Berita

Malaysia Perpanjang Lockdown, TKI Asal Tanjungbalai Terjebak

FaseBerita.ID – Malaysia melakukan lockdown total dan memperpanjang waktunya hingga 14 April.

Bahkan, jika virus Korona belum mereda, tidak tertutup kemungkinan akan diperpanjang lagi. Tidak sedikit Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia yang mengalami kesulitan.

Karena itu, menurut Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay banyak masalah yang harus segera ditangani.

“Saya menerima banyak pengaduan terkait masalah ini. Termasuk dari organisasi Pusat Penyelesaian Permasalahan WNI di Malaysia dan juga dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia. Saya kira ini tidak bisa dikesampingkan. Kementerian ketenagakerjaan harus segera merumuskan langkah dalam memberikan bantuan kepada mereka,” ujar Saleh dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (27/3).

Bantuan ini perlu diberikan mengingat para PMI di Malaysia banyak yang bekerja di sektor informal seperti buruh bangunan, buruh pabrik, restoran, cleaning service, dan lain-lain.

Mereka yang bekerja di sektor informal ini rata-rata menerima gaji harian atau mingguan. Dengan kondisi lockdown seperti ini, dipastikan mereka tidak bisa bekerja, terutama mereka yang tidak memiliki kontrak kerja resmi.

Pihak majikan tentu dengan mudah melepas mereka tanpa beban. Akibatnya, mereka akan tinggal di rumah atau tempat kos-kosan tanpa penghasilan.

“Menurut informasi yang saya terima, persediaan dan tabungan mereka saat ini sudah sangat tipis sekali. Belum tentu bisa bertahan sampai pertengahan April nanti,” katanya.

Selain itu, banyak juga PMI di Malaysia yang tergolong kelompok non-prosedural. Mereka dikelompokkan sebagai pendatang asing tanpa izin (PATI). Ada juga PMI kita yang bekerja tidak sesuai dengan bidang permit (izin) kerjanya. Katakanlah, misalnya, mereka yang memiliki permit bekerja di perkebunan, tetapi dipekerjakan di restoran dan lain-lain.

“Artinya, banyak PMI kita yang tidak memiliki majikan resmi di sana,” paparnya.

Dalam konteks itu, pemerintah diminta untuk dapat memberikan bantuan kepada para PMI kita tersebut. Bantuan tersebut dapat berupa makanan dan minuman (sembako) selama masa lockdown diberlakukan.

Selain itu, PMI kita juga berharap dapat diberi bantuan alat kesehatan seperti masker, hand sanitizer, dan lainnya.

“Bagi yang ingin pulang ke kampungnya, mereka ingin agar difasilitasi dan diberikan kemudahan,” paparnya.

Karena soal kepulangan, perlu diplomasi dengan pihak otoritas Malaysia. Sebab, dalam situasi lockdown seperti ini tentu tidak mudah untuk meminta izin agar mereka bisa dipulangkan. Perlu dirumuskan jalan terbaik untuk mengatasinya.

“Yang paling penting adalah kehadiran pemerintah harus dirasakan oleh mereka. Mereka juga adalah warga negara kita yang sedang berjuang untuk keluarganya. Kita doakan yang terbaik bagi mereka semua,” pungkasnya.

12 TKI Asal Tanjungbalai Terjebak

Dua belas Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kota Tanjungbalai meminta kepada pemerintah Kota Tanjungbalai agar bisa kembali ke Indonesia yang saat ini terjebak di Malaysia pasca mewabahnya virus Corona di negara jiran Malaysia.

Hal itu diungkapkan Safrizal Tanjung (26), salah satu tenaga kerja indonesia asal Kota Tanjungbalai melalui via whatsapp, Kamis (26/3).

“Kami saat ini berada di Malaysia. Kami warga Kota Tanjungbalai, kami memohon kepada Pemerintah Kota Tanjungbalai agar kami dibantu pulang dan memohon solusi kepada Bapak Walikota dan Wakil walikota bapak sekda. Kami ingin pulang pak,melihat keadaan Malaysia saat ini mencekam pasca mewabah nya virus Corona,” ungkap Safrizal dengan nada sedih.

Pasca mewabahnya virus Corona di Malaysia, TKI tidak diizinkan untuk keluar rumah. “Kami takut virus itu akan menjangkiti kami disini, keadaan kami disini semakin darurat. Stok makanan kami disini juga sudah mulai habis. Kami saat ini hanya makan nasi dengan garam dan air putih, kami disini tidak bisa berbuat apa apa. Pak, kami mohon kepada pemerintah Kota Tanjungbalai agar kami bisa kembali ke Indonesia dan berkumpul dengan keluarga kami,” tutup Safrizal. (ck04/rah)

Unefa

Pascasarjana

Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close