Berita

Kasus Pencurian Sawit, Pengacara Korban Inginkan Supremasi Hukum

FaseBerita.ID – Kuasa Hukum Haris Suwando (37) minta Kepolisian Resor (Polres) Labuhanbatu melakukan supermasi Hukum atas kasus dugaan pencurian tandan buah kelapa sawit milik klien nya.

Diketahui sebelumnya pihak mereka telah melaporkan seorang wanita, N (57) warga Rantauprapat, Labuhanbatu atas pencurian buah sawit ke Polres Labuhanbatu dengan laporan polisi nomor STTLP/860/Yan 2.5/VII/2020/SPKT Res LB, tertanggal 26 Juli 2020.

“Kami minta Polres Labuhanbatu tegakan hukum seadil-adilnya dan menetapkan terlapor sebagai tersangka dalam pencurian tandan buah kelapa sawit,” kata Maswandi, Kuasa Hukum korban, Rabu (12/8).

Miswandi yang juga diketahui sebagai Kuasa Hukum Gita Sapta Adi selaku pemilik lahan menjelaskan, perselisihan berawal dari tempat pembibitan yang dikelola menjadi lahan produktif kelapa sawit, milik Gita Sapta Adi yang juga Direktur PT Cisadane Sawit Raya (CSR).

Lahan pembibitan yang dikelola sekira tahun 80-an berkembang menjadi 18 hektar, diantaranya bekerjasama dengan masyarakat sekitar, hingga akhirnya oleh Gita Sapta Adi mempercayakan untuk mengelola pembibitan dan perkebunan secara utuh melalui almarhum Suratman orang kepercayaannya di tahun 2005 hingga 2014 yang tak lain adalah Suami dari terlapor.

Dalam perjalanannya, perkebunan kelapa sawit menghasilkan sekira Rp20 juta setiap bulannya. Namun, tahun 2014 hingga 2018 terjadi penurunan penjualan hingga tidak ada penerimaan hasil tandan buah kelapa sawit sejak kematian Suratman.

Mengantisipasi kerugian, tahun 2018, Gita Sapta Adi mengalihkan pengelolaan perkebunan kepada korban, yakni Haris Suwondo dengan perjanjian pengelolaan perkebunan sawit selama 10 tahun.

Sekaligus memberikan santunan kepada N Rp60 juta sebagai kompensasi pelepasan pengelolaan perkebunan dan Rp 3 juta/bulan sebagai tanda jasa perusahan atas pengabdian Suratman yang tertuang dalam Surat Pernyataan tertanggal 5 Juli 2018.

Namun, pada bulan Juli 2020, N melakukan pelanggaran perjanjian dengan mengelola dan mengambil tandan buah kelapa sawit berulang-ulang hingga akhirnya dilaporkan ke Polres Labuhanbatu.

Dalam hal ini Maswandi meminta kepada aparat penegak hukum perselisihan ini dapat diselesaikan secara hukum. Menurutnya, hukum harus ditegakan, siapapun bersalah harus bertanggungjawab dan diproses hukum.

“Kami sudah melakukan perjanjian kepada terlapor tak lain istri almarhum Suratman melalui surat pelepasan pengelolaan perkebunan sawit. Tapi dia ingkar, makanya kami laporkan atas pencurian. Kalau memang terlapor merasa keberatan dan diperlakukan tidak adil, silahkan menempuh jalur hukum, karena semua pengelolaan ada prosesnya'” jelasnya.

Pihaknya juga membantah segala tudingan yang menyudutkan, karena mengabaikan segala tanda jasa dan kerjasama selama ini. (zas)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button