Berita

Diduga ‘Mainkan’ Bansos Covid-19, Lurah di Sibolga Dicopot

FaseBerita.ID – Diduga menyelewengkan bantuan sosial (bansos) untuk warga terdampak secara ekonomi akibat Covid-19, Lurah Pancuran Bambu, Sabaruddin Waruwu dicopot dari jabatannya.

Hal ini disampaikan Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk kepada wartawan dalam konferensi pers, Jumat (3/7) di kantor Walikota Sibolga.

“Sesuai dengan musyawarah Binap dan Baperjakat, telah dikeluarkan pemberhentian saudara Sabaruddin Waruwu dari jabatannya sebagai Lurah Pancuran Bambu, dan sebagai Plt Lurah dipercayakan kepada saudara Syamsir Alamsyah Situmeang yang juga menjabat sebagai Camat Sibolga Sambas,” kata Syarfi dalam konferensi pers itu.

Hadir di acara itu, Sekda Kota Sibolga M Yusuf Batubara, Kepala BKD Kota Sibolga Amarullah Gultom, dan Camat Sibolga Sambas Syamsir Alamsyah Situmeang.

Menurut Syarfi, apa yang dilakukan oknum Lurah Pancuran Bambu itu sudah sangat memalukan dan sangat tidak terpuji dengan tidak mematuhi surat edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Sibolga dan Walikota Sibolga.

“Kita sudah mengingatkan seluruh pihak terkait untuk tidak bermain-main dengan bantuan sosial Covid-19. Kemudian juga sudah diingatkan untuk cepat mendistribusikan kepada masyarakat dan tepat sasaran, dengan harapan beban warga bisa terbantu,” tegas Syarfi.

Syarfi mengaku marah dan kecewa dengan ulah oknum lurah dan beberapa ASN yang disinyalir terlibat dengan aksi penyelewengan bantuan Covid-19 itu. “Apapun alasan yang mereka kemukakan tidak bisa kita terima dan kita tolelir, sebab perbuatan yang mereka lakukan sudah mencoreng nama baik Pemerintah Kota Sibolga,” tukas Syarfi.

Menurut Syarfi, bantuan Covid-19 dari Pemerintah Provinsi Sumatera itu sudah hampir dua minggu lalu didistribusikan ke seluruh Kelurahan di Kota Sibolga untuk dibagikan ke masyarakat. “Bahkan laporan yang sampai kepada kami sebahagian besar sudah sampai kepada masyarakat yang menerimanya. Meskipun masih ada beberapa bantuan yang belum tersalurkan dan masih tersimpan di kantor kelurahan, yang belum diambil oleh masyarakat yang berhak menerimanya,” ucap Syarfi.

Jika memang bantuan itu belum diambil oleh warga yang bersangkutan dengan berbagai alasan tertentu, sambung Syarfi, seharusnya oknum lurah bisa berkoordinasi dengan camat atau dengan Gugus Tugas Covid-19.

“Sebab masih banyak warga tentunya yang berharap bantuan itu, atau diberikan kepada warga yang mengalami karantina atau isolasi mandiri. Kita menyesalkan kalaupun betul oknum lurah itu “menjual” bantuan Covid-19 tersebut,” tandasnya seraya berharap kepada seluruh pihak terkait untuk tidak bermain-main dalam hal bantuan Covid-19.

Sebelumnya, oknum Lurah Pancuran Bambu Sabaruddin Waruwu beserta sejumlah stafnya diduga telah “memainkan” bantuan sosial dari Pemprovsu untuk mencari keuntungan. Salah seorang warga Desa Mela, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapteng bernama Sulaiman mengungkapkan, kejadiannya berlangsung sekira pukul 15.00 WIB, di kawasan Panomboman, pada hari Rabu (1/7) lalu.

Menurutnya, saat itu dia melihat ada keramaian warga, dan ternyata di lokasi tersebut ada becak bermotor membawa puluhan kantong bahan makanan berupa beras dan mi instan, yang diduga hendak dijual. “Kutanya, barang ini dari mana? Terus ada yang bilang dari Sambas. Lalu kubuka isinya, ternyata barang bantuan. Kutanya lagi, siapa yang bawa? Tukang becak. Yang mengawal siapa? Ada tadi naik motor, orangnya tinggi-tinggi pakai celana pendek, kalau tak salah itu pegawai kelurahan,” ungkap Sulaiman kepada wartawan, Kamis (2/7).

Tak lama kemudian, lanjutnya, dia pun menelepon temannya, seraya mengikuti becak tersebut sampai ke Pintu Angin. “Tukang becak juga mengakui, barang yang dibawa itu berasal dari kantor kelurahan. Kalau saya mengatakan itu pasti dijual, kenapa saya bilang begitu, karena dari Kota Sibolga dibawa ke Tapteng. Isinya beras, mi instan,” katanya.

Sementara, Ketua LSM Foal Independen Sibolga-Tapteng Imran Steven Pasaribu membenarkan bahwa Sulaiman menghubunginya lewat telepon pada Rabu lalu. Kebetulan, pada Rabu kemarin dia ada urusan ke Kantor Lurah Pancuran Bambu untuk mengurus Surat Izin Keluar Masuk (SIKM). “Saya tak menyangka, bantuan yang bermasalah itu ternyata berasal dari Kelurahan Pancuran Bambu. Saya pun pergi ke Polsek Sibolga Sambas hingga ke Polres Sibolga,” beber Steven.

Malam harinya, sambungnya, dia pun kembali ke Kantor Lurah Pancuran Bambu bermaksud menjemput SIKM, namun petugas dari Polres Sibolga masih berada di sana. “Saya pun bertanya, tetapi petugas bilang, cuma mau menanyakan data masyarakat penerima bantuan,” ujar Steven.

Dia juga mengakui, sebagai warga Kelurahan Pancuran Bambu belum pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah. “Sampai saat ini, saya tidak pernah mendapatkan bantuan. Beberapa kali saya telepon lurah, minta tolong agar dapat bantuan, tetapi katanya sudah habis. Hal itu saya maklumi, kalau masih ada warga yang membutuhkan ya tidak apa,” ungkap Steven.

Dia pun tak menyangka, bantuan di kantor tersebut masih ada, dan rupanya bantuan itu hendak diperjualbelikan.

“Saya sebagai masyarakat sangat menyayangkan kejadian tersebut. Dan saya sebagai Ketua LSM Foal Independen akan terus mengawal, sampai sejauh mana proses hukum yang dilakukan oleh Polres Sibolga,” tegasnya.

Dia pun berharap, Pemko Sibolga jangan menghalangi upaya penyelidikan yang dilakukan Polres Sibolga, karena ini menyangkut masalah nasib orang banyak. “Apalagi, di masa pandemi Covid-19, janganlah dimain-mainkan bantuan ini. Terkait proses penyelidikan ini, kita juga minta Polres Sibolga supaya terbuka kepada masyarakat dan kawan-kawan pers,” ujarnya. (rb)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button