Berita

Hewan Ternak Bermatian di Taput, Darah Dihisap: Warga Sebut Perbuatan ‘Homang’

FaseBerita.ID – Matinya puluhan ternak dengan kondisi darah diisap oleh makhluk misterius di Tapanuli Utara (Taput) memunculkan berbagai dugaan, termasuk isu makhluk gaib ‘homang’ sebagai pelakunya. Pemkab Taput pun buka suara soal kabar itu.

Bupati Taput Nikson Nababan mengatakan ada beberapa orang yang menganggap homang berada di balik serangan terhadap hewan ternak itu. Homang sendiri merupakan makhluk dengan wujud menyeramkan yang dikenal lewat cerita masyarakat setempat. “Ada anggapan begitu dari beberapa orang,” kata Nikson saat dimintai konfirmasi, Senin (22/6).

Dalam cerita masyarakat setempat, homang digambarkan sebagai makhluk besar berwarna hitam, punya bulu panjang, hingga kuku panjang untuk mencakar mangsa.

Homang disebut-sebut tinggal di dalam hutan yang jarang dikunjungi manusia. Ada pula cerita soal homang yang bisa membuat orang tersesat di dalam hutan karena bisa meniru suara manusia.

Baca juga: Ratusan Ternak Mati Mendadak di Taput: Darah Dihisap, Warga Ketakutan

Kembali ke Nikson. Dia mengatakan pihaknya telah mengecek ke lokasi hewan ternak mati dan menemukan jejak kaki. Ada pula kandang yang diduga didobrak oleh makhluk yang menyerang hewan ternak.

“Tapi kalau kita cek di lapangan ada jejak kaki, kemudian mendobrak kandang. Berarti dia berwujud,” ucap Nikson.
Dia menduga serangan ke hewan-hewan ternak ini dilakukan hewan pemangsa. Meski demikian, Nikson tetap menunggu investigasi mendalam agar kasus ini bisa terungkap.

“Mudah-mudahan saja binatang itu. Kemarin TNI-Polri dan kita sudah memasang jebakan-jebakan dan tim hari ini turun lagi untuk berburu,” ujarnya.

Sebelumnya, Nikson mengatakan dirinya mendapat laporan soal puluhan ekor hewan ternak mati mendadak sejak beberapa hari lalu. Dia mengatakan Pemkab telah berkoordinasi dengan TNI-Polri terkait masalah ini.

“Sudah, sudah saya koordinasikan juga dengan pihak TNI-Polri untuk membantu masyarakat. Pihak PSDA juga sudah turun,” ucap Nikson, Minggu (21/6) lalu.

Menurutnya, ada puluhan ekor ternak yang mati. Ternak tersebut terdiri dari ayam, itik, hingga babi yang mati. Nikson menyebut pihaknya masih menyelidiki peristiwa ini. Dia mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya, darah dari hewan ternak yang mati tersebut diisap dan organ dalam tubuhnya dimakan.

Namun, kondisi bagian luar ternak masih nyaris utuh. Ada juga luka seperti gigitan di sekitar leher dan bagian perut yang sobek. Ada juga bekas seperti luka akibat cakaran di badan hewan ternak yang mati. “Darahnya saja diisap. Sama bagian dalam tubuh dimakan,” ucapnya.

Dia pun membuat sayembara bagi pihak yang bisa menemukan makhluk apa yang menyerang hewan-hewan ternak tersebut. Ada hadiah Rp10 juta bagi yang berhasil.

Apa itu homang?

Sebagian warga disebut meyakini makhluk gaib ‘homang’ berada di balik serangan terhadap puluhan hewan ternak di Tapanuli Utara (Taput). Sebenarnya, apa itu begu alias hantu hutan bernama homang, yang diyakini sebagian warga mengisap darah hewan ternak di Taput?

Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed) Erond L Damanik mengatakan ada berbagai jenis cerita rakyat yang menyangkut homang. Dosen Program Studi Antropologi FIS Unimed ini juga mengatakan makhluk gaib seperti homang punya nama lain di tiap daerah.

“Kalau di Toba, ‘homang’, kalau di Simalungun itu ‘homin’, kalau di Karo dia ‘kemang’,” ujar Erond, Senin (22/6).
Dia mengatakan homang dan makhluk gaib lainnya sering diceritakan memiliki wujud tertentu. Erond mencontohkan soal telapak kaki terbalik yang kerap dikaitkan dengan makhluk gaib seperti homang.

“Itu kan disebutkan binatang yang kalau dia maju itu telapak kakinya mengarah ke belakang. Mana ada binatang yang kayak gitu, itu kan kepercayaan-kepercayaan populasi asli di Indonesia. Itu sebelum masuknya agama samawi,” ucapnya.

Erond menyebut keberadaan homang dan sejenisnya cuma legenda masyarakat. Dia juga bercerita soal adanya larangan masyarakat mencari jejak homang sesuai arah telapak kaki.

“Kalau kita mencari jejak seperti ini dalam legendanya, jangan pernah mengikuti jejak langkahnya ke depan, karena kalau kita ikuti jejak langkahnya ke depan itu berarti kita mundur, dia harus terbalik mengikuti jejaknya dan itu objek riilnya nggak ada. Itu hanya legenda,” ujarnya.

“Di Karo itu lebih lengkap lagi, di Karo itu sampai tempat penghuniannya. Sampai ada gua Kemang seperti yang di Sembahe. Ada itu situs gua Kemang gitu. Tapi hasil penyelidikan arkeologi yang pernah kami lakukan, itu bukan. Sebenarnya itu adalah kuburan batu, terutama untuk menyimpan tulang belulang,” sambung Erond.
Lalu, apakah mungkin hewan ternak di Taput diisap darahnya oleh homang?
“Mana ada itu,” jawab Erond.

BBKSDA: Bukan binatang malam

Kepala Seksi BBKSDA Sumut Wilayah IV Tarutung, Manigor Lumbantoruan mengungkapkan, pemangsa ratusan ternak dengan mengisap darah mangsanya di Pargompulon, Desa Pohan Tonga, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara diduga tak hanya beraksi pada malam hari saja alias bukan binatang malam.

“Berdasarkan keterangan pemilik ternak yang dimangsa, binatang pemangsa ini tak hanya beraksi di malam hari saja, sebab sejumlah ternak ayam dan bebek juga dimangsa pada siang hari,” terang Manigor.

Kata dia, hal tersebut diketahui berdasarkan keterangan Saut Simanjuntak, pemilik ratusan ternak yang dimangsa, saat sejumlah ternak bebek dan ayamnya beberapa kali tetiba ditemukan terbujur mati pada siang hari, sekira pukul 13.00 WIB, dan pukul 15.00 WIB.

“Jadi kesimpulan sementara, pemangsa ini bukan binatang malam yang hanya beraksi pada malam hari saja,” sebut Manigor.

Meski pemangsa diketahui mampu beraksi siang dan malam hari, namun pihak BBKSDA setempat belum bisa menyimpulkan jenis binatang yang hanya mengisap darah mangsanya itu.

Sebelumnya, kata Manigor, saat mangsanya masih kategori ternak ayam, atau bebek, kemungkinan pemangsa jenis musang dimungkinkan sebagai dalang utama.

Namun, saat mangsanya adalah ternak babi yang memiliki bobot berat hingga puluhan kilo, jenis beruang dimungkinkan sebagai pemangsanya. (dc/ant/int)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button