Berita

Herli, Penderita Gagal Ginjal 6 Tahun Rutin Cuci Darah

ASAHAN, FaseBerita.ID – Herli Sri Mayati Silaban (38) merupakan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari APBD.

Ia menderita penyakit penderita gagal ginjal kronik sejak pertengahan 2013 lalu, dan harus menjalani rutin cuci darah di RSUD Haji Abdul Manan Simatupang (HAMS) Kisaran sampai sekarang.

Ketika menjalani hemodialisa (proses cucui darah) di RSUD HAMS, ia bersedia berbagi kisahnya bertahan hidup dari gagal ginjal kronik dengan memanfaatkan kepesertaannya dalam Program JKN-KIS (Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat).

Mantan pegawai di Puskesmas Labuhan Ruku tersebut tak pernah habis berfikir seandainya tak ada jaminan kesehatan yang menanggungnya saat itu mungkin ia hanya bisa pasrah menerima nasib.

“Pertengahan tahun 2013 kemarin, saya sering merasa lemas, tekanan darah selalu tinggi, sekujur badan bengkak dan membiru. Hari itu juga saya langsung cek di laboratorium klinik di Kota Kisaran. Hasil ceknya, saya divonis gagal ginjal kronik dan harus rutin cuci darah sampai sekarang kurang lebih hampir enam tahun,” kenangnya saat berbagi cerita dengan wartawan, pada Kamis (2/5).

Herli yang waktu itu terdaftar sebagai peserta Jamkesda bersyukur karena ia tidak mengeluarkan biaya apapun. Namun, tak lama berselang, ia menerima kenyataan bahwa ia tidak lagi ditanggung Jamkesda.

“Ketika itu saya sedih sekali karena rumah sakit tempat saya hemodialisa memberitahu bahwa saya tidak lagi ditanggung Jamkesda. Hampir putus asa karena waktu itu saya sudah tidak bekerja lagi dan hanya mengandalkan suami yang cuma petani. Biaya hemodialisa pun waktu itu hampir satu juta juga sekali hemodialisa,” akunya.

Harapan seakan muncul ketika ia diberitahu pihak rumah sakit bahwa ia dapat mendaftar sebagai peserta JKN-KIS segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU).

“Syukurnya diberitahu langsung bahwa bisa mendaftar mandiri dan selama itu pula saya rutin bayar di bank karena iuran saya itu tidak ada apa-apanya dengan yang sudah dan akan saya gunakan kedepannya. Waktu itu saya juga langsung daftarkan suami dan orang tua,” tuturnya.

Berselang 4 bulan kemudian, Herli akhirnya kembali dapat menjadi peserta PBI APBD. Ia juga mengaku puas dengan pelayanan yang ia dapatkan di rumah sakit tempat ia melakukan cuci darah.

“Bersyukur sekali setelah 4 bulan pakai JKN-KIS mandiri, saya didaftarkan oleh saudara untuk dapat yang gratis lagi (PBI). Pelayanan yang saya dapatkan juga luar biasa dan tidak saya bayangkan bahwa saya yang gratis sudah bisa dapat pelayanan terbaik dan tidak mengeluarkan biaya apapun. Pengalaman selama 7 bulan di rumah sakit ini, setiap Senin kami berangkat jam tujuh pagi. Semua peralatan dan tenaga medis sudah standby sehingga HD dimulai sesuai jadwal yaitu jam 8 pagi,” ungkapnya.

Ia pun bersyukur terhadap kehadiran program yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan ini.

“Terima kasih sekali sama JKN-KIS. Mulai dari hemodialisa, opname selama 3 minggu di rumah sakit dan perlu 11 kantong darah, sampai kacamata pun saya pakai JKN-KIS. Semoga JKN-KIS tetap ada di Indonesia. Kalau boleh jujur ya, tanpa JKN-KIS ini, mungkin saya sudah nggak ada,” tutup Herli tak kuasa membendung air mata. (Per)

iklan usi



Back to top button