Berita

Louhan Bikin Ikan Pora-pora Punah di Danau Toba

SIMALUNGUN, FaseBerita.ID – Populasi ikan predator setan merah (red devil) atau ikan louhan di perairan Danau Toba, Kabupaten Simalungun semakin tidak terkendali.

Selama dua tahun red devil telah memangsa ikan komersil lainnya seperti nila, ikan mas, mujair, udang dan yang telah punah ikan pora-pora. Akibatnya, nelayan merugi karena hasil tangkapan ikan semakin hari terus berkurang.

Seorang nelayan Tigaras, Arya Sitio mengungkapkan masyarakat sering menyebutkan ikan ini dengan nama ikan Louhan. Ikan ini sangat mudah ditemukan di Danau Toba.

Ikan-ikan berwarna kuning terang dan bersisik serta bergigi tajam ini banyak ditemukan di pinggiran danau dengan cara berkelompok.

Arya Sitio mengatakan, ikan Red Devil ini memiliki tingkat reproduksi yang tinggi dan begitu rakus memakan benih-benih ikan pora-pora, nila, mujair, dan udang.

” Ikan ini mudah ditemukan karena berenang di pinggir danau. Ikan mirip seperti piranha. Masyarakat tidak mau makan ikan itu karena rasanya tidak enak. Kami percaya kalau ikan inilah yang membuat ikan nila dan pora-pora menurun drastis,” ujarnya.Arya mengklaim ikan Pora-pora sudah nyaris tidak ada lagi. Selama memancing, Arya tidak menemukan ikan Pora-pora. Padahal, Menteri Perikanan dan Kelautan di era Presiden Megawati sudah pernah membudidayakan ikan pora-pora ini di sini.

“Sudah tidak pernah ada lagi ikan pora-pora di sini. Sejak dua tahun terakhir populasi terus menurun,” ujarnya.

Arya mengharapkan pemerintah memberikan solusi untuk memusnahkan ikan pemangsa itu. Sebab, selama ini, ia menilai pemerintah kurang melakukan pengawasan terhadap oknum masyarakat yang menyebar benih ikan. Apalagi, ada yang tega menebar ikan predator.

“Kami sebagai masyarakat Danau Toba Tigaras kalau bisa mohon bantuan pemerintah bagaimana caranya memberantas ikan louhan itu,” katanya.

Sementara, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Simalungun Pardomuan Sijabat mengaku tidak tahu tentang keberadaan ikan Red Devil di Danau Toba.

Ia juga tidak tahu tentang penemuan ikan Bawal air yang ditemukan pemancing pada Desember 2019. Ia meminta waktu untuk membahas dengan Kepala Bidang Perikanan. Sebab,  Pardomuan tidak paham ada pemangsa yang sedang hidup di Danau Toba.

“Saya komunikasikan ke kabid dulu. Saya kurang paham soalnya, belum pernah lihat yang begitu,” ujarnya melalui telepon selulernya, Kamis (16/1).

Pardomuan mengatakan berdasarkan penelusuran memang ada pemancing yang menemukan ikan Bawal air tawar dengan berat 13 kilogram.

Saat disinggung tentang ikan Red Devil, Pardomuan mengaku baru mengetahuinya. Hanya saja ia tahu kalau ikan jenis itu punya gigi yang tajam.

“Ikan itu giginya ngeri kali. Sampai sekarang saya tidak tahu harus diteliti lebih lanjut. Kalau kita mau berantas gimana itu ya,” katanya.

Pardomuan jugabelum paham apa penyebab utama menurun populasi ikan Pora-pora di Danau Toba. Ia menilai tersebar ikan Red Devil bisa saja di luar Kabupaten Simalungun.

Pasalnya, ada tujuh kabupaten yang mengelilingi Danau Toba. Sementara berbicara soal pengawasan, ia serahkan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

“Terkait pengawasan, Danau Toba itu kan bukan hanya ada di Kabupaten Simalungun. Ada tujuh kabupaten. Contoh, ada penebaran ikan dilakukam di Kabupaten Tobasa jalan ke tempat kita (Simalungun). Ini sebenarnya jauh sebelumnya, Pora-pora juga sudah terganggu populasinya. Kami gak ada kewenangan untuk itu. Pengawasan juga di situ (Provinsi). Kalau mereka mau tebar dikasih tahulah sama kami,” terangnya.

Sebelumnya, seorang pemancing menemukan ikan Bawal air dengan berat 13 kilogram dari tepi Danau Toba Kabupaten Simalungun.

Penemuan ini menjadi viral di media sosial dikaitkan dengan menurunnya populasi habitat utama Danau Toba. (Mag 04)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close