Berita

Dugaan Penganiayaan Guru SD: Siswi SMA Diserahkan ke Jaksa

TAPTENG, FaseBerita.ID – RWS (18), warga Kecamatan Lumut, Tapanuli Tengah (Tapteng) diserahkan penyidik Polsek Sibabangun bersama barang bukti ke Kejari Sibolga, Rabu (29/1) lalu.

Itu setelah siswi SMA ini ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana penganiayaan terhadap seorang guru sekolah dasar.

Penyerahan sesuai Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) nomor B/02/I/2020/Reskrim yang dikirimkan pihak Polsek Sibabangun kepada korban Rengsi Butarbutar, Kamis (30/1) lalu.

Dalam SP2HP yang ditandatangani Kapolsek Sibabangun Iptu Horas Gurning tersebut, dinyatakan bahwa penyidikan sudah memasuki tahap II (P-22). “Surat perintah penahanan sudah keluar, dengan nomor print-44/N.2.13./Ep.1/01/2020, tertanggal 29 Januari 2020,” ujar Rengsi Butarbutar, Minggu (2/2).

Wanita yang berprofesi sebagai tenaga pendidik di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Lumut ini menegaskan, kasus penganiayaan yang dilakukan oleh siswi salah satu SMA di Kecamatan Sibabangun itu, seyogianya tidak akan berlanjut ke meja hijau, seandainya tersangka memiliki itikad baik untuk meminta maaf.

Jangankan meminta maaf, malah tersangka dan keluarganya menantang korban untuk mengadukan kasus penganiayaan tersebut ke manapun juga.

“Keluarga tersangka sangat arogan. Ayah tersangka mengatakan sampai ke langit pun dilaporkan dia tidak takut. Bukannya meminta maaf, malah menantang,” kesal Rengsi.

“Saya sebenarnya kasihan lihat dia. Apalagi dia itu masih berstatus pelajar. Tapi tantangan mereka itu yang membuat saya harus mengambil langkah hukum,” sambung istri Ketua LSM LIPPAN Tapanuli Tengah ini.

Rengsi mengungkapkan, peristiwa penganiayaan yang dialaminya berawal saat tersangka kepergok memakai sandal milik anaknya yang hilang. Saat itu tersangka lewat dari depan rumah Ayu Lestari Hutagalung, anak korban.

Ayu yang melihat sandal miliknya dipakai tersangka, mempertanyakan hal tersebut. Tersangka malah menyerang balik dengan memaki Ayu Lestari Hutagalung. Tersangka menyebutkan jika keluarga Ayu-lah yang pencuri, sembari mengatakan bahwa sandal tersebut merupakan pembelian orangtuanya.

“Saya jumpai RWS ke rumahnya, setelah anak saya Ayu Lestari melaporkan tuduhan tersangka. Saat saya pertanyakan perihal kalimat dia yang menuduh itu, malah diulanginya lagi dengan mengatakan, ia pencurinya kalian satu rumah,” kata Rengsi menirukan ucapan RWS saat itu.

Sedikit emosi, Rengsi mencoba menampar tersangka. Namun sebelum niat Rengsi terlaksana, tersangka sudah terlebih dahulu memukuli korban hingga mengalami luka lebam pada bagian wajah dan bibir. Walaupun mengalami penganiayaan, korban tidak mau main hakim sendiri. Ia melaporkan kejadian tersebut ke Kepala Lingkungan VII Sihiong, dengan harapan agar diselesaikan secara kekeluargaan.

Hingga keesokak harinya, tersangka tidak datang ke rumah korban untuk meminta maaf. Alhasil, atas kesepakatan keluarga, Rengsi membuat pengaduan resmi ke pihak penegak hukum, dengan laporan polisi nomor LP/25/X/SU/RESTAPTENG/SEKSIBABANGUN.

“Setelah saya melaporkan RWS ke polisi, orangtuanya pernah datang ke rumah memohon maaf. Namun anehnya tersangka tidak dibawa. Inikan bukan itikad baik namanya. Untuk saat ini biarlah hukum yang menyelesaikannya, agar ada efek jera buat tersangka,” tukasnya.

Hingga berita ini dikirimkan, tersangka RWS belum berhasil dikonfirmasi. Namun di salah satu media online, RWS pernah mengatakan jika dirinya tidak pernah menganiaya RB. Namun sebaliknya ialah yang mendapatkan penganiayaan. Akibat peristiwa tersebut siswa SMA kelas 3 ini mengaku sangat trauma. (ztm)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker