Berita

Kisruh Isu Mangrove, 7 Akun Medsos Dilapor ke Polisi

MADINA, FaseBerita.ID – Perusahaan perkebunan PT Tri Bahtera Srikandi (TBS) melalui kuasa hukumnya melaporkan tujuh pemilik akun media sosial Facebook ke Polres Mandailing Natal (Madina).

ke atas pengerusakan hutan mangrove.

Kuasa Hukum PT TBS H Ridwan Rangkuti kepada wartawan, Senin (26/8/2019) di Hotel Rindang Panyabungan membenarkan pihaknya telah membuat laporan pengaduan atas penyebarluasan informasi yang tidak benar melalui status postingan di media sosial dengan menyebut PT TBS melakukan pengerusakan hutan mangrove.

Sebelumnya, Ridwan Rangkuti sudah mengimbau lewat konfrensi Pers pada hari Kamis (15/8/2019) agar pihak-pihak yang telah menyebarkan informasi bohong terkait pembabatan atau pengrusakan hutan Mangrove supaya menyampaikan klarifikasi.

Ridwan saat itu memberikan tenggat waktu selama tujuh harri. Namun, selama tenggat waktu tersebut, tidak ada yang memberikan klarifikasi sesuai yang diimbau Ridwan Rangkuti.

“Benar, kami telah melaporkan dugaan tindak pidana menyebarkan informasi bohong dan ujaran kebencian di media sosial facebook. Yang mana pemilik akun facebook tersebut menyampaikan bahwa PT TBS telah melakukan pengrusakan, pembabatan hutan mangrove di Desa Sikarakara Kecamatan Natal. Kami sebelumnya sudah memberikan waktu tujuh hari supaya mereka memberikan klarifikasi atas postingan atau penyebaran informasi bohong itu. Tetapi hingga tenggat waktu, kami lihat tidak ada klarifikasi dimaksud,” kata Ridwan Rangkuti.

Ketua DPC Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Tabagsel itu menyebut, tujuh pemilik akun facebook yang dilaporkan itu yakni, Pertama berinisial MI pemilik akun ‘Bob Natacakra’.

Yang mana melalui akun facebooknya M Iqbal yang diduga penduduk Natal telah menyebarkan informasi di media sosial Facebook dan mengatakan bahwa PT TBS adalah penjahat lingkungan dan penghancur hutan Mangrove di Desa Sikarakara Natal.

Kedua, MRB pemilik akun facebook Parkoas Batubara, yang mana pada tanggal 12 Agustus 2019 telah menyebarkan informasi di media sosial Facebook dan mengatakan bahwa PT TBS telah membabat hutan Mangrove di wilayah Sikarakara Natal. Bahkan telah memuat berita tersebut di salah satu media.

Ketiga, pemilik Akun Facebook ‘Somat Nasution’, telah menyebarkan informasi di media sosial Facebook dan mengatakan bahwa:

  1. Ignasius Sago sudah diputus oleh Pengadilan Negeri bersalah dalam penyerobotan lahan.
  2. PT TBS telah melakukan Pembabatan Hutan Mangrove di Batahan dan pembukaan lahan tanpa izin.

Keempat, pemilik Akun Facebook Halak Madina, telah menyebarkan informasi di media sosial Facebook dan menyebut Pengacara Ridwan Rangkuti itu, makelar kasus.

Kelima, pemilik Akun Facebook ‘Shafron Shafron’, telah menyebarkan informasi di media sosial Facebook dan mengatakan bahwa PT TBS telah melakukan Pengerusakan Hutan Mangrove.

Keenam, Ketua Ikaperta (Ikatan Pemuda Pemudi Ranah Nata) bernama Ikhwanuddin, pada tanggal 9 Agustus 2019 menyebutkan bahwa PT TBS adalah perusak ekosistem mangrove di pesisir pantai barat dan perusahaan pengalihan kawasan mangrove menjadi lahan perkebunan di pesisir pantai Barat Natal, sebagaimana video terlampir.

Ketujuh, Peri Eka Putra Nst, pemilik akun Facebook Peri Eka Putra Nst, pada tanggal 18 Agustus 2019, telah membuat postingan di media sosial Facebooknya, dengan judul Kebohongan PT TBS pada Publik.

Dalam postingan tersebut Peri Eka Putra Nst menyatakan bahwa PT TBS telah melakukan pembohongan bahwa lahan yang dikelola PT TBS menjadi lahan perkebunan bukan kawasan mangrove, faktanya menurut Peri kawasan tersebut adalah hutan mangrove, sebagaiamana alat bukti postingan terlampir.

“Bahwa perlu kami tegaskan bahwa PT TBS tidak pernah membabat, merusak hutan mangrove atau merusak lingkungan di desa Sikara-kara Kecamatan Natal Kabupaten Madina sebagaimana yang dituduhkan para terlapor itu. Semua kegiatan PT TBS dalam mengelola perkebunan kelapa sawit di wilayah Desa Sikarakara Natal sesuai dengan peraturan perundang-undangan, telah memenuhi persyaratan dan perizinan sesuai yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya.

“Bersama ini kami menyatakan keberatan atas postingan-postingan para terlapor tersebut. Sehingga menimbulkan kebencian masyarakat kepada perusahaan PT TBS. Seolah-olah PT TBS telah melakukan kegiatan membabat mangrove, merusak lingkungan dalam mengelola perkebunan kelapa sawit di Desa Sikarakara. Perbuatan para terlapor yang telah menyebarkan berita bohong sehingga menimbulkan kebencian masyarakat, telah memenuhi unsur sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No.11 tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang No.19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik khususnya Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (2) dan Pasal 45 A ayat (1), dengan ancaman hukuman penjara paling lama enam tahun dan denda Rp 1 miliar,” bebernya.

Untuk itu, pihaknya memohon kepada Kapolres Madina kiranya berkenan memproses pengaduan mereka.

“Jika unsur Tindak Pidana sudah terpenuhi mohon kepada Bapak kiranya menetapkan tersangka dan melakukan penahanan terhadap para pemilik Akun Facebook tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku,” harap Ridwan Rangkuti.

MRB, salah satu pemilik akun Fb yang dilaporkan tersebut mengaku sudah mengetahui ia dilaporkan oleh kuasa hukum PT TBS.

“Iya sudah tahu. Kami sebagai terlapor mengikuti prosesnya dulu, dan kami akan diskusikan dengan kawan-kawan lain yang dilaporkan itu,” sebutnya. (wan)

iklan usi



Back to top button