Berita

Fokus Penanganan KJA di Kawasan Danau Toba Gubsu: Pak Presiden, Bantu Kami

TOBASA, FaseBerita.ID – Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi sangat fokus soal limbah yang mencemari perairan Danau Toba. Terutama soal kerambah jaring apung (KJA), yang sampai kini masih ada di kawasan tersebut. Bahkan, Gubsu sudah meminta bantuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengatasi masalah ini.

“Waktu saya hadir rapat terbatas dengan presiden, masalah KJA ini sudah saya sampaikan. Bagaimana lah Danau Toba mau ramai dikunjungi wisatawan, kalau masih banyak kerambah di sana. Orang ke sana mau datang itukan, cuma mau nengok air,” katanya kepada wartawan, Selasa (23/7/2019).

Karenanya, ia meminta ada peran dari pemerintah pusat untuk membantu penertiban KJA di kawasan Danau Toba. Terlebih Danau Toba merupakan sepuluh dari destinasi pariwisata super priotas yang fokus ditangani pemerintah, untuk dapat menjadi ‘Bali Baru’.

“Ini masalah kami pak presiden. Bantu kami masalah KJA di Danau Toba,” ucap Edy mengulang pernyataannya dalam rapat terbatas pada 15 Juli lalu, yang dihadiri sejumlah gubernur di Indonesia.

Sebelumnya, pada rapat terbatas bersama presiden tersebut, Gubsu menyampaikan ada beberapan isu strategis yang menjadi perhatian Pemprovsu dalam pengembangan kawasan Danau Toba sebagai destinasi wisata prioritas dan super prioritas. Antara lain belum optimalnya kunjungan wisatawan ke kawasan itu.

Menurunnya kualitas lingkungan Danau Toba, diakuinya akibat limbah industri, domestik dan KJA. Belum meratanya kualitas infrastruktur jalan di kawasan Danau Toba, serta kurangnya aksesibilitas/jalan alternatif menuju kawasan tersebut.

Untuk itu, sambung dia, diperlukan strategi pengembangan pariwisata Danau Toba, yaitu optimalisasi penataan infrastruktur, fasilitas sosial dan fasilitas umum, penguatan budaya pendukung pariwisata, keberlangsungan ekologi Danau Toba, peningkatan kualitas lingkungan, pengendalian penduduk, serta prioritas APBD dan peran serta APBN.

Terkait peningkatan infrastruktur, Gubsu juga mengatakan, akan diimplementasikan melalui pembangunan tol Medan–Tebingtinggi–Siantar–Parapat. Pembangunan outer ringroad Samosir, pengembangan Bandara Kualanamu dan Silangit-Sibisa. Pengembangan pelabuhan dan memperlancar rute jalan ke Danau Toba.

Sedangkan untuk fasilitas umum dan sosial, akan dibangun fasilitas ibadah (musala), restoran/kuliner halal, tourism information centre (Tic), toilet bersih (1 buah tiap jarak 5 km), parking area di setiap objek wisata, hotel bintang, serta kios souvenir atau centra UKM.

Pelestarian budaya pendukung pariwisata, kata Edy, akan dilakukan melalui peningkatan pendidikan formal dan nonformal kepariwisataan, pelestarian cagar budaya, penguatan hospitality/pelayanan kepada wisatawan, dan pendidikan guide/pemandu wisata.

Untuk pelestarian lingkungan (ekologi), terangnya, diimplementasikan melalui peningkatan kualitas air danau dengan pengurangan KJA, pengendalian limbah domestik (pemukiman), pengendalian limbah industri, pengendalian sampah dan pengendalian kerusakan hutan.

Selain itu, terkait ketersediaan lapangan kerja akan diutamakan penduduk lokal juga akan dilakukan pemberdayaan peningkatan organisasi kemasyarakatan, bimbingan teknis dan fasilitasi di bidang pariwisata, serta pemberdayaan masyarakat terhadap sadar wisata.

“Pemprov Sumut juga menjadikan strategi pengembangan kawasan Danau Toba dalam pembangunan Sumut melalui prioritas APBD, peranan APBN, CSR dan investor,” pungkasnya.

Pemerintah Subsidi Tarif Bus

Sementara, untuk menjaring wisatawan, pemerintah akan memberikan subsidi untuk layanan transportasi bus menuju pariwisata Danau Toba.

“Kita subsidi untuk kendaraan-kendaraan bus yang nanti akan layani masyarakat termasuk turis ke Danau Toba di beberapa tempat,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi di Jakarta, kemarin.

Nantinya, kata Budi, ada 15 rute bus yang akan dioperasikan Perum Damri menuju destinasi pariwisata Danau Toba.

“Yang menuju Danau Toba totalnya ada 15 rute Damri, nanti penugasannya Damri,” ujar Budi.

Dana yang akan dikeluarkan Ditjen Perhubungan Darat untuk subsidi tersebut yakni sebesar Rp2 miliar dan berlaku selama satu tahun.

“Kita hanya men-support dananya saja. Dananya sekitar Rp2 miliar untuk satu tahun, sedikit,” tutur Budi.

Pada kesempatan yang sama Direktur Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan Chandra Irawan menambahkan, pihaknya juga akan membangun 12 dermaga di Danau Toba hingga 2020. Dermaga itu sebagai akses menuju destinasi wisata tersebut.

Dari 12 dermaga tersebut, di tahun 2019 ini akan diselesaikan dan dioperasikan satu dermaga. Lalu, di tahun 2020 akan rampung lima dermaga baru di kawasan Danau Toba. “Jadi enam yang selesai sampai tahun 2020. Tahun ini satu, tahun depan lima,” imbuh Chandra.

Dana yang dikucurkan dari Ditjen Perhubungan Darat untuk pembangunan 12 dermaga tersebut sekitar Rp262 miliar.

“Sampai tahun 2020 sekitar Rp 262 miliar,” pungkas Chandra.

Grab: Masih Dalam Diskusi

Terkait promisi dan paket wisata Danau Toba di aplikasi Grab, saat ini masih dalam diskusi antara pemerintah dengan manajemen Grab. Namun, pihak Grab mendukung sepenuhnya dan ikut serta memperkenalkan pesona keindahan Danau Terbesar di Asian itu kepada publik.

“Yang saya sampaikan ini, masih dalam diskusi,” ungkap Head Of Area Grab Sumatera, Anindita Rangkuti saat dikonfirmasi di acara Diskusi Fitur Keamanan Bagi Mitra Grab berlangsung di Hotel Santika Medan, Selasa (23/7/2019) siang.

Anindita mengungkapkan, Grab bersama Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan melakukan MoU untuk membicarakan dan bersama-sama untuk memajukan Pariwisata Danau Toba ke depannya.

“Ada Pak Luhut dan Presiden kita dari Grab, MoU untuk sama-sama memajukan dunia pariwisata. Untuk detail masih dalam diskusi kita lah,” jelas Anindita.

Tidak di Danau Toba saja, Grab mengaku ikut berkontribusi untuk perkembangan pariwisata di Tanah Air ini. Dengan meluncurkan jelajah Indonesia untuk mengampanyekan potensi pariwisata Indonesia, yang sudah dilaunching sejak Oktober 2018, lalu. “Ini layanan untuk sewa Grab Car dengan jangka waktu tertentu dari 2 jam, 4 jam dan 6 jam dan 12 jam. Kita memiliki Grab Car Airport yang kita luncurkan di Kualanamu baru-baru ini, langsung 7 airport,” sebut Anindita.

Melalui layanan di platfrom, ia mengatakan, Grab mendukung wisatawan untuk mendapatkan sewa Car dengan harga terjangkau sesuai kebutuhan, termasuk mendukung perjalanan wisatawan untuk mendatangi sejumlah objek wisata yang akan dikunjungi. “Kalau rental, sangat mensuprot tourism-nya, jalan-jalan ke mana akomodasi dan transportasi. Grab Fren, yakni Grab rental. Kita baru rental dan airport yang masih kita suprot, titik utama wisatawan dalam pelayanan,” tuturnya.

Untuk di kawasan Danau Toba, Grab sudah hadir di Kota Pematangsiantar dengan akses menuju Parapat, Kabupaten Simalungun, Balige di Kabupaten Toba Samosri (Tobasa) dan titik utama di Bandara Silangit Internasional Airport, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) dengan akses menuju sejumlah objek wisata di Danau Vulkanik Terbesar di Dunia itu.

“Kita mendukung potensi yang sangat besar itu. Ada 4 prioritas untuk pariwisata Indonesia. Kenapa dibuka titik utama itu. Karena kita mendukung menyediakan fasilitas transportasi bagi tourismnya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan mengatakan Grab dan Gojek ikut serta dalam mempromosikan Danau Toba di Platform transportasi online itu dengan akan menyediakan pelayanan paket wisata di Danau Toba. “Grab dan Gojek juga mau. Jadi mereka bikin paket dua, tiga, empat hari sekaligus menggunakan Platfrom mereka mempromosikan (Danau Toba),” kata Luhut dalam memimpin Rapat Kordinasi (Rakor) Tindaklanjut Pengembangan Destinasi Pariwisata Danau Toba, Senin (22/7/2019) kemarin. (prn/gus/bbs/sp)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button