Berita

Korban Keracunan Terparah masih di RS

SIMALUNGUN, FaseBerita.ID – Hingga Kamis (19/9/2019) siang Rahel Theopei Ananta Purba (15) masih terbaring lemas di Rumah Sakit (RS) Tuan Rondahaim Saragih Pematang Raya Kabupaten Simalungun.

Siswi kelas 1 SMA GKPS Pematang Raya ini merupakan salah seorang penghuni Arsama Putri GKPS Pematang Raya yang menjadi korban keracunan setelah mengonsumsi ikan tongkol.

Padahal 52 temannya sesama korban keracunan telah pulang dari rumah sakit dan kembali ke Asrama Putri GKPS, Rabu (18/9/2019) sore.

Menurut ibu Asrama Putri GKPS, Ramelinda Sinaga, merupakan korban keracunan terparah. Sebab kedua matanya bengkak dan penglihatannya terganggu.

“Yang belum pulang tinggal satu, yaitu Rahel Purba. Dia paling parah sampai matanya bengkak. Jadi dokter menyarankan dia belum bisa pulang,” sebutnya.

Rahel yang ditemui di ruang Bosar Maligas RS Tuan Rondahaim Saragih, masih lemas terbaring dengan jarum infus di tangannya. Ia ditemani namboru (bibi dari pihak ayah), warga Raya Huluan.

Kepada wartawan, Rahel mengaku setelah makan siang dengan lauk ikan tongkol, tiga jam kemudian ia merasa mual, pusing, dan perutnya sakit. Melihat kondisi Rahel, tiga teman sekamarnya langsung membawa Rahel ke RS Tuan Rondahaim Saragih.

Di rumah sakit, kondisi Rahel makin parah. Kedua matanya terasa gatal dan membengkak. Bahkan kelopak matanya tertutup sehingga ia tak dapat melihat.

Diceritakan Rahel, sebenarnya saat makan siang bersama Senin (16/9/2019) lalu ia dan seluruh temannya sesama penghuni Asrama GKPS sudah mencium aroma tak sedap dari arah dapur.

“Saat kami makan, menunya nasi putih dan ikan tongkol disambal. Saat makan, kami mencium ada bau tak enak dari dapur. Tapi kami tetap makan karena harus habis. Kalau ada sisa makanan di piring, kami dimarahi. Itu sudah peraturan di asrama, makan harus habis,” terangnya.

Baca juga: Penghuni Asrama Putri GKPS Keracunan Ikan Tongkol

Sejak ia dirawat di rumah sakit, Kepala SMA GKPS Pamatang Raya dan wali kelasnya belum pernah menjenguk.

“Kepala sekolah dan wali kelas belum ada datang. Kalau Ibu MS ada datang,” kata Rahel yang mengaku trauma dan kapok makan ikan tongkol lagi. Ia takut kejadian yang sama terulang.

Namboru Rahel yang menemaninya menerangkan, keponakannya itu anak tunggal dan orangtuanya tinggal di Bengkulu. Sesuai keterangan dokter, Rahel belum bisa pulang.

“Ibunya boru Damanik, bidan di Rumah Sakit Bengkulu. Rahel belum bisa pulang, karena masih merasa pusing. Kemungkinan besok,” tukasnya.

Sebelumnya, Direktur Umum RS Tuan Rondahaim Saragih Pamatang Raya, dr Elisabeth di ruang kerjanya, menerangkan keracunan massal tersebut merupakan kejadian luar biasa.

“Keracunan massal ini kejadian luar biasa. Keracunan disebabkan ikan tongkol yang kurang segar dan mengeluarkan racun Histamin (skombrotoksin). Jika mengonsumsinya berlebihan bisa mengakibatkan kematian. Sebab racun menyerang pernafasan, lambung, dan alergi pada kulit,” terangnya.

Terpisah, Plt Kadis Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun, Edwin Tony Simanjuntak menjelaskan, ikan tongkol memiliki racun alami yang disebut skombrotoksin atau racun histamin.

“Racun histamine ini akan muncul jika kondisi ikan sudah tidak segar. Pembentukan histamine pada tubuh ikan scombroidae akan meningkat setelah ikan mati, dan tidak segera dibekukan atau tidak segera diolah. Sehingga dapat menyebabkan keracunan jika dikonsumsi. Sekali histamine terbentuk, tidak akan hilang walaupun sudah dimasak atau dibekukan, karena sifatnya stabil,” jelasnya. (mag-05)

Unefa

Pascasarjana


Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker