Berita

Hindari Makan di Restoran Ruang Tertutup Selama Pandemi Covid-19

JAKARTA, FaseBerita.ID-Meski DKI Jakarta sudah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan melarang masyarakat makan di tempat atau resto, namun sejumlah daerah lainnya masih mengizinkan masyarakat boleh makan di tempat.

Jika ingin tetap aman dari Covid-19, kuncinya selalu waspada dengan memperhatikan sirkulasi udara atau ventilasi ruangan.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, dokter spesialis paru Agus Dwi Susanto mengatakan penularan virus Korona bisa terjadi dimungkinkan melalui aerosol atau udara di ruangan tertutup. Berdasar itu, baik perkantoran atau restoran diminta untuk memerhatikan lagi kualitas ventilasi udaranya.

“Harus betul-betul dijaga ventilasinya. Alami. Ada udara luar masuk ke dalam. Dalam ke luar. Jaga arus aliran udara. Jadi kalau ada mikro droplet bisa keluar,” katanya dalam Webinar bersama Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Rabu (23/9).

Jika berada di dalam ruangan, menurutnya harus selalu menjaga protokol kesehatan. Dari mulai memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan secara teratur.

“Walaupun dalam perkantoran misalnya, pegawai ketemu teman-temannya buka masker. Padahal bisa lewat airbone,” jelas dr. Agus.

Dia menyarankan agar setiap ruangan menggunakan air purifier atau pemurni udara secara alami. Saran terakhir adalah sebaiknya menghindari dulu terlalu lama berada di ruangan atau berada makan di resto tertutup.

“Masyarakat umum sebaiknya hindari makan-makan di restoran di ruang tertutup. Hindari resto atau rumah makan dengan ruang tertutup. Cari yang ada sirkulasi udara ruang terbuka bebas,” katanya.

Sebelumnya salah satu contoh kasus juga terjadi di sebuah kedai kopi di Korea Selatan. Kedai kopi itu memiliki ruangan tertutup dengan sirkulasi udara hanya berupa AC sentral.

Sedikitnya ada 56 pengunjung kedai kopi menjadi klaster coffee shop setelah berkunjung dan makan di tempat. Pasien yang dikonfirmasi semula duduk di bawah AC, terinfeksi berturut-turut dalam 2 jam dan 30 menit setelah kunjungan. Itu terjadi di kedai kopi di daerah Paju, Korea Selatan pada Agustus lalu.

Pegawai kedai kopi sejak awal selalu patuh dengan protokol kesehatan yakni mengenakan masker dan sarung tangan. Karena sulitnya menerapkan protokol kesehatan saat sedang makan dan minum kopi di resto, maka sebanyak 56 pengunjung terinfeksi virus Korona.

Sementara pegawai toko aman karena patuh. Media lokal Chosun, menyebut menurut seorang ahli, AC tipe langit-langit (sentral) lebih rentan terhadap polusi udara dalam ruangan karena merupakan struktur yang mendingin dengan hanya mengedarkan udara dalam tanpa menarik udara luar.

Angin AC secara drastis meningkatkan jarak perjalanan tetesan virus (air liur atau pilek). Maka virus Korona sangat rentan menular di ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk.(jp/fi)



Pascasarjana


Unefa
Back to top button