Berita

HIPPI Simalungun Kunjungi Pelaku UMKM: Mendorong Potensi Kopi, Madu dan Keripik Keladi di Sait Buttu

FaseBerita.ID – Pengurus dan anggota Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Cabang Kabupaten Simalungun langsung action usai dilantik dengan mengunjungi pelaku usaha kecil di Nagori Sait Buttu Saribu Kecamatan Pamatang Sidamanik, Selasa (11/2).

Rombongan menyaksikan langsung usaha produksi dan gerai kopi Buttu Coffee, bubuk kopi asli hasil tanam dan olahan para petani Sait Buttu.

Para petani sekaligus menjadi peternak lebah, yang menghasilkan madu berkualitas. Ada sekitar 140 ‘rumah lebah’ berisi madu yang sedang diusahai oleh petani.

Bukan hanya itu, petani juga ternyata memproduksi keripik keladi, dan berbagai macam jajanan sehat yang diberi merk Kapit Super.

Rata-rata produk para petani sekaligus pengusaha kecil ini dipasarkan di sekitar Pamatang Sidamanik dan sekitarnya, dan Kabupaten Simalungun dan Kota Siantar. Namun mereka sudah membuka jaringan dan mengirim produk ke luar daerah termasuk ke Medan dan Madina.

Bubuk kopi Buttu Coffee diracik oleh seorang barista sebelum disuguhkan.

Ketua HIPPI Kabupaten Simalungun Arifin Sihombing bersama Sekretaris Hendra Sukmana Sinaga, Bendahara Suriawan serta beberapa pengurus HIPPI yang hadir merasakan langsung madu yang sudah dipanen di lokasi penangkaran lebah. Rasanya manis dan segar!

Selamat Suriadi, inisiator usaha penangkaran lebah ini, langsung menunjukkan dan membuka kotak berisi lebah dan madu. Rombongan menikmati manisnya madu di tengah-tengah lebah yang beterbangan. Hebatnya, tidak satupun lebah yang menyengat rombongan yang berjumlah belasan itu.

“Lebah Avis Cerana tergolong bersahabat, walau memang kalau menyengat tetap sakit. Tetapi tidak membahayakan sepanjang jumlah sengatannya tidak banyak. Namun Avis Cerana merupakan lebah penghasil madu paling banyak di sini. Ada juga jenis propolis dan beberapa jenis lain. Sekitar 40 jenis lebah di Kabupaten Simalungun yang bisa dibudidayakan untuk menghasilkan madu,” kata Selamat Suryadi.

Dijelaskan Selamat, penangkaran lebah dimulainya sekitar 5 tahun lalu. Saat itu dirinya hanya sendiri. Saat ini ada 12 anggota kelompok tani yang menangkar lebah. Seluruh bibit lebah yang ditangkar merupakan lebah lokal, dan bibitnya ‘ditangkap’ dan kemudian dikandangkan.

“Peluangnya bisnisnya besar dan bibitnya mudah didapat, jika sudah mengetahui caranya. Tidak perlu membeli jika memang ada bibit lokal. Ada caranya untuk menangkap bibitnya dan memasukkannya ke kandang kita. Persoalan petani biasanya terkendala di pengadaan kotak,” katanya, kepada rombongan HIPPI Simalungun.

Dijelaskan Selamat, lebah sangat cocok dikembangkan di wilayah pertanian kopi karena membantu meningkatkan produksi buah. Lebah membutuhkan bunga sebagai sumber madu, sehingga dibutuhkan tumbuhan yang berbunga sepanjang tahun.

Selain beternak lebah, kelompok tani di Sait Buttu juga mengelola kopi Arabica menjadi bubuk.

Produksi kopi mereka diberi merk Buttu Coffe. Bubuk kopi ini dihasilkan dari biji kopi pilihan dengan proses pemilihan, pengupasan, penggorengan hingga penggilingan yang ketat.

Bubuk Buttu Coffee sudah dipasarkan di wilayah Kabupaten Simalungun. Selain dalam bentuk bubuk, petani juga menjual biji kopi.

“Petani kopi di Sait Buttu dan sekitarnya selama ini hanya menjual dalam bentuk buah segar atau dalam bentuk biji. Dengan diolah, bahkan dengan pemisahan biji sesuai dengan kualitasnya, petani mendapatkan harga lebih. Kendala yang paling dirasakan adalah pemasaran bubuk kopi, karena masih baru dan belum dikenal masyarakat. Namun soal rasa dan mutu, kita jamin terbaik,” kata Ngatio, Pangulu Nagori Sait Buttu Saribu.

Menurut Ngatio, melalui BUMDes Sait Buttu, ibu-ibu difasilitasi memproduksi keripik keladi dan berbagai jajanan higienis dan tentunya halal.

Belasan ibu-ibu yang dibagi dalam juga masing-masing bekerja untuk membersihkan keladi, memarut, menggoreng dan kemudian mengemas.

Pengemasan keripik keladi di Sait Buttu.

Demikian juga untuk jajanan lain, seperti produksi Kapit Super dan ketawa. Pasar saat ini masih di Kabupaten Simalungun, namun sudah pernah mengirim ke Medan sebanyak 250 Kg keripik keladi. Ada empat rasa keripik yang diproduksi.

“Bahan baku keripik ada di Sait Buttu, petani sudah banyak menanam keladi. Setelah ada usaha keripik di sini, harga keladi petani naik hingga 200 persen. Dahulu hanya Rp1000 per Kg menjadi Rp2500 hingga Rp3000 per kilogram,” kata Ngatio.

Ngatio berharap, dengan kehadiran rombongan HIPPI ke Sait Buttu, pasar untuk usaha warganya semakin luas dan terbuka.

Sehingga usaha tersebut dapat dikembangkan dan tentunya meningkatkan kesejahteraan petani di Sait Buttu.

Mewakili  pengurus HIPPI Kabupaten Simalungun, Arifin Sihombing, berjanji akan membantu pelaku UMKM di Sait Buttu Saribu. Dalam waktu dekat, HIPPI berencana membuka gerai HIPPI di Kota Siantar untuk menyalurkan produk UMKM dari Simalungun.

“Kepada pemerintah, terutama dinas terkait, seharusnya mensupport para pelaku usaha ini. Mereka sudah berusaha sendiri, menghasilkan dan butuh pemasaran. Pemerintah bisa membantu dengan menyediakan gerai-gerao khusus untuk produk UMKM. Jika di Sidamanik, pendirian rest area sangat cocok karena merupaan daerah lintasan wisatawan dan juga menjadi tujuan wisata lokal. Rest area menjadi media untuk memasarkan produk mereka,” kata Arifin Sihombing.

Ditambahkan Arifin, melalui HIPPI, informasi produk usaha-usaha pelaku UMKM akan dibagikan kepada sesama pengusaha dan masyarakat.

Kerjasama dapat dilakukan dalam hal pemasaran, termasuk dalam hal meningkatkan nilai tambah produk termasuk dalam modifikasi produksi termasuk rasa dan bentuk, pengemasan dan bahkan penyimpanan.

Sehingga kelak bisa bersaing dengan produk makanan modern, sehingga memenuhi syarat dipasarkan di supermarket.

“Nantinya kita bertukar informasi, produk, pasar dengan sesama pengusaha. Baik di lokal maupun tingkat provinsi dan nasional. HIPPI juga siap mendatangkan investor ke Kabupaten Simalungun,” kata Arifin Sihombing. (esa/fi)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button