Berita

Kisah Pilu Ibu Kakak Beradik yang Tewas Terbakar di Mobil

ASAHAN, FaseBerita.ID – Kepergian dua balita Meila Paramita (2) dan Dwi Isaputri (5), kakak beradik yang terbakar dalam mobil rongsokan menyisakan duka mendalam bagi ibu kandung mereka, Dewi Sartika Situmorang. Kesedihan dan airmata masih jelas terlihat di rawut wajahnya.

Bagaimana tidak. Selama ini hanya kedua korban yang menjadi penghibur hatinya, setelah ditinggal pergi suami.

Meski begitu, Dewi berusaha tegar saat pihak kepolisian menanyakan beberapa hal tentang peristiwa yang menyebabkan kedua anaknya itu meninggal. Sesekali Dewi menangis mengingat kejadian itu.

Awalnya Dewi terkejut ketika warga berteriak minta tolong. “Saya sempat terkejut mendengar teriakan minta tolong. Saya langsung lari mau melihat. Saya lihat mobilnya sudah terbakar, dan saya berlari mengambil air. Saya siramkan ke api,” kata wanita berkulit sawo matang itu, Rabu (20/3). Saat kejadian, Dewi baru pulang kerja sebagai pembantu rumah tangga.

Baca: Kakak Adik Tewas Terbakar di Mobil Tetangga

Begitu api sudah padam, salah seorang warga berteriak begitu melihat ada anak di dalam mobil. “Setelah api padam, ada warga yang bilang ‘Anak siapa itu, mati’. Aku langsung lari ngejar karena penasaran juga dengan itu. Begitu saya lihat, saya langsung mengangkat anakku yang kecil sambil meminta tolong.

“Tolong-tolong siram kan dulu” karena panas kali badannya. Tapi tak ada yang nyiram. Terus terakhir ada juga yang nyiram. Begitu badannya sudah dingin, saya langsung kasihkan anakku itu sama oppungnya. Terus saya angkat anak saya yang satunya lagi,” jelas Dewi terisak meneteskan air mata sambil menunjukkan luka di tangannya akibat terkena panasnya kepala anaknya tersebut.

Tim Labfor Poldasu Olah TKP

Sementara Tim Labfor Polda Sumatera Utara melakukan olah TKP, Rabu (20/3).

Dari hasil olah TKP, Kasat Reskrim Polres Asahan AKP Ricky Pripurna Atmaja menyatakan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasaan atas kematian kakak beradik itu.

AKP Ricky menjelaskan, dari hasil otopsi, keduanya tewas akibat mengalami luka bakar cukup serius pada bagian tubuh, serta terhirup karbondioksida dari benda-benda yang terbakar dalam mobil.

“Dari hasil otopsi, tidak-tidak ada tanda-tanda kekerasan pada kedua korban. Keduanya meninggal diduga karena mengalami luka bakar yang cukup serius pada bagian tubuh serta menghirup karbondoksida dari benda yang terbakar,” ungkap Kasat Reskrim di TKP saat melakukan olah TKP bersama Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Cabang Medan.

Dari kejadian itu, polisi menyimpulakan, penyebab kebakaran pada mobil berasal dari mancis yang ditemukan di dalam mobil usai kejadian.

Dari fakta-fakta yang ada, kebakaran yang paling parah terjadi di bagian depan kanan mobil. Kemudian jok mobil, dan bagian mobil lainnya.

“Jadi bukan karena korsleting listrik. Kemudian juga tidak ditemukan tumpahan bahan bakar,” jelas Kasat.

Ricky menambahkan, mobil tersebut adalah mobil produksi tahun 80-an yang sudah tidak dipakai lagi oleh pemiliknya.

Sebelumnya, dua kakak beradik tewas mengenaskan dengan kondisi terbakar di dalam mobil rusak yang terparkir dalam gudang di rumah tetangga, Selasa (19/3) sekira pukul 09.00 WIB.

Kedua balita itu Dwi Isaputri (5) dan Meila Paramita (2). Keduanya merupakan anak pasangan suami istri Suwarno (28) dan Dewi Sartika Situmorang (29) warga Dusun VII Silau Barat, Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan.

Informasi dihimpun, sebelumnya, kedua korban bermain dalam mobil rongsokan yang berada di garasi milik warga bermarga Bangun, tetangga korban. Tak berapa lama kemudian tiba-tiba mobil terbakar.

Diduga, keduanya panik, sehingga tak bisa keluar dari mobil. Akibatnya, keduanya terbakar dan meninggal.

Awalnya masyarakat berpikir hanya mobil yang terbakar. Namun setelah api padam ternyata ada dua balita di dalam dengan kondisi terbakar dan sudah tidak bernyawa.

Budi warga sekitar yang ikut memadamkan api mengatakan, ia dan teman lainnya tidak mengetahui adanya dua bocah berada dalam mobil. Setelah api padam, posisi korban Dwi duduk di jok sebelah kiri dan adiknya (Meila) dalam kondisi telungkup di bawah kaki kakaknya.

“Kami tidak mengetahui kalau ada anak-anak di dalam mobil. Bahkan orang tuanya pun ikut membantu madamkan api. Setelah api padam, kami baru mengetahui kalau di dalam mobil ada dua anak-anak dengan posisi Dwi duduk di jok sebelah kiri dan adiknya (Meila) dalam keadaan telungkup di bawah kaki kakaknya,” kata Budi. (bay/per/des)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button