BeritaLifestyle

Iin Silaban: Bisnis Cake Home Made, Berbahan Premium

SIANTAR, Fase Berita.ID – Sempat bercita-cita menjadi pramugari ketika masih gadis, kini setelah memiliki tiga anak, Iin Silaban memilih menekuni bisnis cake home made (rumahan).

Harga aneka cake atau kue buatan Iin memang relatif lebih mahal karena menggunakan bahan-bahan premium atau berkualitas tinggi.

Bisnis yang dilabeli ‘Iin Cake’ ini sudah berlangsung sekitar lima tahun. Dengan konsep pre order (PO), Iin mengerjakan sendiri pesanan kue di kediamannya, Jalan Marimbun Nomor 124, Kelurahan Kristen, Kecamatan Siantar Selatan, Pematangsiantar.

Menurut Iin, bisnis tersebut berawal dari keinginannya untuk bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Namun sang suami, Verryanto Silalahi SE, lebih senang Iin  beraktivitas atau bekerja di rumah agar bisa tetap mengontrol anak-anak dan kondisi rumah.

Iin pun mulai memikirkan bisnis yang bisa dikerjakannya di rumah. Hingga kemudian ia tertarik mencoba bisnis kuliner.

“Saya bilang ke suami, saya ingin kerja bukan karena uang yang dikasih suami kurang. Tapi memang saya ingin menghasilkan sesuatu atau berkarya,” terang Sarjana Ilmu Komputer dari Sekolah Tinggi Manajemen dan Informatika Komputer (STMIK) Sisingamangaraja Medan ini.

Bisnis cake dipilih Iin karena ia sering membeli cake di toko yang harganya relatif mahal. Iin pun berpikir, sebenarnya ia bisa membuat kue tersebut asalkan ada kemauan kuat untuk belajar dan mencoba. Apalagi Iin memang hobi memasak.

Hingga kemudian Iin mencoba membuat brownies.

“Awalnya rasa kue yang saya buat nggak langsung enak. Selain dimakan sendiri, kue dibagikan ke tetangga, orangtua, dan keluarga lainnya sambil menanyakan apa yang kurang,” tukas alumni SMA Budi Mulia Pematangsiantar ini.

Beberapa kali mengulang pembuatan kue, Iin akhirnya mahir. Hal yang sama dilakukannya untuk jenis kue lainnya, seperti donat, budapest, kue kering, dan lainnya. Teranyar, Iin belajar dan membuat kue lapis legit resep Nyonya Liem yang terkenal enak karena semua bahannya premium dan mahal.

“Saya sempat bertanya-tanya kok lapis legit harganya sampai Rp500 ribu. Kalau rasanya, memang enak. Ternyata bahan-bahannya semua premium. Dalam adonannya, bukan tepung yang dominan, melainkan telur. Proses pembuatannya pun membutuhkan kecekatan dan ketelitian.

Untuk satu lapisan, membutuhkan 20 menit untuk menunggu. Jadi wajar harganya mahal,” terang ibu dari Indry Silalahi, Steven Gomos Silalahi, dan Kevin Silalahi ini.

Bagi Iin, baking is engeenering, so cooking ia an art (membakar/memanggang adalah teknik, sehingga memasak adalah sebuah seni). Ia merasa enjoy dengan bisnis tersebut. Sedikit demi sedikit, alat memasaknya bertambah. Misalnya mixer, dari yang hanya untuk kebutuhan rumah tangga menjadi mixer besar. Begitu juga oven untuk memanggang.

Wanita yang menyempatkan diri untuk olahraga Zumba ini lebih lanjut mengatakan, meski bisa belajar otodidak, namun jika ada kesempatan ia berusaha mengikuti kelas baking. Bahkan, anak kedua dari tujuh bersaudara ini pernah mengundang seorang chef dari Medan untuk kursus memasak langsung di dapurnya.

“Saya merasa tetap harus belajar dengan ahlinya. Rasanya lebih puas. Saya juga enggan mengganti-ganti bahan resep dari yang diberi chef. Sebisa mungkin semuanya sesuai.

Makanya, meski banyak yang bilang kue buatan saya mahal, tapi kan sesuai dengan kualitasnya. Buktinya, banyak yang repeat order atau memesan kembali,” tandas Iin yang menyediakan waktu untuk ke salon, selain untuk perawatan tubuh juga menghilangkan kepenatan.

Pesan Iin, jika ingin berbisnis, pilihlah bidang yang memang dikuasai. Jangan menyerahkan pengelolaan bisnis sepenuhnya kepada orang lain. Iin sendiri mengaku belajar dari pengalamannya sendiri.

Ia pernah membuka bisnis papan bunga. Padahal ia sendiri tidak mahir mengerjakannya, sehingga selalu tergantung pada pekerja. Alhasil, jika pekerja berhalangan, orderan pun terbengkalai.

Iin mengaku, setelah lulus kuliah ia mengikuti seleksi penerimaan pramugari di salah satu maskapai penerbangan Indonesia. Saat itu, kata Iin, ia merasa takjub melihat peserta lainnya yang berpostur tinggi, cantik, dan langsing. Namun Iin tetap percaya diri.

“Untuk tes fisik, saya lulus. Bangga juga ya bisa bersaing dengan yang cantik-cantik. Tapi saya gagal di psikotest,” tukas Iin yang tidak mengulang mengikuti tes pramugari lagi karena dilarang sang ibu.

“Beliau takut pesawat saya jatuh,” lanjut Iin, yang kemudian sempat bekerja di salah satu perusahaan penerbitan di Pematangsiantar.

Namun tidak lama dia bekerja di perusahaan tersebut. Karena keburu diajak menikah.

“Setelah menikah, punya anak, jadi di rumah saja dan sempat usaha papan bunga. Dan kini jadi bisnis kue,” kata Iin, yang juga berpesan agar kaum perempuan tetap berkarya di bidang positif dan memberikan manfaat bagi orang lain. (awa/fe)

 

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close