijanjikan tidak ada, sedangkan uang sudah diberikan.

Kuasa hukum terdakwa Sutan Nasution menyambut baik putusan majelis hakim. Menurutnya, putusan hakim telah memenuhi rasa keadilan. “Karena memang fakta persidangan tidak ada ditemukan aliran dana yang diterima oleh terdakwa,” pungkas Sutan.

Sebelumnya pada sidang dakwaan pada tanggal 15 November 2018 lalu, saksi korban, Josua Marudut Tua mengatakan, dirinya ditawari kerabat Sukran Jamilan Tanjung, yakni Amirsyah Tanjung, untuk mengerjakan proyek rehabilitasi puskesmas di Kabupaten Tapanuli Tengah pada tahun 2016. Pagu anggarannya sebesar Rp5 miliar.

“Saat itu, saya juga diperintah Amirsyah untuk mengantarkan uang kepadanya sebesar Rp375 juta,” ucap Josua.

Josua mengatakan, dirinya sempat bertemu membahas proyek tersebut bersama temannya Rolland Limbong dan Amirsyah Tanjung pada Januari 2016 di rumahnya. Josua mengatakan, Amirsyah meminta dirinya mentransfer uang administrasi sebesar Rp375 juta ke rekening seseorang bernama Umar Hasibuan dan Rp75 juta ke rekening Amirsyah sendiri.

“Yang pasti saya sudah memberikan uang beberapa kali. Saya juga sudah berkomunikasi dengan Syukran,” jawab Josua Maruduttua kepada JPU Kadlan Sinaga.

Jaksa dalam dakwaannya menyebutkan, kedua terdakwa melakukan penipuan dengan menjanjikan proyek rehab Puskesmas di Sibolga terhadap saksi Josua Marudut Tua Habeahan. Josua mengatakan sebelum proyek dikerjakan, terdakwa terlebih dahulu meminta transferan uang kepada dirinya. Namun ternyata proyek yang dijanjikan tidak ada, sedangkan korban sudah keluar uang hingga Rp450 juta.

JPU mengancam terdakwa dengan pasal 378 Jo Pasal 55 (1) ke 1 KUHP, dengan Subsider Pasal 4 UU No 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pembrantasan Tindak pidana Pencucian uang Jo Pasal 55 (1) ke 1 KUHPidana.

Satu Lapas dengan Bonaran

Pada Rabu (6/3), Sukran Jamilan Tanjung dimasukkan polisi dan jaksa ke Lapas Klas II A Sibolga, setibanya dari Bandara Dr Ferdinan Lumbantobing Pinangsori menuju Kejaksaan Negeri (Kejari) Sibolga dan langsung menuju Lapas. Kini Sukran pun satu lapas dengan mantan bupati pendahulunya Raja Bonaran Situmeang.

Pantauan, Sukran tiba dari Medan menaiki pesawat Wings Air dengan dikawal beberapa personil Poldasu bersama Kasi Pidum Kejari Sibolga. Saat tiba, Sukran tampak menutupi bagian kepalanya dengan menggunakan jaket warna biru dan tangan tampak diborgol yang ditutupi handuk berwarna kuning yang langsung dimasukkan ke mobil Avanza warna putih menuju kantor Kejari Sibolga.

Sekitar dua jam di Kantor Kejari Sibolga, Sukran langsung dibawa ke Lapas Klas II A di Jalan Tukka yang dipimpin Kasi Pidum Kejari Sibolga. Namun, saat dimintai keterangan, personil Polda yang membawa Sukran maupun Kasi Pidum tidak dapat memberitahu kasus yang menjerat Sukran hingga dimasukkan ke Lapas Sibolga.

“Maaf silahkan dikonfirmasi ke Polda saja, kami tidak berhak memberikan pejelasan,” ujar salah seorang personel dari Poldasu yang ikut mengawal Sukran hingga ke Lapas Sibolga.

Sementara, Kasi Pidum Kejari Sibolga, Syahrul Efendi Harahap saat dikonfirmasi di Lapas Sibolga usai memasukkan Sukran ke Lapas Sibolga mengaku belum dapat memberikan komentar karena hal itu belum dilaporkannya ke Kajari Sibolga Timbul Pasaribu. “Ia nanti saja ya, saya lapor dulu sama pimpinan ini, belum (dilaporkan,red),” ujar Syahrul.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Sibolga, Timbul Pasaribu yang dijumpai di kantornya tidak ada di tempat. Menurut anggotanya, orang nomor satu di Kejaksaan Negeri Sibolga itu sedang ke luar kota. Demikian juga dengan Kasi Intel, juga sedang di luar kota.

Namun, informasi yang berkembang kuat, Sukran ditahan terkait kasus penipuan CPNS Pemkab Tapteng dan ada kaitannya juga dengan kasus Raja Bonaran Situmeang yang juga mantan Bupati Tapteng. (smg/dh)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button