Berita

KPA: 4 Pelaku Kejahatan Seksual di Hukum Mati

SIBOLGA, FaseBerita.ID – Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (KPA) Arist Merdeka Sirait memberikan apreasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pengadilan Negeri (PN) Bangkalan Madura yang  telah menvonis lima orang pelaku kejahatan seksual bergerombol (gengRAPE).

Para tersangka dijerat UU RI nomor 17 Tahun 2016 tentang penerapan Perpu Nomor: 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang  pada intinya bahwa kejahatan seksual terhadap anak adalah kejahatan luar biasa dan memvonis lima orang pelaku gengRAPE terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan pembunuhan berencana, dan turut serta melakukan kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengan menjatuhkan hukuman mati.

“Kejahatan luar biasa ini tentunya mengingatkan publik kembali atas vonis PN Sorong, Papua Barat terhadap dua orang predator kejahatan seksual yang dilakukan terhadap anak usia 7 tahun dengan hukuman seumur hidup. Walaupun putusan itu lebih rendah dari tuntutan Jaksa yakni  hukuman mati,” kata Ketua Komnas Perlindungan Anak dalam siaran persnya, Rabu (9/10/2019).

Lanjut Dia, dua bulan lalu juga dikejutkan dengan vonis PN Mojokerto yang menerapkan ketentuan UU yang sama terhadap pelaku kejahatan seksual dengan menjatuhkan  hukuman fisik 12 tahun pidana penjara dan menambahkan dengan  hukuman tambahan yakni  kebiri (kastrasi) terhadap pelaku kejahatan seksual di Mojokerto.

“Putusan Hakim PN Mojokerto kemudian menimbulkan polemik serius “pro dan kontra” lintas profesi dan pemangku kepentingan “stakeholders” pegiat HAM secara khusus Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Perdebatan Ini terjadi karena hanya melihat dari sudut pandang dan hak pelaku tetapi  tidak dari sudut dan perspektif anak sebagai korban yang tidak mampu membela dan melindungi dirinya,” jelas Arist.

Dengan demikian, kata Arist, tidaklah berlebihan jika demi keadilan korban kejahatan seksual dan dalam perspektif perlindungan anak.

Komnas Perlindungan Anak  mendorong aparatur penegak hukum, Jaksa dan Hakim untuk menerapkan bahwa kejahatan seksual sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) dan disetarakan dengan tindak pidana korupsi narkoba dan terorisme dengan hukuman seumur hidup bahkan hukuman mati.

“Penegakan hukum ini diyakini sebagai salah satu cara dan strategi melawan kejahatan seksual terhafap anak. Oleh sebab itu pantaslah bagi 5 orang gengRAPE  di Bangkalan Madura mendapat hukuman mati. Lima pemerkosa di Bangkalan dihukum mati karena  mereka dengan sadis dan biadab memperkosa korban yang masih berusia 17 tahun. Setelah melakukan perkosaan lalu mereka membunuh korban. Lebih sadisnya ikut dibunuh juga teman korban,” kata ARist. (mis/osi)

Unefa

Pascasarjana

Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close