Berita

Komnas PA Desak Kapolres Jerat Pelaku Kejahatan Seksual dengan Hukuman Maksimal

SIBOLGA, FaseBerita.ID – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Menegaskan bahwa demi keadilan bagi S (14) selaku korban kejahatan Seksual, mendesak Kapolres Sumenep, Jawa Timur untuk menjerat terduga pelaku H Gufron (45) dengan pasal 81 ayat (1) dan (3), pasal 82 ayat (1) dan atat (2), UU RI Nomor: 17 Tahun 2016 tentang Penerapan UU RI Nomor: 01 Tahun 2016 perubahan kedua atas UU RI nomor: 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto padal 292 KUHPidana dengan ancaman pidana penjara minial 10 tahun dan maksimal 20 tahun.

Hal ini disampaikan Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait  dalam siaran pers, Minggu (3/11/2019). Menurutnya, terduga pelaku H Gufron yang berprofesi sebagai guru mengaji di Yayasan Nurul Imam di Pulau Giliyang, Dusun Baru, desa Banraas, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur dimungkinkan dapat diancam dengan  pidana 20 tahun penjara.

“Dan jika terduga pelaku melakukan perbuatannya berulang-ulang dan korbannya lebih dari satu orang, maka terduga pelaku dapat dikenai hukuman tambahan berupa kebiri melalui suntik dengan kimia. Mengingat ancaman hukuman terhadap terduga pelaku di atas lima tahun dan merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary criime) dan tindakan khusus (leg specialist) maka tidak ada alasan bagi Polres Sumenep untuk tidak meneruskan perkara ini ke proses hukum sekalipun HM Gufron seorang Ustad. Yang dihukum bukanlah ke ustatannya tetapi perbuatan dan prilaku yang melanggar hukum,” jelas Arist.

Lebih jauh  Arist menjelasan seharusnya peristiwa memalukan ini tidak perlu terjadi jika terduga pelaku menyadari dan memahami atas profesinya. Bahkan AKBP Muslimin Kapolres Sumenep menyampaikan pihaknya telah menangkap H  Gufron pelaku pencabulan anak santrinya di bawah umur di Pulau Giliyang, Dusun Baru, Desa Branraas,  Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, pada bulan Juni 2019 sekitar pukul 6.00 WIB dimana korban S disetubuhi oleh tersangka di dalam ruang kelas Yayasan Nurul Imam Rabu 30 Oktober 2019.

“Kejadian tersebut berawal pada bulan Juni 2019 saat itu korban S bermalam di rumah pelaku. Sekitar pukul 00.00 WIB malam korban di WA oleh pelaku disuruh datang ke ruang kelas Yayasan Nurul Iman di mana pelaku sudah menunggunya dan kemudian mengajak melakukan persetubuhan badan. Korban mengatakan bahwa tersangka bukan hanya satu Kali saja melakukan kejahatan seksual  akan tetapi tersangka melakukan berkali-kali yang pada akhirnya perbuatannya terbongkar dan dilaporkan ke Polres Sumenep,” jelas Arist menirukan ucapan Kapolres Sumenep.

Lanjut dia, selain itu untuk  kedua korban lainnya dilakukan kejahatan seksual di kamar hotel Safari dan berikutnya di dalam kandang ayam di Dusun Balai Desa Banraas, Kecamatan Dungkek.

“Atas peristiwa ini, kita mendorong pemerintah Kabupaten Sumenep mengajak masyarakat untuk berpartisipasi membangun gerakan perlindungan anak sekampung di seluruh desa di Sumenep dan mendorong pemerintah dan stakeholders perlindungan anak di Sumenep menjadikan kasus kejahatan seksual dan pelanggaran  menjadi program utama dan perioritas,” tambah Arist.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Sumenep AKP Tugo S dalam menangani kasus ini menjelaskan bahwa terduga pelaku H Ghufron merupakan seorang Ustadz yang berprofesi sebagai guru ngaji atau pengasuh Yayasan Nurul Iman, dari kasus ini pihak kepolisian telah mengamankan sejumlah barang bukti yaitu jaket kaos, baju, dan celana dalam.

“Dalam kasus ini tersangka dapat dijerat dengan pasal 81 ayat (1) dan (3) dan pasal 82 ayat (1) dan (2) Undang-undang RI Nomor: 17 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas undang-undang RI Nomor: 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara,” jelasnya. (mis/osi)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button