Berita

Konflik AS dan Iran, Harga Saham Saudi Aramco Jeblok

FaseBerita.ID – Tensi konflik antara AS dan Iran terus membuat harga minyak membubung tinggi. Namun, perusahaan migas paling menguntungkan di dunia, Saudi Aramco, justru lesu.

Pertamina-nya Kerajaan Arab Saudi itu kehilangan nilai USD 200 juta (Rp 2,7 triliun) sejak IPO (penawaran saham perdana) Desember lalu.

Senin lalu (7/1) harga minyak Brent, tolok ukur minyak bumi global, sempat melonjak ke angka USD 70,74 (Rp 982 ribu) per barel. Di akhir sesi, harga Brent menetap di angka USD 68,91 (Rp 958 ribu) per barel.

Namun, saham Aramco justru turun 2 persen sejak kabar tewasnya Qasem Soleimani. Efek yang berbanding terbalik itu datang karena status Arab Saudi di politik regional. Negara minyak tersebut merupakan sekutu AS.

”Insiden tersebut bakal menghadirkan risiko geopolitik di Timur Tengah. Hal tersebut tentu akan menekan minat investor,” ujar Hasnain Malik, pakar investasi dari Tellimer, kepada CNN.

Saudi memang sering terseret dalam konflik AS-Iran. Sebab, dua negara itu juga kerap berkonflik, terutama terkait dengan Sunni-Syiah.

Saudi Aramco pernah lumpuh tahun lalu saat rudal menyerang sebuah kilang. Setengah dari total produksi Arab Saudi berhenti sementara. AS pun menyalahkan Iran atas serangan tersebut.

Situasi saat ini membuat investor khawatir. Apalagi, euforia saham Aramco sudah kelar. Investor asing masih ragu untuk menempatkan dana di perusahaan tersebut. Sebab, kebanyakan investor sejak IPO datang dari dalam negeri.

”Pada dasarnya, nilai saham Aramco memang overvalued. Kalau harga minyak turun lagi, Aramco pasti lebih menderita,” papar Anish Kapadia, direktur bidang energi di Palissy Advisors. (JP)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button