Berita

Himapsi Tolak Pembangunan Tugu Sangnaualuh di Tangan Hefriansyah

SIANTAR, FaseBerita.ID – Himpun Mahasiswa dan Pemuda Simalungun (HIMAPSI) Siantar mengecam sikap Walikota Siantar Hefriansyah yang hanya mengumbar-umbar janji terkait pembangunan Tugu Sangnaualuh.

Bahkan, Himapsi secara tegas menolak pembangunan Tugu Sangnaualuh berada di tangan Hefriansyah.

Ketua umum Himapsi Rado Damanik menceritakan, pertama sekali tempat untuk membangunan Tugu Sangnaualuh itu berada di segitiga depan Ramayana, yang diusulkan beberapa organisasi.

“Tahun 2011 kalau tidak salah. Ide pembangunan itu dilakukan karena Raja Sangnaualuh terlibat dalam pendirian Kota Siantar. Bahkan, Raja Sangnaualuh termasuk salahsatu tokoh di Siantar. Karena dia adalah orang jujur dan baik yang ikut melawan penjajahan Belanda. Jadi sangat perlu kita sampaikan kepada masyarakat melalui monumen pembangunan Tugu Sangnaualuh,” terangnya.

Tahun 2012, sambung Rado, kepanitiaan untuk pembangunan sudah dibentuk. Bahkan sudah dilakukan peletakan batu pertama tepatnya 24 April 2012 bertepatan pada ulang tahun kota Siantar.

“Tepatnya di segitiga depan Ramayana dilakukan peletakan batu pertama oleh almarhum Hulman Sitorus. Dalam proses pembangunannya sudah berjalan. Akan tetapi adanya tarik ulur antara panitia dengan pengusaha dan pemerintah, sehingga ada intervensi kepada pemerintah. Makanya pembangunan Tugu ditunda atau dipindahkan,” ujarnya.

Panitia pada saat itu berfikir daripada ditunda lebih baik dipindahkan. Panitia kemudian memilih Lapangan Merdeka. Tetapi dalam proses pemerintahan almarhum Hulman Sitorus sampai habis periode pembangunan Tugu ini tidak berjalan.

“Kita sebagai organisasi Simalungun terkhusus HIMAPSI tidak berharap jauh kepada Herfiansyah untuk membangun Tugu Raja Sangnaualuh. Apalagi adanya penistaan suku Simalungun yang dilakukan Herfiansyah tahun 2018. Sehingga kita sebenarnya tidak menginginkan Herfiansyah membangun Tugu Sangnaualuh. Hefriansyah membujuk orang-orang Simalungun untuk tidak melakukan perlawanan pada saat itu, sehingga dia membuat tawaran untuk membangun Tugu Sangnaualuh yang awalnya dia rencanakan di depan gedung BRI Lapangan Merdeka,” terangnya.

Rado menambahkan dalam perjalanannya, melakukan peletakan batu pertama di Lapangan Adam Malik tepatnya tanggal 10 November 2018 yang direncanakan pembangunan di Lapangan Merdeka (Taman Bunga) berubah menjadi di Lapangan Adam Malik tanpa adanya komunikasi dengan organisasi-organisasi Simalungun.

“Tetapi dalam perjalanan pembangunan Tugu yang sudah peletakan pondasi yang mulai ada pembangunan, lagi-lagi Walikota Siantar membatalkan secara sesukanya,” tegasnya.

HIMAPSI berharap karena Raja Sangnaualuh ini adalah raja yang terhormat, jadi dalam proses pembangunan Tugu Sangnaualuh direncanakan dengan terhormat, dibangun dengan terhormat dan dikerjakan oleh tangan-tangan terhormat.

“Bagi kita Herfiansyah adalah bukan orang yang terhormat. Dia adalah pecundang bagi kita dan tidak layak membangun Tugu Raja Sangnaualuh. Jadi harapan kita pembangunan tugu itu jangan dikotori lagi tangan-tangan pecundang,” tegasnya.

Siap Kawal Hak Angket

Terpisah, dalam poin-poin anggota DPRD Siantar untuk menggunakan hak angket salah satunya soal mangkraknya pembangunan Tugu Sangnaualuh, Rado mengatakan sudah pernah juga menyampaikan pasal soal penistaan suku Simalungun dan itu sudah dibentuk pansus.

“Pada saat itu hasil pansus sudah ada. Hasilnya Walikota melakukan kesalahan tinggal pembacaan hasilnya. Kita tidak berharap tinggi kepada DPRD, tapi kebetulan ini DPRD yang baru. Kita masih memberikan kepercayaan kepada DPRD tentang hak angket ini. Dan kita akan membantu dan mengawal DPRD. Kita juga siap dipanggil DPRD apabila DPRD membutuhkan masukan daripada HIMAPSI terkait pasal pidana ataupun pasal penistaan ataupun adat istiadat tentang Tugu Sangnaualuh ini,” ujarnya sembari mengatakan pihaknya juga siap mengawal agar hak angket ini ada ujungnya untuk pemakzulan walikota. (Mag 04)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button