Berita

Hampir 2 Ribu Babi Terjangkit Kolera

MEDAN, FaseBerita.ID – Hampir dua ribu, tepatnya 1.985 ekor ternak babi di tujuh kabupaten di Sumatera Utara (Sumut) terjangkit virus hog cholera atau kolera babi. Serangan paling banyak terjadi di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Humbang Hasundutan (Humbahas), dan Dairi. Dalam penangananya, 10 ribu vaksin sudah disiapkan.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut, Mulkan Harahap kemarin. Ia mengatakan, tujuh kabupaten yang terjangkit kolera babi yakni Dairi, Humbahas, Toba Samosir (Tobasa), Taput, Karo, Deliserdang, dan Serdangbedagai (Sergai).

Dijelaskannya, angka tersebut yang masuk hingga kemarin. Namun demikian, dia mengakui datanya belum lengkap.

“Kalau dari Deliserdang dan Sergai, sedikit. Mohon maaf data lengkapnya belum saya dapat,” ujarnya.

Dijelaskannya, pemerintah pusat telah turun tangan dalam penanganan kasus ini.  Pemerintah pusat menyiapkan vaksin sebanyak 10 ribu, pencuci kandang (desinfektan) sebanyak 50 kilogram, dan peralatan kandang di antaranya jarum suntik.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap memastikan, virus hog cholera tidak membahayakan bagi manusia bila daging babi yang terjangkit dikonsumsi.

“Aman, tidak bahaya bagi manusia,” katanya.

Azhar menambahkan, pihaknya dari Provinsi Sumut bersama dari Pemkab telah melakukan pencegahan-pencegahan agar virus hewan berkaki empat itu tidak menyebar lebih meluas lagi.

“Memberdayakan tim kita untuk memeriksa dan membersihkan kandang-kandang hewan tersebut (babi). Kemudian melakukan pengobatan-pengobatan dan vaksinasi, yang mati harus dikubur,” katanya.

Ia menyebutkan, apabila ada hewan berkaki empat itu terkena virus hog cholera, pihaknya akan melakukan isolasi dan pengobatan.

“Tim sudah bergerak ke daerah-daerah yang rawan terjangkit dan apabila ditemukan, hewan itu akan kita isolasi dan diobati,” ucapnya.

Menurutnya, kematian ratusan babi di Kabupaten Dairi, belum lama ini, ternyata belum terpapar virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika. Hal ini diketahui setelah dilakukan penelitian oleh tim gabungan, baik dari pusat, provinsi, maupun kabupaten, pasca mendapat laporan tentang kematian hewan kaki empat tersebut.

“Hasil isolasi sementara kita, kematian mendadak babi tersebut bukan karena ASF, namun akibat penyakit endemik biasa,” kata dia.

Tim turun ke lapangan dan mengambil sampel di Dairi, Humbahas, Deliserdang, Simalungun, Binjai, Batubara, dan Taput. Bahkan sampel babi yang mati mendadak di Dairi, sudah diperiksa di Balai Veteriner lewat laboratorium.

“Dan sampai dengan pemeriksaan terakhir belum dinyatakan ASF. Masih diperlukan tahapan pemeriksaan lebih lanjut. Karena untuk menyatakan ada penyakit baru tidak mudah, ada tahapan-tahapannya,” katanya.

Pihaknya juga telah bekerja sama dengan Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang sudah turun meninjau langsung. Tim itu juga telah melihat langsung hasil laboratoriumnya dan pihaknya sudah menggelar lokakarya di hotel berbintang di Medan sekaligus mengkaji bahaya dari virus ASF tersebut.

“Kegiatan juga diikuti kabupaten terkait yang punya populasi babi dominan di Sumut. Dan hasil labnya belum menyatakan itu (virus ASF) sembari kita menunggu tahapan berikutnya oleh Balai Veteriner,” katanya.

Sembari menunggu hasil tersebut, pihaknya sudah mengeluarkan edaran dan standar operasional prosedur (SOP) sebagai upaya antisipasi penyebaran virus ASF di Sumut. Salah satunya dengan memperketat lalu-lintas area dari wilayah peternakan babi tersebut.

“Apalagi kalau sudah ada yang mati itu, langsung dikubur di situ dan jangan diperjualbelikan atau dibuang di sungai,” katanya.

Penyebab matinya ratusan babi di Dairi secara mendadak, menurutnya disebabkan penyakit endemik yang secara alamiah.

“Namanya hog cholera, penyakit menular pada babi,” katanya. (kdc/int)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button