Berita

Ikut Demo, Belasan Pelajar Diamankan Polisi Siantar

FaseBerita.ID – POLISI mengamankan belasan pelajar dari berbagai sekolah di Siantar yang hendak bergabung dalam aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja, Kamis (15/10).

Pelajar yang semuanya laki-laki itu pun langsung diangkut ke Mapolres Siantar.

Kepala Satuan (Kasat) Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Siantar, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Edi Sukamto menerangkan, para pelajar itu berkumpul di depan Tugu Becak depan Balai Kota Pematang Siantar.

“Ada 12 orang yang masih kami amankan. Pemeriksaan sementara mereka semua mau ikut demo mereka kita amankan dari seputaran depan Kantor Wali Kota. Beda-beda lokasinya. Ada yang diamankan Intel, ada Reskrim,” kata Edi.

Ditambahkan Edi, pihaknya mengamankan sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan demonstrasi, seperti karton dan bendera Merah Putih. “Untuk senjata tidak kita temukan,” bebernya.

Setelah diamankan, para pelajar didata di markas polisi. Mereka berasal dari berbagai Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).’Rata-rata usianya lima belas tahun sampai tujuh belas tahun gitu. Kami amankan dari seputaran Jalan Merdeka,” kata Edi.

Setelah diamankan, Edi menambahkan, terhadap para pelajar tersebut akan dilakukan tes urine.

“Laporan sampai saat ini, masih ada lagi di lapangan yang diamankan, nantilah kami tunggu berapa lagi totalnya,” ucapnya.

Ketika ponsel tiap pelajar diperiksa, Polisi menemukan obrolan lewat aplikasi pesan Whatsapp yang berisi provokasi. Bahkan salah satu pesannya yakni ingin membakar kantor DPRD Siantar.

“Kita menemukan pelajar yang berniat membakar kantor DPRD. Obrolan itu antara pelajar,” ucap Edi.

Polisi, kata Edi masih terus mendalami dan memeriksa tiap pelajar. “Semua akan kita periksa urinenya,” lanjutnya.

Di depan polisi, MAS (15), salah seorang pelajar mengaku diajak berunjuk rasa dari grup WhatsApp. Ia mengaku tak memahami apa isi UU Omnibus Law.

Aku diajak dari grup WA, Pak. Ngga tau aku apa isi undang-undangnya. Ikut aja karena diajak,” katanya, seraya mengaku tinggal di Kecamatan Siantar Martoba, Pematangsiantar.

Dari ponsel milik MAS, diperoleh percakapan di grup WA ajakan unjuk rasa dan membakar gedung DPR.

“Tadi kami baca di grup handphone dia, ada kalimat ajakan untuk ikut membakar kantor DPR,” tandas Edi.

Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam GERILYAWAN atau Gerakan Rakyat Melawan rencananya akan melakukan unjuk rasa di depan Kantor DPRD Siantar. Masih dalam fokus yang sama, massa menuntut pembatalan Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja.

Ini yang Harus Dilakukan Orangtua

Aksi penolakan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Unjuk rasa itu diikuti oleh kalangan buruh, mahasiswa, bahkan para pelajar.

Terkait demonstrasi para pelajar, dalam regulasi, sebenarnya dilarang mereka untuk ikut turun aksi ke jalan. Untuk mencegah itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Reyno Listyarti menyampaikan bahwa perlu adanya interaksi dengan anak tersebut, dari orang tua serta guru.

“Menurut saya harus ada dialog, jadi ketika ada anak-anak yang ingin (demo), orang tua harus dialog, peran orang tua itu besar, jadi guru dan orang tua itu berkomunikasi dan orang tua dengan anak,” terang dia, Kamis (15/10).

Dialog yang di maksud bukan hanya mencegah atau melarang tidak perlu demo. Namun, juga harus diberikan alasan yang logis kenapa tidak perlu melakukan demonstrasi.

“Tanyakan keluar untuk apa, tujuannya apa, kasih tau risikonya apa, dialog itu harus dibangun, ngga bisa ngelarang tanpa alasan, ngga bisa digitukan, gunakan cara dialog bicarakan itu dan kita bisa saling memahami, yangg sering tidak dilakukan adalah dialog. Ini budaya penting yang harus kita lakukan,” ungkapnya.

Selain itu, dia pun juga memberikan apresiasi terhadap semua pihak yang memitigasi para pelajar untuk ikut demo. Salah satunya adalah Dinas Pendidikan Sumatera Barat (Sumbar).

“Kepala-kepala dinas pendidikan seperti Sumbar juga mengeluarkan imbauan, tapi ini sulit ketika mereka tidak belajar di sekolah, tahun lalu kan bisa dihadang pihak sekolah dan berkomunikasi dengan orang tua. Ditanya anaknya ada di mana. Namun ketika sedang belajar dari rumah ini yang sulit,” pungkas Retno. (ros/tgr/idn/int)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button