Berita

Jenazah Kakek 78 Tahun Ditolak Keluarga

FaseBerita.ID – Suardi, pria berusia 78 tahun yang tewas tenggelam pada Sabtu pagi (20/4) di aliran Sungai Silau Lingkungan II Jalan Patimura Gang Badak, Kecamatan Kisaran Barat akhirnya ditemukan tim Basarnas, Minggu (21/4) malam sekitar pukul 19.30 WIB.

Kisah pilu terdengar setelah jasad kakek itu ditemukan dan langsung diantar ke kamar mayat Rumah Sakit Umum Haji Abdul Manan Simatupang (HAMS) Kisaran. Tak ada keluarga yang menerima jasad almarhum. Sebab selama ini dia hanya menumpang hidup dan tinggal di rumah warga bernama Dedi Alamsyah.

Jasad almarhum sempat tertahan di kamar mayat lantaran tak ada satupun keluarga yang mau menjemput hingga menjelang larut malam. Sementara kondisi jenazah sudah semakin bau. Akhirnya, atas inisiatif warga bersama Kepala Lingkungan dan pengurus masjid setempat, mereka kemudian mensholatkan jenazah almarhum di kamar mayat dan langsung dimakamkan pada pukul 24.00 WIB di Pekuburan Muslim Kampung Lalang.

Sementara Dedi Alamsyah, pemuda yang selama empat tahun menampung almarhum untuk tinggal dan makan di rumahnya di Jalan Patimura Gang Badak, Lingkungan II berbagi cerita. Katanya, awalnya dia menemukan almarhum tak jauh dari rumahnya saat dia sedang duduk-duduk di warung dan seperti kebingungan mencari alamat.

“Ku rasa waktu itu lagi ada masalah sama keluarganya. Jadi saya bilang ‘nggak apa-apa, sementara disini lah dulu sambil menunggu keluarganya datang menjemput’. Katanya dia juga terakhir kerja jadi Satpam di sekolah Diponegoro,” kenang Dedi mulai menceritakan pertemuan singkatnya dengan almarhum.

Selama menumpang hidup di rumah Dedi, almarhum juga masih mencari-cari keluarganya. Bahkan dia sempat menuliskan sepucuk surat dan memintai Dedy mengantarkan ke alamat keluarganya di Kecamatan Air Joman yang mana surat itu berisikan agar pihak keluarga menjemputnya di rumah.

“Saya antar surat itu, tapi sepertinya keluarganya tak peduli. Saya tak tahu ada masalah apa antara kakek itu sama keluarganya. Yang jelas sebagai manusia saya hanya kasihan sama dia. Makanya saya beri dia tempat tinggal dan makan di rumah,” ucapnya.

Semasa hidupnya Suardi rajin beribadah dan bergaul di lingkungan tempat tinggal Dedi. Namun Dedi tak menyangka Sabtu pagi terakhir kali melihat almarhum setelah pergi mandi di sungai.

“Jarang kakek itu mandi ke sungai. Biasa saya tak kasih itu, karena takut kalau terjadi apa-apa. Kalaupun mau mandi ke sungai saya kawani. Semalam itu, waktu kejadian dia tak permisi sama saya. Tiba-tiba jam tujuh pagi pergi aja dia ke sungai itu,” terangnya.

Setelah jasad almarhum ditemukan, sebenarnya Dedy sudah berusaha menghubungi keluarganya di Desa Tanjung Alam dan di Air Joman. Namun kedua keluarga yang menurut Dedi adalah ponakan tirinya almarhum, menolak jasad almarhum dibawa ke rumah mereka.

“Keluarganya yang di Tanjung Alam bilang mereka baru saja kemalangan seminggu yang lalu. Tak mungkin lagi di taruh disini (jenazahnya). Sementara keluarganya di Air Joman bilang, mereka tak mengakui kakek itu keluarganya,” ucapnya.

Hingga akhirnya almarhum dikebumikan sendiri oleh warga malam itu juga bersama jemaah masjid. (Per/Mar)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button