Berita

Hog Cholera Babi Terindikasi Menyebar ke Simalungun, Jangan Buang Sembarangan

 

SIMALUNGUN, Fase Berita.ID – Sejumlah babi peliharaan warga di Desa Dolok Hataran Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, terindikasi terjangkit virus hog cholera. Meski begitu, masyarakat diimbau untuk tidak panik, karena virus ini tidak menular pada manusia. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Peternakan Pemkab Simalungun Pardomuan Sijabat mengatakan, dari sejumlah babi yang terindikasi hog cholera dengan ciri terdapat bintik merah, tidak selera makan, lumpuh dan suhu tubuh tinggi, satu di antarnya sudah mati.

“Baru ini ditemukan ada babi mati dengan ciri terjangkit hog cholera di Kecamatan Siantar dan sudah dikubur disaksikan Camat Daniel Silalahi, Kadis Kesehatan Edwin T Simanjuntak, dan Kapolsek Bangun AKP B Manurung,” sebut Pardomuan.

“Untuk pencegahan, kandang ternak harus dibersihkan agar terhindar dari virus. Makanan ternak juga harus diperhatikan. Kalau bisa hindari sisa makan dari restoran,” imbaunya.

Pardomuan menambahkan, dengan ditemukannya babi mati dengan indikasi hog cholera, pihaknya akan meningkatkan pelaksanaan program gempur disinpektan di kandang-kandang ternak babi warga.

“Gempur disinpektan yang sejak beberapa bulan lalu sudah dilaksanakan akan ditingkatkan menjangkau ke seluruh kecamatan sentra ternak babi, untuk mempersempit penyebaran virus hog cholera,” kata Pardomuan.

Dia menambahkan melalui kepala desa, pihaknya sudah meminta warga tidak membuang bangkai babi sembarangan namun menguburnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Simalungun Edwin T Simanjuntak dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat (29/11)  mengatakan bahwa masyarakat jangan panik dengan ditemukannya babi mati diduga akibat virus hog cholera. Sebab, virus ini tidak menular kepada manusia.

“Masyarakat jangan panik tetap tenang virus hog cholera tidak menular kepada manusia,” kata Edwin.

Diterangkan Edwin, Hog cholera atau kolera babi (demam babi klasik) merupakan penyakit yang disebabkan oleh flavivirus, yakni virus demam babi klasik dari genus Pestivirus.

Penyakit babi kolera ditularkan dari babi yang terinfeksi ke babi lain, lewat agen pengangkut. Sebagai contoh, penularan dapat terjadi ketika ada proses pemindahan ternak babi dari satu peternakan ke peternakan lain atau sampah yang digunakan untuk pakan babi yang terkotaminasi.

“Selain itu, sepatu, pakaian, pisau, peralatan rumah tangga, maupun kendaraan yang digunakan dalam mengelola ternak babi juga bisa menjadi pengantar virus,” ujarnya.

Dijelaskan, dalam rentang waktu empat hari sampai tiga minggu setelah terpapar virus, babi akan mengalami demam tinggi. Tanda-tanda lain agak bervariasi, mulai dari hilang nafsu makan, depresi, mata memerah dan kering, muntah, diare, batuk, hingga sulit bernapas.

Pada babi yang memiliki warna terang, biasanya akan nampak ruam kulit. Selain itu, selaput lendir dan tengggorokan dapat meradang, hingga mengalami leukopenia (rendahnya jumlah sel darah putih) parah.

Lama kelamaan babi lebih banyak berbaring dan enggan bergerak. Terkadang, babi akan berjalan dengan cara yang aneh, yakni punggung melengkung. Jika sudah parah, babi tak bisa bangkit, koma, dan akhirnya mati.

 

Penanganan

Pemberian vaksin anti babi kolera pada tahap awal muncul gejala mungkin dapat efektif membantu, tapi sedikit yang pulih. Kematian babi karena babi kolera bisa terjadi dalam hitungan hari.

“Bila ada wabah penyakit babi kolera, wajib untuk dilaporkan. Sementara itu, hewan yang terinfeksi babi wajib disembelih dan kawasan hewan yang sakit seharusnya dikarantina. Kontrol utama penyakit babi kolera bisa dilakukan dengan cara vaksinasi,” ujarnya.

 

Apakah Bisa Menginfeksi Manusia?

Menurut Edwin, Hog cholera tidak menginfeksi manusia dan tidak akan berbahaya jika dagingnya dikonsumsi. Aman, tidak bahaya bagi manusia.

“Masih bisa dikonsumsi tapi harus dimasak dulu. Kenapa masih bisa dikonsumsi karena tidak zoonosis, tidak menular kepada manusia, tapi pig to pig,” terangnya.

Untuk menghindari penyebaran lebih luas, katanya, perlu ada perlakuan di lapangan yang harus mengikuti standar.

Pertama, masyarakat tidak membeli ternak babi yang harganya murah.

Kedua, masyarakat juga harus menerapkan bio sekuriti, yakni tidak saling menjenguk ternak yang sakit.

Ketiga, bangkai babi tidak dibuang ke sungai atau ke hutan melainkan dikubur. Keempat, perlu dilakukan pengetatan lalu lintas ternak dan menjaga sanitasi kandang. (des/sp)

 

 

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close