Berita

KTP dan KK Tak Kunjung Keluar: Anak Stop Sekolah, Tinggal di Bekas MCK

Kartu Tanda Pengenal (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) tak kunjung keluar dari pihak kelurahan setempat, Erlinda Pasaribu mengeluh dan terpaksa memberhentikan anaknya yang masih duduk di Kelas IV SD (Sekolah Dasar). Bahkan, mereka kini tinggal di gudang MCK (Mandi, Cuci, Kakus).

LEO PURBA- Siantar

Amatan media ini, yang ditempati Erna Linda Pasaribu dan keluarga cukup miris. Dulunya, tempat itu dijadikan gudang MCK dan kandang ternak, yang merupakan milik Lurah setempat.

Minggu (15/12) wanita kelahiran Siantar ini mengatakan, sebelum pindah ke Siantar, sekitar 10 tahun silam, dia sempat menjadi TKI di Malaysia.

Selama tinggal disana ia bertemu seorang laki-laki, warga negara Malaysia. Awalnya keduanya saling mengenal hingga berujung ke pernikahan (nikah sirih.

“Hasil dari pernikahan itu, kami dikarunia tiga orang anak. Satu laki-laki dan dua perempuan,” kata Erna yang tinggal di Jalan Makmur, Kelurahan Asahan, Kecamatan Siantar Timur, Kota Pematangsiantar itu.

Di Malaysia, untuk menghidupi keluarga, berbagai pekerjaan ia lakoni. Menjadi tukang cuci, jualan koran dan membersihkan kamar mandi warga.

“Apapun saya lakukan. Asal halal dan bisa menghidupi keluarga. Untuk sekarang saya jualan koran. Tapi kalau ada warga yang memanggil untuk bersih-bersih kamar mandi, saya juga mau,” ujarnya.

Namun perjuangannya itu, tak pernah dianggap oleh suaminya. Bahkan, suaminya selalu menghina dan mencaci maki dirinya. Hingga akhirnya pada tahun 2016 lalu, Erlinda Pasaribu memutuskan untuk pulang ke Indonesia dengan ongkos yang pas-pasan.

“Begitu aku ditalak suami, saya langsung pulang ke Indonesia. Ketiga anakku juga ikut kubawa,” ungkapnya.

Setibanya di Siantar, ia juga harus bekerja keras untuk menghidupi ketiga anaknya.

Hanya saja yang menjadi kendala adalah pengurusan Kartu Keluarga (KK). Ia menilai dipersulit oleh pihak kelurahan setempat. Bahkan ia terpaksa memberhentikan anaknya dari sekolah yang sedang duduk di Kelas IV SD.

“Saya gak punya apa-apa. Jadi gimana anak-anak mau sekolah. Makan saja susah. Saya berharap agar pemerintah lebih mempermudah terkait pengurusan surat-surat data kependudukan agar anak-anak bisa sekolah lagi,” harapnya.

Saat disinggung apakah mereka pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah seperti PKH, BPMT maupun KIS, ia mengaku tidak pernah.

“Tidak ada bantuan seperti itu. Bagaimana mau dapat bantuan, untuk mengurus surat-surat saja sudah bertahun-tahun tidak selesai-selesai. Setiap aku tanya, jawaban hanya tunggu dan sabar. Apa mungkin karena aku ini rakyat miskin ya,” ujarnya lalu menangis. (*)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker