Berita

Kapal Pukat Trawl di Laut Sibolga Semakin Meraja Lela: “Pak, Tolong Kami Nelayan Kecil”

FaseBerita.ID – Destructive Fishing dinilai masih terjadi di laut perairan Sibolga-Tapteng. Salah satunya adalah penggunaan pukat trawl yang terus menjadi polemik. Bahkan katanya, kapal pukat trawl itu beroperasi di zoba tangkap ikan nelayan kecil.

Ketua Komunitas Nelayan Penjaring Ramah Lingkungan (KNPRL) Asrul Tanjung menegaskan bahwa kapat pukat trawl itu masih beroperasi di zona tangkap nelayan kecil. Hal itu dibuktikan dengan foto dan video yang ia tunjukkan kepada awak media di sebuah warung mini, tidak jauh dari gudang NDH di Jalan KH Ahmad Dahlan Kota Sibolga, Kamis (20/2) lalu.

“Kami nelayan kecil ini sudah sangat resah dengan kegiatan kapal pukat trawl yang semakin lama semakin meraja lela. Kalau tidak percaya kalian, ini ada bukti foto dan video yang berhasil kami dokumentasikan pada hari Senin (17/2) lalu,” kata Asrul Tanjung sembari menunjukkan gambar-gambar kapal pukat trawl dan video berdurasi sedang.

Ia mengungkapkan, kapal pukat trawl itu beroperasi pada sore hingga menjelang malam hari. “Kenapa saya katakana demikian? Karena ada bukti yang berhasil kami dukumentasikan. Kapal-kapal pukat trawl ini beroperasi dari sore hingga menjelang malam. Jadi jangan kita bilang kapal pukat trawl tidak beroperasi,” ungkapnya.

Ia menilai penegakan hukum di perairan masih lemah. “Karena apa? Karena kami sudah membuktikan sendri, melihat dan menyaksikan langsung, ada kapal pengguna alat tangkap ikan yang merusak ekosistem dan biota laut. Kapal-kapal itu masih beroperasi di perairan pantai barat.”

Seperti dokumentasi yang mereka ambil itu, katanya, terjadi di zona tangkap ikan nelayan kecil, kurang lebih 6 sampai 5 mil dari bibir pantai. Disebutkan, jumlah kapal itu juga tidak sedikit, ada sekira 15 unit kapal pukat trawl yang sedang operasi.

“Kami minta kepada aparat hukum, tolong kami pak! Tolong kami nelayan kecil ini. Tolong tindaklanjuti dan tindak aksi destructive fishing ini. Jangan sampai kami yang bertindak sendiri.”

Dia menyebutkan, bukan hanya kapal pukat trawl, tetapi kapal bom juga masih beroperasi di lautan sekitar pantai barat. “Sudah ada bukti saja, penegak hukum kita tidak dapat mengatasi,” kesalnya.

Dari tempat yang sama, Nazri Tanjung yang ikut tergabung dalam KPNRL juga mengungkapkan hal yang sama. “Kami nelayan kecil ini sudah sangat sulit mencari makan dikarenakan ulah dari pukat pi dan pukat trawl yang semakin lama semakin banyak beroperasi di zona nelayan kecil,” jelasnya.

Lanjutnya, kapal perusak biota laut tersebut beroperasi di sekitaran Pulau Hilir, Pulau Sitolu-tolu dan di sekitaran Pulau Mursala. Waktu beraksi sekira pukul 03.30 WIB sampai malam hari. “Kami menyaksikan sendiri kapal pukat trawl itu menarik jaring.”

“Kami nelayan kecil ini merasa kecewa dengan aparat penegak hukum. Tolong buktikan sama kami nelayan kecil ini, bahwasanya hukum masih ada. Kami sangat mengharapkan tindakan dari aparat kepolisian, PSDKP dan Angkatan Laut untuk menindak lanjuti. Jangan sampai kami yang mengambil langkah,” katanya dengan nada kesal.

Sementara Ketua Kelompok Nelayan Tolong Menolong (KNTM) Sibolga, Ikhmadluddin Lubis juga membenarkan hal itu. Dia menyebutkan, pihak penegak hukum dinilai kurang serius mengatasi masalah Destructive Fishing. “Kenapa saya katakan seperti itu, dikarenakan kuatnya dugaan masih ada oknum-oknum yang tertentu yang terlibat di dalam lingkaran setan itu,” ujarnya.

“Kalau memang serius penegak hukum ini, mulai dari Polri, PSDKP dan Angkatan Laut, Destructive Fishing pasti tidak akan menjadi polemik yang berkepanjangan.”

Seperti diketahui, kegiatan penangkapan ikan secara tidak bertanggungjawab bukan hanya terbatas pada kegiatan penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing), tetapi juga terdapat kegiatan penangkapan ikan dengan cara-cara yang merusak (destructive fishing).

Kapolres Patroli Sisir Pesisir Pantai

Seperti diberitakan sebelumnya, untuk memastikan tidak ada kapal pukat trawl yang beroperasi di zona tangkap nelayan tradisional atau nelayan kecil, Kapolres Sibolga AKBP Triyadi mengajak jajarannya untuk melaksanakan patroli, Senin (17/2) lalu sekira pukul 14.00 WIB. Selain memastikan tidak ada kapal trawl yang mengganggu pada nelayan tradisional, patroli yang dilakukan juga bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya konflik antara nelayan tradisional dengan nelayan modern.

Dalam patroli yang digelar itu, Kapolres menyasar seluruh pesisir pantai. Memeriksa setiap kapal yang berlayar, baik kapal nelayan kecil maupun kapal-kapal yang disinyalir menggunakan alat tangkap yang dilarang oleh pemerintah.

Hadir pada patroli tersebut, Kabag Ops Kompol R Sihombing, Kasat Pol Air AKP M Sihombing, Kasat Reskrim AKP D Harahap dan Kasat Sabhara AKP Gudo.

“Melaksanakan kegiatan monitoring dan pemantauan zona perairan nelayan tradisional dengan menggunakan kapal patroli Sat Polair Polres Sibolga. Tujuannya yaitu mengantisipasi adanya kapal pukat ikan dan trawl yang beroperasi mengambil ikan di zona perairan nelayan tradisional, guna menghindari terjadinya konflik antara nelayan tradisional dan nelayan modern di wilayah Kota Sibolga,” kata Kasubbag Humas Iptu Ramadhansyah Sormin dalam keterangan persnya.

Patroli yang digelar tidak membuahkan hasil. Kapolres dan jajarannya tidak menemukan adanya kapal trawl yang beroperasi di zona tangkap nelayan tradisional. “Sampai saat ini tidak ada ditemukan kapal pukat ikan dan trawl yang beroperasi mengambil ikan di wilayah nelayan tradisional dan hingga saat ini situasi di perairan Sibolga aman dan kondusif,” ungkapnya. (tam)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker