Berita

Desta Mahestri Ginting: Psikolog Muda, Cantik dan Inspiratif

SIANTAR, FaseBerita.ID – Psikolog yang punya nama lengkap Ayunda Rizty Desta Mahestri Ginting ini punya aktivitas yang mengundang kagum. Di usia yang relatif masih muda, ada banyak kegiatan yang dikerjakannya terkait profesi yang dijalaninya.

Selain dosen di Universitas Medan Area (UMA), perempuan yang menyandang gelar Spsi Mpsi CGA ini, juga bekerja di sejumlah lembaga konsultan psikologi, sekaligus trainer di beberapa instansi perusahaan. Ia juga kerap diundang salahsatu stasiun televisi untuk menjadi narasumber.

Meski kesibukannya segudang, perempuan kelahiran Jogjakarta 3 Desember 1988 ini, tetap berusaha menjadikan keluarga sebagai prioritas. Istri dari Boy Iskandar Warongan, Anggota DPRD Kota Pematangsiantar ini, selalu berusaha ada untuk kedua anaknya; Lova dan Lisa.

Desta, panggilan akrabnya, bercerita sekilas tentang ketertarikannya dengan ilmu psikologi. Menurut putri semata wayang pasangan suami istri H K Erizal Ginting dan dr Susanti Dewayani SpA ini, awal menyukai ilmu psikologi saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

Desta kecil yang bersekolah di SD Kemala Bhayangkari Medan menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku milik papanya. Entah itu Ensiklopedia  atau buku yang berkaitan dengan hukum atau ilmu psikologi. Dan, awal ketertarikan lahir dari buku-buku psikologi karya Sigmund Freud, psikolog asal Jerman yang lahir pada tanggal 6 Mei 1856.

“Buku-buku Papa baaanyaaak. Jadi, sedari kecil Desta sudah akrab dengan buku-buku ilmu psikologi. Setelah tamat SMA , Desta daftar ke Universitas Sumatera Utara (USU). Desta pilih Kedokteran dan Psikologi. Alhamdulillah lulus di Psikologi,” ucap alumni SMP Negeri 4 Pematangsiantar ini.

Setelah memasuki dunia kampus, Desta banyak bersentuhan dengan organisasi mahasiswa dan masyarakat. Desta bertemu langsung dengan orang-orang yang berbeda sifat dan karakter. Desta menemui realita hidup di setiap kegiatan kampusnya.

“Hikmahnya di situ. Semester dua, Desta aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Gabung juga di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) anak. Dan, jumpa jodoh di organisasi,” kenang Desta sambil tersenyum malu-malu.

Perkenalan pertama dengan suami, sambung Desta, di acara LSM Anak Yayasan Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP) Medan pada tahun 2010. Saat itu Desta dan suami sama-sama sebagai fasilitator pada acara Jambore Anak se-Sumut di Sibolangit. Jambore itu untuk anak-anak korban marjinal dan (korban) tsunami Aceh.

“Jadi, Desta dan Boy itu, pertama kali jumpa di hutan. Setelah itu hubungan berlanjut hingga akhirnya menikah,” ucap Desta.

Kebiasaan berorganisasi di kampus berlanjut hingga kini. Desta tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kota Medan. Desta juga aktif praktik di beberapa lembaga konsultan psikologi di Medan. Sesuai bidangnya, psikolgi industri, membuat Desta sering bersentuhan dengan psikologi orang banyak.

“Biasanya Desta sering dimintai perusahaan untuk seleksi karyawan yang akan promosi jabatan. Desta pernah menangani seorang karyawan yang mengalami cemas dan takut berlebihan ketika jelang deadline laporan bulanan,” sebut Desta.

“Gejalanya; bolak-balik kamar mandi dan sakit kepala. Itu pertanda stres negatif. Dan harus segera dibenahi sebelum stres berubah menjadi depresi. Penanganan untuk case seperti itu, awalnya dilakukan konseling untuk pendekatan, memperbaiki prilaku dan bila diperlukan dilakukan terapi secara bertahap,” jelas Desta.

Selain stres negatif, lanjut Desta, ada juga stres positif. “Stres positif itu seperti yang Desta alami saat ini. Sebenarnya, Desta ini nervous karena mau menjadi pemateri. Tapi, masih di tahap yang bisa dikendalikan. Stres positif itu jika berlebihan bisa menjadi negatif,” sebut Desta.

Menurut Desta, dari berbagai case yang pernah dilakoninya, case yang paling seru adalah ketika memberikan konseling kepada atlet-atlet Pekan Olahraga Nasional (PON). Saat itu, Desta menangani atlet wushu dan taekwando. “Biasanya yang memicu stres seorang atlet adalah tekanan dari masyarakat, juga pelatih, yang menginginkan hasil maksimal. Jadi, ketika konseling, Desta lebih banyak mendengar keluh kesah mereka. Memotivasu mereka. Lalu melakukan pemetaan potensi mereka masing-masing. Setiap atlet, terapinya beda-beda, karena masalah yang dihadapi juga beda-beda,” papar Desta.

Ilmu psikologi yang diperoleh Desta, tidak hanya berguna bagi karirnya. Dalam hubungan suami istri dan komunikasi dengan kedua buah hatinya, Desta juga menerapkan ilmu psikologi. Sehingga, Desta bisa menganalisa dan memahami karakter pasangan dan anak.

“Ilmu psikologi itu menganalisa kelakuan. Memprediksi kelakuan yang akan datang berdasarkan analisa kelakuan hari ini. Tapi, psikolog juga manusia. Kadang, Desta juga melakukan kesalahan, misalnya agak meninggikan suara kepada anak. Namun, Desta tahu, apa yang Desta lakukan itu salah. Untuk menebus kesalahan harus ada kompensasinya. Habis marahi Lova, biasanya Desta langsung peluk dan minta maaf. Setelah suasana membaik, Desta jelaskan bahwa tadi marah gara-gara ini. Lalu bertanya, bagaimana perasaan Lova dimarahi? Intinya komunikasi. Anak-anak juga perlu diajak dialog untuk mengungkapkan isi hatinya. Begitu juga dengan pasangan,” jelas Desta.

Meski berprofesi sebagai psikolog yang bertugas memberi motivasi, ternyata pada satu titik, Desta juga butuh motivasi, yakni pasca bersalin. Desta sempat mengalami baby blues pasca melahirkan kedua buah hatinya.

“Ternyata, Desta masih manusia. Desta baby blues pasca melahirkan Lova dan Lisa. Ada banyak faktor yang menyebabkan Desta baby blues. Di antaranya, merindukan aktivitas mengajar, aktualisasi diri, dan lainnya. Namun, Desta sadar kondisi ini sudah enggak sehat, harus segera diperbaiki. Untungnya dukungan sosial banyak dan Desta bisa mengendalikan syndrome itu,” kenang Desta dibalut haru.

Dalam menjalani profesinya, ada kepuasaan yang didapat Desta. Yakni ketika klien keluar dari ruang konseling dengan bahagia setelah berkonsultasi dengannya. Tentu saja banyak suka duka yang dialaminya. Namun, Desta belajar tentang hidup dengan mengambil pelajaran dari orang lain. Ini membuatnya lebih banyak bersyukur. (ann)

Melawan Virus Corona   Pascasarjana USI  

Berita lainnya

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close