Berita

Kesal Lihat Satpol PP Dilukai, Walikota akan Tempuh Jalur Hukum

SIBOLGA, FaseBerita.ID – Walikota Sibolga HM Syarfi Hutauruk kesal dan kecewa akibat perlakuan oknum pemilik kios yang berlokasi di sepanjang trotoar Jalan Horas yang ditertibkan beberapa hari terakhir. Pasalnya sebanyak 6 orang personel Satpol PP mengalami luka-luka akibat tindakan perlawanan dari sejumlah oknum pedagang.

“Kita sudah berbuat sangat humanis kepada para pedagang, bahkan sudah melakukan sosialisasi selama berbulan-bulan. Juga bersama unsur Forkopimda. Namun, ini balasan yang kami dapatkan. Kita akan laporkan ini, karena ini sudah menjadi tindakan kriminal,” kata Walikota Sibolga HM Syarfi Hutauruk saat menjenguk sejumlah personil Satpol PP Sibolga yang dirawat di RSU dr FL Tobing, Kamis (3/10/2019) sore.

Syarfi mengaku kesal dan marah serta berniat menempuh jalur hukum terhadap pedagang yang melukai petugas.

“Kita sangat prihatin atas peristiwa tersebut. Terlebih saat mengetahui keenam personil yang cedera tersebut harus mendapat perawatan di rumah sakit. Dan Pemko Sibolga melalui instansi terkait akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum,” tegas Syarfi.

Dengan laporan pengaduan nantinya, Syarfi berharap kepada pihak kepolisian segera bertindak dan bergerak cepat menangkap para pelaku. Dan para pelaku yang merupakan pedagang liar diberikan tindakan hukum. “Saya yakin personel Satpol PP sudah bekerja sesuai aturan saat menjalan tugas penertiban. Yakni mengambil kembali serta mempertahankan aset negara yang diserobot oknum-oknum pemilik warung,” tuturnya.

Syarfi juga mengancam akan menurunkan alat berat membongkar lapak-lapak yang dibangun di kawasan tersebut, karena pemerintah tidak pernah merestui pembukaan lapak berdagang di kawasan tersebut.

“Bila perlu, kita bawa alat berat untuk membongkar lokasi itu. Jangan takut, saya akan membackup penuh kalian untuk tugas-tugas negara seperti ini. Oleh karena itu, saya akan menjadwalkan pembongkaran berikutnya dengan melibatkan aparat TNI, Polri dan instansi lain,” tegasnya.

Menurut Syarfi, bahkan sebelumnya Pemko Sibolga beserta unsur Forkopimda sudah beberapa kali melakukan rapat atau pertemuan dan seluruhnya sepakat untuk melakukan pembongkaran kios-kios ilegal tersebut.

“Meskipun para pedagang sebenarnya telah melanggar aturan mendirikan bangunan di lahan pemerintah, namun pemerintah tetap melakukan penertiban dengan pendekatan kekeluargaan. Bahkan waktu tenggang juga telah diberikan, namun para pemilik warung liar tetap membandel,” ketus Syarfi seraya menambahkan pihaknya juga sudah mengirimkan surat pemberitahuan agar pedagang membongkar warungnya.

Syarfi mengungkapkan, masyarakat sekitar juga telah berulang kali mendesak pemerintah kota untuk segera menutup warung-warung liar yang dinilai sudah meresahkan warga karena menjadi tempat mabuk-mabukan dan menjual minuman keras tuak asal Nias.

“Bahkan masyarakat sekitar juga pernah mengancam akan melakukan tindakan pembongkaran paksa jika kita tidak segera lakukan pembongkaran. Namun kita berusaha menenangkan warga yang marah agar tidak terjadi konflik sesama masyarakat. Apalagi Pemko juga sudah komit akan segera melakukan pembongkaran dengan cara santun,” tandasnya lantas menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pedagang yang mau membongkar kiosnya dengan kesadaran sendiri.

Sementara sejumlah personil Satpol PP dan petugas Damkar yang mendapat perawatan di Sibolga mengaku bahwa saat peristiwa tersebut mereka diserang dan mereka menduga ada pihak yang mengorganisir pedagang liar untuk menyerang petugas, khususnya kaum perempuan agar memukul petugas saat melakukan penertiban.

“Hal itu diperbuat untuk memancing personil Satpol PP dan Damkar marah lalu melakukan pembalasan. Terbukti setelah ricuh, kaum pria mulai muncul entah dari mana dan melempari kami dengan batu. Apalagi batu bisa diperoleh banyak dalam sekejap. Makanya, kami menduga, itu telah direncanakan,” kata sejumlah personil Satpol PP Kota Sibolga. (rb)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button